Desa Sendangagung Minggir

Desa Sendangagung

Hamparan sawah di Desa Sendangagung

Hamparan sawah di Desa Sendangagung

Sawah hijau menghampar terlihat subur membuat damai bagi siapa saja yang melihatnya. Tampak dusun-dusun yang sederhana sebagai tempat tinggal para warga. Terdengar suara nyanyian burung waktu pagi hari turut menyambut datangnya sang fajar. Beberapa petani tampak sumringah memandang tanaman yang subur sebagai penghasil rezeki. Di tengah  keadaan desa yang sederhana, sesekali terdengar suara bunyi mesin kendaraan. Itulah sekelumit tentang keadaan Desa Sendangagung.

Desa Sendangagung terletak di Kecamatan Minggir, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Sekitar 23 Km ke arah barat dari pusat kota Yogyakarta. Desa Sendangagung adalah wilayah paling barat di Kabupaten Sleman. Di sebelah barat terdapat Sungai Progo yang merupakan batas antara wilayah Kabupaten Sleman dengan Kabupaten Kulon Progo.

Kondisi Geografis

Secara geografis kawasan desa Sendangagung terdiri dari persawahan, sungai, ladang, lembah sungai (kisik), tebing sungai, dan pedusunan. Irigasi yang lancar membuat sawah-sawah di daerah Sendangagung menjadi subur. Tidaklah mengherankan kalau daerah Sendangagung termasuk lumbung padi di Daerah Istimewa Yogyakarta. Sendangagung berbatasan dengan dua desa di wilayah Kecamatan Minggir dan berbatasan dengan wilayah kabupaten Kulon Progo. Batas-batas  Desa Sendangagung adalah :
Sebelah utara     : Desa Sendangsari
Sebelah timur     : Desa Sendangmulyo
Sebelah selatan  : Sungai Progo
Sebelah barat     : Sungai Progo

 

Tata Pemerintahan dan Wilayah Desa
Desa Sendangagung dipimpin oleh kepala desa yang dipilih secara langsung oleh warga desa secara demokratis. Untuk menjalankan pemerintahan, kepala desa dibantu oleh beberapa  sekretaris desa (Sekdes), kepala urusan atau sering dikenal dengan sebutan Kaur. Untuk membantu program pembangunan, kepala desa dibantu oleh Badan Pemerintahan Desa (BPD) yang terdiri dari beberapa tokoh masyarakat. Nama kepala desa yang pernah menjabat sebagai kepala pemerintahan di Desa Sendangagung :

  • R. Ng. Radiyan Djojosumarto (1946 – 1976)
  • Suhadi (1976 – 1996)
  • Drs. Hadjib Badawi (1996 – 2015)
  • Raden Heru Prasetya Wibawa, SE (2015 – sekarang)

Pusat pemerintahan berada Jalan Kebonagung sekitar 50 meter dari kantor kecamatan di sebelah utara. Di depan kantor Kepala Desa terdapat lapangan yang berfungsi sebagai tempat olahraga dan upacara bendera setiap tanggal 17 Agustus. Desa Sendangagung mempunyai gedung serbaguna sebagai hadiah Polri atas jasa rakyat Sendangagung kepada kepolisian.

Desa Sendangagung terdiri dari 15 dusun atau padukuhan. Dusun ini diberi urutan nomor yang secara administrasi yang disebut sebagai kring. Setiap dusun dipimpin oleh seorang Kepala Dusun (Kadus). Warga sering menyebut Kadus sebagai Dukuh. Kelima belas dusun yang ada di desa Sendangagung adalah :
Kring 1   : Dusun Kisik
Kring 2   : Dusun Minggir II
Kring 3   : Dusun Minggir III
Kring 4   : Dusun Pojok IV  (terdiri dari Dusun Babadan, Tejo,  dan sebagian Dusun Pojok)
Kring 5   : Dusun Pojok V
Kring 6   : Dusun Watugajah
Kring 7  : Dusun Bontitan (terdiri dari Dusun Bontitan, Kregan, dan Mandungan)
Kring 8 : Dusun Brajan (terdiri dari Dusun Brajan, Saidan, Ngenthak, dan Plombangan)
Kring 9   : Dusun  Kliran
Kring 10 : Dusun  Bekelan (terdiri dari Dusun Bekelan dan sebagian Dusun Kliran)
Kring 11 : Dusun Tengahan XI
Kring 12 : Dusun Tengahan XII
Kring 13 : Dusun Dukuhan (terdiri dari Dusun Dukuhan dan Sawo)
Kring 14 : Dusun Nanggulan
Kring 15 : Dusun Jomboran (terdiri dari Dusun Jomboran, Tegalsari, dan Kisik Jomboran)

 

Keadaan Sosial

Sebagian besar warga desa Sendangagung menganut agama Islam. Selain menganut agama Islam, warga yang lain memeluk agama Katolik, Kristen Jawa, dan ada beberapa warga yang menganut aliran kepercayaan. Keharmonisan antar umat beragama sangat dijaga oleh warga dan aparat pemerintah desa, maka tidak heran hubungan antar umat beragama sangat terpupuk dengan subur. Kepala desa sebagai pemimpin masyarakat menjadi salah satu penggiat kerukunan antar umat beragama. Sebagai kepala desa selalu memberi sambutan bela sungkawa ketika ada salah satu warga yang meninggal. Beliau tidak membeda-bedakan agama yang dianut oleh keluarga yang berbela sungkawa. Hal itulah yang dilihat oleh rakyat sebagai keteladanan untuk menjaga toleransi antar umat beragama. Desa Sendangagung mempunyai beberapa tempat ibadah:

A. Masjid

  1. Masjid An Nuur (Kisik)
  2. Masjid Sa’ad Bin Abi Waqqash (Minggir II)
  3. Masjid Ainul Yaqin (Minggir III)
  4. Masjid Al Karom (Babadan)
  5. Masjid Al Munir (Pojok)
  6. Masjid An Namiroh (Kliran)
  7. Masjid Nur Rahmat (Bekelan)
  8. Masjid Dalil (Tengahan XI)
  9. Al Mutta’alim (Tengahan XII)
  10. Masjid Timoho (Dukuhan)
  11. Masjid Luhur Tunggal (Sawo)
  12. Masjid Sabilul Muttaqin (Nanggulan)
  13. Masjid Al Amin (Jomboran)
  14. Masjid Ali Sholeh Al Mandzur (Mandungan)
  15. Masjid Al Muhajirin (Kregan)
  16. Masjid Al Masriq (Plombangan)
  17. Masjid Al Mustagfirin (Brajan)

B. Gereja Katolik Santo Yohanes Chrisostomus (Pojok)

C. Gereja Kristen :
1.  Gereja Kristen Kerasulan Baru Jomboran (Jomboran)
2. Gereja Kristen Jawa Kebonagung (Pojok)

 

Kegiatan Ekonomi

Sebagian besar mata pencaharian penduduk desa Sendangagung adalah bertani. Selain untuk keperluan makan sehari-hari, masyarakat juga menjual hasil tanaman padi dalam bentuk gabah atau beras sehingga dapat menjadi sumber penghasilan bagi masyarakat. Selain tanaman padi, di wilayah ada beberapa warga yang bercocok tanam mendong. Sendangagung terkenal dengan penghasil mendong yang digunakan untuk membuat tikar, bahkan mengirim hasil mendong ke pengrajin mendong di Kabupaten Tasikmalaya (Jawa Barat) Selain sebagai petani, penduduk bekerja sebagai pengrajin, nelayan, pedagang, pegawai negeri, pegawai swasta, tukang bangunan, dan buruh pabrik

Di Desa Sendangagung terdapat beberapa sentra kerajinan yang berbahan pokok dari bambu, kayu, dan mendong. Kerajinan berbahan dasar bambu terbagi dalam dua kelompok. Kelompok pertama adalah pengrajin bambu tradisional dan kelompok kedua adalah pengrajin bambu kreatif.  Kerajinan bambu tradisional menghasilkan perabot rumah tangga seperti besek, tenggok, tumbu, tambir, tampah, kalo, dan kepang. Kerajinan bambu tradisional ini terdapat di wilayah Kliran, Bekelan, Tengahan, Dukuhan, Saidan, dan Sawo. Pusat pengrajin bambu kreatif menghasilkan berbagai macam hiasan dan pernak-pernik dari bambu. Kerajinan bambu kreatif ini berpusat di Dusun Brajan. Hasil kerajinan bambu dari Brajan ini telah tersebar ke seantero Nusantara bahkan sudah di ekspor ke manca negara.

Sentra kerajinan berbahan kayu adalah parut yang dapat dapat ditemui di wilayah Dusun Pojok dan Bontitan. Parut adalah alat kukur kelapa atau “kambil” yang terbuat dari kayu melinjo yang telah dipotong persegi dengan ukuran 10 cm x 30 cm dan diasah halus. Sebagai mata kukur digunakan potongan kawat halus yang dipotong sekitar 4 mm ditanam sebagian di papan parut.

Kerajinan berbahan mendong berupa tikar sebagai alat untuk alas tidur dan duduk. Tikar oleh masyarakat Sendangagung  disebut dengan “klasa”. Pada tahun 80-an, tikar masih sangat mendominasi alas tidur sehingga pemasarannya cukup mudan. Seiring dengan perkembangan zaman tikar sudah banyak ditinggalkan. Tikar yang diproduksi oleh warga Sendangagung masah tergolong sederhana. Sayang sekali belum ada ide kreatif yang dapat mengubah produk tradisonal menjadi produk bernilai ekonomi tinggi.

Penduduk yang bekerja dibidang jasa biasanya sebagai pegawai di instansi pemerintah dan swasta, tukang bangunan, buruh pabrik, dan pedagang. Warga desa yang berprofesi sebagai pedagang, pada umunya sebagai pedagang kecil dan menengah. Pada umumnya mereka berdagang di Pasar Kebonagung sebagai pusat ekonomi desa. Pedagang yang berkategori sedang pada umunya membuka kios dan toko di dekat pasar, di Jalan Kebonagung, dan Jalan Jembatan Kebonagung.

Pusat kegiatan ekonomi di wilayah Sendangagung adalah Pasar Kebonagung. Di pasar ini tidak hanya warga Sendangagung saja yang berbelanja tetapi warga dari desa lain juga berbelanja di pasar ini. Dengan dibangunnya Jembatan Kebonagung cukup memberi stimulus bagi warga untuk membuka usaha seperti warung makan, bengkel, salon, dan kios-kios yang menyediakan aneka kebutuhan. Namun sayang, sebagian besar orang yang membuka usaha bukanlah warga Sendagagung melainkan warga pendatang.

 

Peninggalan Sejarah

Peninggalan sejarah disinyalir berawal dari kebudayaan Hindu, zaman Kolonial Belanda, zaman pendudukan Jepang, dan zaman perang kemerdekaan. Peninggalan kebudayaan Hindu dapat kita lihat di Dusun Plombangan. Di Dusun Plombangan terdapat patung bercorak Hindu. Namun sungguh sangat disayangkan, patung tersebut sudah hilang tanpa diketahui keberadaannya. Di Dusun Dukuhan terdapat petilasan Ki Ageng Tunggul Wulung yang berupa bangunan cungkup. Ki Ageng Tunggul Wulung yang sebelumnya bernama Senopati Sabdojati Among Rogo. Beliau adalah seorang hulubalang kerajaan Majapahit yang melarikan diri ke arah barat karena surutnya kejayaan Majapahit. Ki Ageng Tunggul akhirnya menetap di sebuah tempat yang sekarang berada di Dusun Beji. Di tempat inilah Ki Ageng Tunggul Wulung mendirikan pesangrahan semacam kerajaan kecil sebagai tempat tinggal bersama pengikutnya. Sedangkan tempat moksa Ki Ageng Tunggul Wulung di bawah pohon timo yang berada di Dusun Dukuhan. Untuk mengenang tempat moksa Ki Ageng Tunggul Wulung maka dibangun sebuah cungkup sebagai tempat petilasan.

Peninggalan zaman Kolonial  Belanda berupa loji, pasar, gedung sekolah, tempat permandian, pabrik, klinik, dan gardu jaga. Peninggalan-peninggalan ini masih ada yang terawat dan ada yang yang sudah hilang tanpa bekas. Bangunan yang masih berdiri adalah Loji Lor dan Loji Kidul, gedung sekolah SD Kebonagung, dan pos jaga di Dusun Bontitan dan Dusun Jomboran.

Peninggalan zaman pendudukan Jepang adalah sebuah gua Jepang yang dikenal dengan “Gua Kendil”. Gua Kendil ini berada di Tejo yang masuk dalam wilayah Dusun Babadan. Menurut penuturan warga, Gua kendil adalah sebagai tempat penyimpanan segala keperluan tentara Jepang.

Peninggalan zaman perang kemerdekaan adalah Monumen Pojok dan Gedung Serba Guna. Monumen Pojok adalah tugu pengingat perang antara Laskar Rakyat yang merupakan warga Sendangagung dengan Belanda. Perang antara Laskar Rakyat dengan Belanda ini terjadi di Dusun Pojok pada tanggal 2 April 1949. Gedung Serbaguna Sendangagung merupakan bangunan hadiah pemberian POLRI atas perjuangan rakyat Sendangagung khususnya rakyat Dusun Nanggulan dalam membantu polisi ketika perang kemerdekaan.

 

Potensi Obyek Wisata

Daerah Sendangagung berpotensi besar untuk dijadikan obyek wisata. Obyek wiata yang berbasis seni dan alam pedesaan. Potensi ini masih menjadi PR besar bagi pemerintah Desa Sendangagung. Potensi ini jika dikembangkan akan mengembangkan taraf ekonomi bagi warganya.

Petilasan Tunggul Wulung sudah banyak dikenal orang, bahkan sampai ibu kota negara. Potensi ini bisa dikembangkan dengan mengadakan kirab untuk acara satu tahunan sebgai magnet penarik pengunjung. Harapannya tidak hanya pengunjung lokal tetapi dari berbagai wilayah di luar Yogjakarta.

Pengembangan desa wisata bisa di kembangkan dari Dusun Brajan. Konsep yang dikembangkan adalah kerajinan bambu sebagai daya tarik bagi para pengunjung. Dengan daya tarik ini diharapkan  banyak yang mengunjungi Desa Sendangagung.

Wisata kuliner dapat dikembangkan mengingat jenis makanan tradisional di desa ini cukup banyak. Sebagai contoh jajanan pasar banyak diminati oleh orang yang berkunjung ke daerah ini. Nuansa alam seperti Sungai Progo dapat dijadikan daya tarik untuk wisata kuliner.

Wisata alam yang dapat dikembangkan adalah aliran Sungai Progo dan lembah di samping Sungai Progo. Aliran sungai dapat dijadikan wahana arung jeram dan lembah sungai bisa dijadikan taman.

Agar potensi wisata ini dapat terwujud maka perlu konsep paket. Potensi wisata tidak bisa dikembangkan secara sendiri-sendiri namun perlu paket dari wisata budaya, kuliner, dan alam. Perlu pemikiran yang cermat dan daya dukung modal yang cukup untuk  mewujudkan wisata di Sendangagung.

 

Budaya Masyarakat

Desa Sendangagung kaya akan ragam budaya baik berupa seni, upacara adat, dan tradisi. Tradisi yang menjadi andalan adalah kirab Tunggul Wulung. Kirab ini biasanya mempersembahkan berbagai hasil bumi dari lapangan Kebonagung sampai makam Kyai Tunggul Wulung yang terletak di Dusun Dukuhan. Selain hasil bumi dalam kirab juga dipentaskan berbagai macam seni yang ada di wilayah Sendangagung.

Tradisi yang masih kuat adalah tradisi Merti Dusun dan tradisi Wiwitan. Tradisi Merti Dusun biasanya melakukan ritual membersihkan makam leluhur dilanjutkan dengan pentas seni. Harapan dari Merti dusun adalah agar hasil panen yang akan datang diberi kelimpahan. Tradisi wiwitan adalah persembahan berupa makanan kepada Tuhan sebelum memetik padi. Tradisi ini sebagai ucapan syukur kepada Tuhan atas panen yang diberikan.

Seni yang ada di wilayah Sendangagung cukup beragam bentuknya. Di daerah ini cukup banyak pelaku seni tradisional. Berikut adalah pelaku seni yang sudah tiada dan masih aktif menggeluti seni sebagai bagian hidupnya.

        1. Mujiyo (Alm) dari Plombangan adalah seorang dagelan kethoprak yang tersohor sampai daerah Kulon Progo. Selain sebagai pelaku seni pekerjaan pokoknya adalah sebagai Pembantu Kabag/Kaur Pemerintahan.
        2. Tugimin (Alm) dari Minggir adalah seorang penari.
        3. Ki Pujo Warsito (Alm) dari Kliran adalah seorang dalang wayang purwo
        4. Senat dari Tengahan adalah seorang pemain kethoprak.
        5. Diyo (Alm) dari Kregan pelaku seni kethoprak
        6. Suradali dari Kregan adalah pemain kethoprak tersohor yang bergabung dengan Kethoprak RRI Nusantara II Yogyakarta.
        7. Widodo Pujo Bintoro dari Kliran adalah seniman serba bisa (tari, kethorak, pengrawit, dan dalang).
        8. Ki Cermomujiyono dari Kliran adalah dalang wayang purwo.
        9. Ki Jasminto dari Kliran adalah dalang wayang purwo.
        10. Sunarman Kadus Minggir III juga seorang pengendang.
        11. Ki Kunanto dari Minggir III seorang dalang wayang purwo.
        12. Ki Satoto dari Minggir III seniman dalang wayang purwo.
        13. Nyi Seneng dari Minggir III adalah pesinden.
        14. Neti Sulandari dari Minggir III seorang waranggana yang menjadi pesinden dalang kondang Ki Seno Nugroho.
        15. Jemirin dari Brajan seorang pengrawit dan wiraswara yang mumpuni.

Adapun kelompok seni yang ada di wilayah Desa Sendangagung meliputi beberapa kesenian. Seni Jathilan merupakan kelompok seni paling banyak terdapat di desa ini. Kelompok kesenian yang ada di Sendangagung  adalah :

      1. Jathilan Jati Kebar (Minggir II)
      2. Jathilan Turangga Lawung (Minggir III)
      3. Jathilan Rampak Kudan (Kliran)
      4. Jathilan Kudho Nyongklang (Kliran)
      5. Jathilan Kudho Pengrawe (Bekelan)
      6. Jathilan Turangga Wulung (Tengahan)
      7. Jathilan Timbul Retno (Nanggulan)
      8. Jathilan Kudho Satriyo (Plombangan)
      9. Kelompok karawitan (Minggir)
      10. Seni Solawatan (Kliran, Brajan, Tengahan, Mandungan)
      11. Seni Slawatan Katolik (Nanggulan, Plombangan, Kliran)
      12. Seni Kuntulan (Brajan)

5 Comments (+add yours?)

  1. dimas anggara
    May 24, 2015 @ 02:17:43

    semakin banyak kerajinan di sendangagung semakin banyak pula kreatifitas yang di kembangkan, sebaiknya jangan pernah berhenti membuat kerajinan-kerajinan

    Reply

  2. wisnu
    Jul 30, 2015 @ 02:23:36

    Nyuwun sewu Mas Moer, mugi-mugi saget katampi koreksi-koreksi kecil meniko….

    Najib Badawi (1995 – sekarang) —> Hadjid Badawi (1996 – sekarang)
    Masjid Tunggal (Sawo)—————-> Masjid Luhur Tunggal (Sawo)
    Gereja Kristen Jawa Jomboran —> Gereja Kerasulan Baru Jomboran
    Mujiyo (Alm) … sekretaris desa. —-> Mujiyo (Alm) … Pembantu Kabag/Kaur Pemerintahan

    ===============================
    salam kenal (utawi nate kenal nggih?)
    wisnu-nanggulan

    Reply

    • moergiyanto
      Jul 31, 2015 @ 09:40:24

      Matur nuwun sanget koreksinipun. Tulisan kula taksih kathah lepatipun amargi namung adedasar pangeling ngeling. Salam kenal ugi. Sepisan malih matur sembah nuwun.

      Reply

  3. Kusuma Dewi
    Nov 02, 2015 @ 05:24:01

    Pak Moergiyanto yang baik,
    Nderek tanglet nopo wonten tulisan/riset tentang slawatan katolik? mohon info. nuwun sanget

    Reply

    • moergiyanto
      Nov 04, 2015 @ 22:39:03

      Menawi badhe mangertos slawatan katolik, kula aturi tanglet Bapak Y.P. Suparno kanthi alamat Dusun Bandan Sendangsari. Bapak Y.P. Suparno menika ingkang nyipta Slawatan Katolik (Slaka). Nuwun.

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: