Liburan Keluarga ke Bali

LIBURAN KELUARGA KE BALI

Pura Ulun Danu

Pura Ulun Danu

Bahagia rasanya bisa berlibur bersama keluarga. Apalagi jika liburan ini ke tujuan yang sangat terkenal sampai ke penghujung dunia. Bali, ya pulau yang terkenal dengan sebutan “Pulau Dewata”. Ada juga yang menyebut “Pulau Seribu Pura”. Namun akhir-akhir ini sebutannya sudah berubah menjadi “Pulau Seribu Hotel”

Kami berangkat dari Bandara Sukarno Hatta tepat hari Senin, 22 Desember 2014. Pesawat yang kami pilih untuk mengantar ke Bali adalah Pesawat Garuda. Tidak menyesal kami memilih Pesawat Garuda. Fasilitasnya sungguh sangat mewah dan pesawatnya besar. Sekitar pukul 12.00 WITA kami sampai di Bandara Ngurah Rai. Pak Siswanto sebagai tour guide sudah siap sedia  di pintu kedatangan. Tangan yang terampil segera membawa tas yang kami bawa. Sambutan yang ramah mengajak untuk segera naik ke mobilnya. Mobil melaju pelan di tengah keheningan malam Pulau Bali. Tanpa terasa mobil sudah sampai di depan Hotel Grandmas. Hotel tempat kedua anakku untuk pertama kalinya menginap di hotel. Mengingat besok akan melakukan kegiatan yang padat, segera kami merebahkan diri untuk istirahat.

Suasana Hotel Grandmas

Suasana Hotel Grandmas

Hari Pertama (Selasa, 23 Desember 2014)

Hari pertama kami bangun pagi-pagi meskipun semalam tidur sekitar pukul 01.00. Setelah mandi dan bersiap-siap, kami turun ke lobby hotel untuk sarapan pagi. Makanan yang dihidangkan cukup sederhana, namun dari segi rasa dan kebersihan tidak mengecewakan. Perut sudah terasa kenyang, kami segera menunggu tour guide di depan hotel.

Hotel  Granmas terletak di jalan raya Kuta, sebuah tempat yang sangat strategis. Tidak jauh  dari hotel terdapat tempat penjualan souvenir Joger. Hotelnya sederhana, namun bersih dan nyaman untuk suasana liburan. Orang akan terkesan dengan keberadaan kamar dan pelayanannya.

Keluar dari lobby ternyata Pak Siswanto sudah siap mengantar kami untuk berkeliling Bali. Tempat yang kami kunjungi di hari pertama adalah Tanjung Benoa. Merasa cukup puas di Tanjung Benoa, perjalanan diteruskan dengan menikmati pantai di daerah Nusa Dua. Di pantai Nusa Dua kami hanya berfoto-foto di sekitar pantai. Maklum tengah hari, jadi terik matahari cukup menyengat tubuh.

Pantai Nusa Dua

Pantai Nusa Dua

Puas jalan-jalan di pantai Nusa Dua, perut sudah menanti untuk diisi. Pak Siswanto mengantar kami ke rumah makan khas Bali.  Rumah makan Pak Dobiel yang cukup dikenal bagi para wisatawan. Menu khas Bali dengan nasi lawar dan sop babi. Wow.. lezat sekali.  Jika searching di internet, warung Pak Dobiel akan mudah ditemukan.

Puas dengan makan siang perjalanan berikutnya adalah Pantai Pandawa. Sebuah pantai yang sangat bersih dan alami. Perlu diketahui, Pantai Pandawa dibangun secara swadaya oleh masyarkat setempat. Sebuah kearifan lokal untuk mengembangkan ekonomi rakyat secara mandiri dan tidak bergantung pada pemilik modal. Sesuai dengan namanya, di Pantai Pandawa terdapat patung lima tokoh pandawa, yaitu Darmawangsa (Yudistira), Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa. Namun sayang patung Sadewa belum terpasang karena belum selesai pengerjaannya. Patung diletakkan di gua yang semakin menambah daya tarik keindahan pantai.

Pantai Pandawa

Pantai Pandawa

Tempat lain yang kami kunjungi adalah  Pantai Padang-padang atau lebih dikenal dengan Dreamland. Eksotik dan mempesona, tempat ini merupakan surga bagi peselancar. Yang tidak kalah menarik untuk sampai tempat ini harus melewati jalan sempit di antara tebing bebatuan. Di pantai ini kedua anakku puas bermain ombak. Di samping bermain ombak, kedua anakku menyusuri  bongkahan batu yang menyebar di bibir pantai.

Dreamland

Dreamland

Meninggalkan Dreamland perjalanan di lanjutkan ke Pura Ulu Watu. Sebuah tempat sembahyang yang dianggap sakral bagi penduduk Bali. Pura ini khas dengan monyetnya. Para pengunjung diwajibkan untuk melepaskan kacamata. Kalau masih nekat memakai kacamata maka monyet-monyet itu akan merebutnya. Para penjaga pura yang bisa mengambil kembali barang yang direbut oleh monyet. Pura Ulu Watu terletak di penghujung selatan Pulau Bali dan berhadapan langsung dengan Samudera Hindia.

Ulu Watu

Ulu Watu

Rasanya tak ingin meninggalkan Ulu Watu, namun waktu sudah beranjak sore. Hari itu Pak Siswanto mengajak kami makan malam di tempat yang sangat terkenal di Bali. Jimbaran, sebuah tempat makan beratap langit di tepi pantai dengan diiringi deburan ombak yang menambah suasana semakin berkesan. Menu ikan bakar dan minuman es kelapa muda menambah rasa syukur kepada Tuhan atas nikmat yang kami rasakan pada hari ini.

Makan malam di Jimbaran sambil menikmati sunset

Makan malam di Jimbaran sambil menikmati sunset

Syukur yang tiada terkira dengan menu makan yang sungguh istimewa dan di tempat yang luar biasa. Tak terasa senja telah lewat dengan kenangan yang tak terlupakan. Hari ini sungguh sangat berkesan. Kami kembali ke hotel untuk beristirahat dan mempersiapkan diri untuk hari berikutnya.

Hari kedua (Rabu, 24 Desember 2013)

Suasana pagi membangunkan kami. Segera bergegas untuk mandi dan menikmati sarapan pagi di hotel. Sarapan pagi sebagai penambah energi untuk aktivitas hari ini. Selesai sarapan kami berkemas barang-barang. Hari ini kami akan pindah hotel. Sebelum penjelajahan hari kedua, Pak Siswanto mengantar kami ke Hotel Tusita untuk menitipkan barang.

Tas dan barang sudah kami titipkan di hotel, maka kami siap memanjakan mata untuk menikmati Pulau Dewata. Tempat yang kami kunjungi adalah Pura Tanah Lot. Sayang sekali hari ini keadaan laut sedang pasang naik. Kami tidak bisa mendekat ke Tanah Lot. Waktu kami gunakan untuk mengabadikan kenangan di Tanah Lot dengan berfoto ria. Tak lupa jagung bakar manis dan pedas kami beli dari pedagang di sekitar pura.

Tanah Lot

Tanah Lot

Meninggalkan Tanah Lot, perjalanan dilanjutkan ke Pura Ulun Danu. Perjalanan cukup panjang sekitar dua jam. sebelum sampai di Pura Ulun Danu, kami singgah untuk santap siang di Restoran Pacung. Restoran dengan pemandangan pegunungan yang mempesona. Kenikmatan makanan bertambah ketika menyantap makanan sambil memandang panorama pegunungan nan elok.

Pura Ulun Danu sangat terkenal di Bali. Pura inilah yang terdapat pada uang kertas Rp 50.000,00. Namun sayang, belum puas rasanya menikmati Pura di tepi Danau Berantan gerimis mulai turun. Kami segera ke mobil dan melanjutkan perjalanan kembali ke daerah Kuta.

Pura Ulun Danu

Pura Ulun Danu

Sampai di daerah Kuta, tidak lengkap rasanya ke Bali kalau tidak mampir ke Joger. kami beli kaos sebagai oleh-oleh untuk keluarga di Jogja. Keluar dari  Joger, langsung ke warung nasi pedas khas Kuta untuk makan malam. Makanan yang cukup murah namun sangat berkesan bagi Ari anak pertamaku. Jika mendengar nasi pedas, Ari selalu teringat nasi pedas di Kuta.

Malam itu kami ke Hotel Tusita yang terletak di Jalan Kartika Plaza. Hotel ini kami pilih karena terletak dekat di Gereja Santo Fransiskus Xaverius. Dari hotel cukup jalan kaki menuju ke gereja. Hari ini kami akan misa malam Natal pada pukul 10.00 WITA. Bersyukur rasanya bisa mengikuti misa Natal di Pulau Dewata. Syukur kami panjatkan pada Tuhan atas semua kelimpahannya. Selesai misa dan mengirim ucapan lewat SMS kami segera istirahat. Selamat malam dan selamat Natal aku ucapkan kepada kedua anakku dan istriku.

Hari Ketiga (Kamis, 25 Desember 2015)

Pagi-pagi  HP berdering penuh dengan SMS  ucapan Natal. Saya membalas satu per satu ucapan Natal. Kedua anakku sudah siap dengan baju renang. Aku antar anakku ke kolam renang yang terletak di tingkat paling atas. Bahagia rasanya bisa melihat kebahagiaan kedua buah hatiku.

Menikmati Kolam renang Hotel Tisuta di pagi hari

Menikmati kolam renang Hotel Tusita di pagi hari

Selesai mandi, sarapan, dan beres-beres kami segera check out dari hotel. Kami menuju pusat oleh-oleh Krisna. Di tempat perbelanjaan tersebut kami membeli beberapa makanan khas Bali dan kaos barong. Oleh-oleh yang dibeli terasa cukup kami lanjutkan ke Museum Perjuangan Rakyat Bali. Bagi orang lain, museum merupakan tempat yang tidak menarik. Lain bagi anak saya, museum merupakan tempat yang sangat mengasyikkan. Kedua anakku sangat menyukai sejarah dan benda-benda peninggalan masa lampau.

Berkunjung ke Museum Perjuangan Rakyat Bali

Berkunjung ke Museum Perjuangan Rakyat Bali

Merasa senang melihat diorama dan benda-benda di museum, kami segera menuju Warung Liku untuk makan siang. Warung Liku terletak di gang sempit. Meskipun terletak di gang sempit namun tempat ini sangat dikenal oleh para wisatawan. Ayam betutu adalah menu andalannya. Tempat ini juga menyediakan bungkusan ayam betutu masakan khas Bali. Kami membawa satu bungkus ayam betutu untuk oleh-oleh.

Sebelum meninggalkan Bali, waktu kami habiskan untuk menikmati pantai di daerah Kuta. Duduk santai sambil memandangi laut sebelum meninggalkan pulau yang katanya termasyur sampai ke manca negara. Pukul 16.00 WITA kami menuju ke Bandara Ngurah Rai. Sampai di Ngurah Rai kami berpamitan kepada Pak Siswanto yang sudah setia mengantar kami. Kami segera menuju Yogyakarta, anakku sudah tidak sabar untuk berkunjung ke rumah Eyang Putri dan Simbah Putri  di Jogja dengan membawa sejuta cerita. Terima kasih Tuhan atas kenikmatan yang Engkau anugerahkan dalam liburan Natal tahun 2014. Terima kasih Bali. Terima kasih Pak Siswanto.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: