Tujuh Fakta Tentang Desa Sendangagung, Minggir

TUJUH FAKTA TENTANG DESA SENDANGAGUNG, MINGGIR

Desa Sendangagung

Desa Sendangagung

Desa Sendangagung adalah sebuah desa yang terletak di pinggiran Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Desa yang masih asri dengan tanaman padi yang tampak menghampar dan dusun-dusun yang kelihatan hijau. Dengan hamparan sawah nan luas, tidak salah kalau Desa Sendangagung termasuk lumbung padi di wilayah Yogyakarta. Desa ini memiliki tujuh fakta yang menjadi catatan bagi warga Desa Sendangagung untuk dikenang, terutama bagi warga yang merantau ke daerah lain. Berikut ini adalah tujuh fakta tentang Desa Sendangagung.

1. Nama Kebonagung lebih terkenal dari Sendangagung.

Nama Kebonagung lebih dikenal daripada nama Sendangagung, hal ini terbukti nama Kebonagung dipakai untuk nama jalan dari Terminal Jombor sampai Lapangan Kebonagung. Bukti yang lain, jika warga Sendangagung sedang pergi ke daerah lain, maka warga tersebut akan mengaku dari daerah Kebonagung, bukan dari Desa Sendangagung. Tidak mengherankan juga jika tempat umum di desa ini menggunakan nama Kebonagung daripada nama Sendangagung, contohnya Lapangan Kebonagung, Pasar Kebonagung, dan Jembatan Kebonagung.

2. Memiliki Beberapa Peninggalan Sejarah

Peninggalan sejarah disinyalir berawal dari kebudayaan Hindu, zaman Kolonial Belanda, zaman pendudukan Jepang, dan zaman perang kemerdekaan. Peninggalan kebudayaan Hindu dapat kita lihat di Dusun Mbeji yang merupakan perbatasan Desa Sendangagung dan Desa Sendangmulyo. Di Dusun Mbeji terdapat patung dan sendang. Menurut cerita turun-temurun, Di Dusun Mbeji ini dahulunya adalah pesanggrahan Ki Ageng Tunggul Wulung yang sebelumnya bernama Senopati Sabdojati Among Rogo. Beliau adalah seorang hulubalang kerajaan Majapahit yang melarikan diri ke arah barat karena surutnya kejayaan Majapahit. Ki Ageng Tunggul akhirnya menetap di sebuah tempat yang sekarang berada di Dusun Mbeji. Di tempat inilah Ki Ageng Tunggul Wulung mendirikan pesangrahan semacam kerajaan kecil sebagai tempat tinggal bersama pengikutnya. Peninggalam Pesangrahan Ki Ageng Tunggul Wulung kini tinggal patung yang sudah dalam kondisi memprihatinkan dan sendang yang dikenal dengan “Sendang Mbeji”.

Peninggalan zaman Kolonial  Belanda berupa loji, pasar, gedung sekolah, tempat permandian, pabrik, klinik, dan gardu jaga. Peninggalan-peninggalan ini masih ada yang terawat dan ada yang yang sudah hilang tanpa bekas. Bangunan yang masih berdiri adalah Loji Lor dan Loji Kidul, gedung sekolah SD Kebonagung, dan pos jaga di Dusun Bontitan dan Dusun Jomboran.

Peninggalan zaman pendudukan Jepang adalah sebuah gua Jepang yang dikenal dengan “Gua Kendil”. Gua Kendil ini berada di Tejo yang masuk dalam wilayah Dusun Babadan. Menurut penuturan warga, Gua kendil adalah sebagai tempat penyimpanan segala keperluan tentara Jepang.

Peninggalan zaman perang kemerdekaan adalah Monumen Pojok dan Gedung Serba Guna. Monumen Pojok adalah tugu pengingat perang antara Laskar Rakyat yang merupakan warga Sendangagung dengan Belanda. Perang antara Laskar Rakyat dengan Belanda ini terjadi di Dusun Pojok pada tanggal 2 April 1949. Gedung Serba Guna Sendangagung merupakan bangunan hadiah pemberian POLRI atas perjuangan rakyat Sendangagung khususnya rakyat Dusun Nanggulan dalam membantu Polisi dalam perang kemerdekaan.

3. Mitos Pemilihan Lurah (Kepala Desa)

Menurut mitos yang berkembang di daerah Sendangagung, Lurah atau Kepala Desa selalu dijabat oleh orang yang rumahnya selalu berada di sebelah utara gedung kelurahan Sendagagung. Kepala desa yang menjabat dan pernah menjabat di desa Sendangagung memang letak rumahnya berada di sebelah utara gedung kelurahan Sendagagung. Jika ada pemilihan Kepala Desa dan pesertanya berasal dari sebelah selatan gedung kelurahan Sendagagung, menurut mitos warga maka tidak akan terpilih sebagai Kepala Desa.

4. Trafo Listrik yang  Sering Meledak.

Di Desa Sendagagung terdapat tiang litrik yang ada trafo peninggi tegangan. Tiang listrik ini tepatnya berada di pinggir sebelah timur lapangan Kebonagung atau persis di depan Balai Desa Sendangagung. Konon di tempat ini dulunya tumbuh pohon beringin yang besar. Keanehannya adalah trafo yang ada di tiang listrik tersebut sering sekali meledak tanpa sebab yang jelas. Pegawai PLN sendiri bingung dengan keadaan ini ini karena PLN sendiri tidak menemukan penyebab meledaknya trafo.

5. Pagi untuk Dagang Ayam, Siang Kantor Kecamatan

Di depan kantor Kecamatan Minggir, ada aktifitas yang sudah dikenal oleh warga desa Sendangagung. Perdagangan ayam kampung selalu dilakukan di depan kantor kecamatan bukan dilakukan di pasar yang cukup memadai. Jika warga ingin membeli atau menjual ayam selalu  menyebut ” Wetan Kecamatan”. Kegiatan tersebut dilakukan pagi subuh dan ketika siang kegiatan tersebut sudah tidak ada. Kegiatan jual beli di depan kantor kecamatan ini tidak mengganggu kebersihan dan kegiatan di kantor kecamatan. Orang tidak mengira bahwa di gerbang kecamatan, paginya untuk perdagangan ayam.

Suasana jual beli ayam di depan Kantor Kecamatan Minggir.

Suasana jual beli ayam di depan Kantor Kecamatan Minggir.

6. Nama Kecamatan Minggir Berasal dari Salah Satu Nama Dusun di Sendangagung.

Nama kecamatan Minggir berasal dari salah satu nama dusun di wilayah Desa Sendangagung yaitu Dusun Minggir. Anehnya mengapa nama Minggir dipakai untuk nama kecamatan, bukan nama Kebonagung yang sudah terkenal sejak zaman Belanda yang dipakai sebagai nama kecamatan. Lebih aneh lagi, nama kecamatannya adalah Kecamatan Minggir tetapi  letak kantor camat berada di Dusun Pojok bukan berada di Dusun Minggir.

7. Mendong 

Mendong adalah tanaman khas yang ada di Desa Sendangagung. Tanaman ini banyak dibudidayakan oleh warga  di Dusun Minggir II.  Tanaman ini menjadi ciri khas di wilayah Kecamatan Minggir. Dikarenakan mendong banyak di daerah Sendangagung maka banyak warga yang membuat anyaman tikar dari mendong.

31 Comments (+add yours?)

  1. noer1976
    Mar 03, 2014 @ 09:10:11

    salam kenal, ini saya manggilnya mas atau pak ini? blog anda ini sangat menarik sekali, saya perlu belajar dari anda, sepertinya anda sangat membanggakan kampung halaman anda!
    salam ..

    Reply

    • moergiyanto
      Mar 04, 2014 @ 13:29:25

      Salam kenal mas noer. Jane awake dewe ki tonggo deso. Jenengan Baran aku cah Kliran. Nek ora kleru Jenengan nyambut gawe nang Bandung, Nggih. Rasah nyeluk aku mas utawa Pak. Sebut wae dab utawa lik. Salam, semoga selalu mendapat perlindungan dari Sang Maha Pencipta.

      Reply

  2. Ahmad Said
    Aug 19, 2014 @ 13:47:39

    menarik tulisan masee nih…jogja memang penuh cerita yg menarik…walaupun saya org jabar….suka sekali dgn keramahan masarakat jogja….skg saya tinggal di semarang…..jauuuh sekali pemandangan jogja dan semarang….antara panas dan dingin……terutama di daerah sleman….

    Reply

  3. Ahmad Said
    Aug 19, 2014 @ 13:51:58

    menarik tulisan masee nih…jogja memang penuh cerita yg menarik…walaupun saya org jabar….suka sekali dgn keramahan masarakat jogja….skg saya tinggal di semarang…..jauuuh sekali pemandangan jogja dan semarang….antara panas dan dingin……terutama di daerah sleman….suasana jogja dan sekitarnya lebih menarik…belum semua tempat2 sakral saya datangi….

    Reply

  4. yoyok harsoyo
    Oct 15, 2014 @ 15:33:49

    jan mantab tenan mas, kulo asli jomboran… sak niki teng kalimantan tengah, pas aku cilik biyen neh dolanan neng gerdu lor deso jomboran, pas moco artikel e panjenengan kulo nembe ngerti neh gerdu niku asli ne pos jogo tentara londo… matur suwun mas….

    Reply

    • moergiyanto
      Oct 17, 2014 @ 11:27:36

      Sami-sami mas, kulo nulis blog menika kanthi tujuan mugi-mugi para warga Sendangagung saged maos supados kangge tamba kangen tanah kelahiran. Mugi-mugi mas Yoyok Harsoyo tansah manggih keslametan saha karaharjan wonten tanah rantau Kalimantan Tengah. Kulo sak menika manggen wonten Tangerang Selatan, Banten. Rencang kulo saking Jomboran inggih meniko Titik Marlina, Sutiyono, Yuli Suswati, Karti (Galsari)
      Menawi badhe nonton foto gardu lor jomboran kula aturi bikak blog kula kanthi judul catatan sejarah. Utawi menawi kangen kaliyan kebonagung kula aturi gabung kaliyan facebool https://www.facebook.com/groups/267185366776444/ Urun rembuk.
      Matur nuwun

      Salam Kenal
      moergiyanto

      Reply

  5. toto
    Aug 16, 2015 @ 12:46:20

    Ak seneng mbuka blog iki . . keno kanggo tombo kangen, . .ak ndisik tau manggon ng Pojok ngarep SMP sanjaya,, salam nggo konco2 Pojok

    Reply

  6. Klemez
    Aug 25, 2015 @ 03:02:18

    Dadi kangen suasana mbonagunh,perkenalkan kulo rmhe minggir 3.sakniki ten cirebon.maturnuwun n salam kenal

    Reply

  7. Anton Suparnjo
    Oct 04, 2015 @ 15:45:03

    Terima kasih, salut atas penulisan tentang Minggir. Saya sli Pojok V, Sendangagung> sy pernah bertemu dg seorang ahli sejarah, dia bilang, kalau lihat nama dhusun dan kecamatan, terutama Pojok, Minggir, besar kemungkinan wilayah Minggir dihuni orang Kalang, sekelompok masyarakat jaman awal Mataram, yang tidak diperkenankan ambil bagian dalam birokrasi, tetapi di dlam masyarakat Kalang diawasi orang non Kalang. Kalau di Minggir dulu hampir semua Keluarahan ada sekelompok “priyayi” dengan sebutan den atau den bei. kemungkinan mereka orang-orang non Kalang. Ini sekedar masukan sekelumit, mungkin bisa ditindaklanjuti. Salam jabat erat sahabat.

    Reply

  8. prapto
    Mar 19, 2016 @ 08:16:07

    Saya meninggalkan dusun Pojok IV hampir 31 tahun. Domisili sy memang tidak jauh dr Sendang Agung. Dengan wktu perjalanan 1,5 jm bisa sampai di kampung halaman. Sy sekarang tinggal di Purworejo. Secara iseng-iseng sy ketik , ‘sendang agung sleman jaman belanda’ menumukan tulisan Mas Moer. Rasanya senang dan bangga terhadap kampung halaman. Mas Moer tolong ditambah keunikan Kobon Agung yg lain sehingga menjadi daya tarik bg wisatawan domestik maupun wisman. Mitos bahwa lurah Sendang Agung berasal dari sebelah utara balai desa sudah terpatahkan tahun tahun 2015. Kepala Desa/Lurah yg saat ini berasal dr sebelah selatan balai desa. Sy tertarik mencari tulisan tentang Sendang Agung seiring rencana penulisan sejarah Sendang Agung oleh Tim Sejarah baik warga yg ada di kampung halaman maupun di perantauan. Jaya dan maju Sendang Agung.

    Reply

    • moergiyanto
      Mar 21, 2016 @ 06:28:56

      Matur nuwun Pak Prapto sudah menyempatkan membaca tulisan saya. Memang benar mitos lurah sudah terpatahkan. Semoga Tim Sejarah Sendangagung dapat menemukan alur sejarah yang dapat menjadi acuan anak cucu. matur nuwun.

      Reply

  9. Dhian Rohmana
    Apr 25, 2016 @ 07:52:04

    Tombo kangen, nambah wawasan, rumongso kurang mengetahui sejarah tanah kelahiran. Matur nuwun.
    Watugajah

    Reply

  10. Mbah Kiyat
    Jun 03, 2016 @ 01:43:37

    Pokoke Gumregah tandang karya. Bukti nyata mas Moergiyanto wis junjung duwur Sendangagung sarana tulisan. Sugeng pinanggih benjang 9-10 Juli 2016 wonten tanah kelahiran.
    SALAM GUMREGAH

    Reply

  11. poelf
    Jun 30, 2016 @ 15:57:00

    Ho’o po…… ooo

    Reply

  12. @gagah
    Jul 14, 2016 @ 08:49:31

    Matur Nuwun Beritane Kula nepangaken Sapari tengahan

    Reply

  13. deta
    Nov 08, 2016 @ 16:05:23

    Membaca artikel ini saya sangat bangga sekali jdi mengingatkan masa kecil saya dulu waktu tinggal dikampung teristimwa di desa bekelan sungguh menjadi kebanggaan tersendiri pernah lahir dan menjdi tumbuh besar sampai sekarang saya bisa menetap dibogor karena perjuangan dari 0 karena begitu susahnya masa kecil saya…sekarang Puji Tuhan sudah lmyan bsa membanggakan orangtua dkampung menjadi terutama ibuku… I love you mam…n bapaku yang sudah bahagia disurga maturnuwun ibu lan bapak kulo sampun saged…baggaaken kaliyan sedaya

    Reply

  14. Darman
    Nov 09, 2016 @ 01:30:56

    Matur nuwun tentang berita kampung halaman Kebonagung mas…sudah 27 tahun saya keluar dari mBonagung dan tinggal di Bekasi…ndherek pitepangan kula Darman asli ds.Saidan….suwun mas

    Reply

  15. Endar
    Nov 09, 2016 @ 02:29:36

    Semoga selalu jaya,tanah kelahirannya,skrg mengadu nasib di kota org lain,

    Reply

  16. M Sukardi Siratmaja
    Nov 10, 2016 @ 00:43:00

    jos mas guru,,,,,

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: