Sendang Penjalin

SENDANG PENJALIN (NJALIN)

Sendang Penjalin

Sendang Penjalin

Sendang Penjalin atau masyarakat sekitar sering menyebut Sendang Njalin terletak di Dusun Jonggrangan, Sendangrejo, Minggir, Sleman, D.I. Yogyakarta. Untuk sampai ke tempat ini bisa masuk lewat perempatan Balangan ke arah barat dan menyusuri jalan di samping selokan. Tempatnya terpencil berada di penghujung dusun. Tak jauh dari sendang terdapat sawah yang menghampar dan di sebelah barat sendang terdapat aliran sungai Progo. Di samping sendang terdapat selokan Van Der Wijck yang dibangun ketika pendudukan kolonial Belanda di daerah Minggir.

Asal-usul nama Sendang Penjalin.

Menurut legenda yang berkembang di masyarakat sekitar sedang ada tiga versi terjadinya Sendang Penjalin. Versi pertama dikisahkan bahwa daerah ini dulunya berupa hutan yang ditumbuhi rotan (penjalin). Hutan rotan terjadi karena ada seorang yang sangat sakti bernama Kyai Modang yang menggembara sampai di daerah ini. Dalam pengembaraannya, Kyai Modang mencari sumber mata air yang dapat diminum untuk melepas kedahagaannya. Kemudian Kyai Modang menancapkan tongkatnya yang terbuat dari rotan dan keluarlah sumber mata air yang sangat banyak mengeluarkan air. Karena sendang atau sumber air terjadi karena berasal dari tancapan rotan atau orang jawa menyebutnya penjalin maka sendang tersebut diberi nama Sendang Penjalin.

Versi kedua mengisahkan bahwa Sendang Penjalin terjadi karena suatu ketika perjalanan Sunan Kalijaga sampai di tempat ini. Pada saat mau berwudhu tidak ada air. Maka Sunan Kalijaga menancapkan tongkat yang terbuat dari rotan (penjalin) dan keluarlah air yang melimpah dari bekas tancapan penjalin. Oleh karena itu sumber air atau sendang diberi nama Sendang Penjalin.

Versi ketiga menyebutkan bahwa dulu ada seorang raja yang bernama Sunan Katong mengembara sampai tempat ini.  Sunan Katong adalah raja yang masih berkerabat dengan raja-raja di Demak. Rupanya perjalanan Sunan Katong dicegat oleh para begal dan kecu. Terjadilah perkelahian antara pengikut Sunan Katong dengan para begal. Senjata Sunan Katong berupa cambuk yang terbuat dari jalinan penjalin dapat direbut oleh para begal dan dibuang dekat dengan sebuah mata air. Rotan yang dibuang tumbuh dan berkembang biak menjadi sebuah hutan rotan atau penjalin. Maka sumber mata air di dekat hutan rotan tersebut dinamakan Sendang Penjalin.

Kondisi Fisik Sendang Penjalin.

Mata air atau sendang dibuatkan bangunan atau disebut dengan cungkup.  Kompleks sendang juga dilengkapi dengan pembagian ruang yang digunakan untuk cuci dan mandi. Cungkup yang dibuat setengah tembok dan setengah kayu ini memiliki ukuran sekitar 4 m x 6 m. Di sekitar cungkup ditumbuhi beberapa tumbuhan yang terdiri dari pohon beringin, bulu, dan preh yang usianya sudah cukup tua. Keadaan cungkup sekarang sudah rusak dan atap dalam keadaan yang memprihatinkan. Pemerintah setempat kurang memperhatikan dan merawat keberadaan Sendang Penjalin.

Kondisi  cungkup Sendang Penjalin yang sudah rusak.

Kondisi cungkup Sendang Penjalin yang sudah rusak.

Keberadaan Sendang bagi masyarakat sekitar.

Air sendang bisa dimanfaatkan sebagai sumber air untuk keperluan hidup dan dapat digunakan untuk mandi. Tempat ini juga dikunjungi peziarah untuk meminta berkah di tempat ini. Dulu setiap malem selikuran pada waktu bulan Puasa banyak dikunjungi oleh para peziarah untuk mendapatkan berkah agar dalam menjalani hidup mendapatkan rejeki dan kesehatan yang berkelimpahan.

Selokan Van der Wijck yang berada di dekat Sendang Penjalin.

Selokan Van der Wijck yang berada di dekat Sendang Penjalin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: