Desa Sukakarya

DESA SUKAKARYA

Desa yang begitu asri jika dinikmati dari kejauhan. Sawah-sawah yang menghijau tampak subur seolah bergembira riang menyambut datangnya sang mentari. Kolam-kolam besar tak mau kalah menyelinap di antara sawah-sawah yang tak mau ketinggalan memanjakan ikan-ikan tawar yang ikut juga meramaikan  keasrian Desa Sukakarya.

Desa Sukakarya termasuk dalam wilayah Kecamatan Suku Tengah Lakitan  Ulu Terawas, Kabupaten Musi Rawas, Provinsi Sumatera Selatan. Sekitar 250 Km dari kota Palembang sebagai ibukota provinsi. Kota yang paling dekat dengan Desa Sukakarya adalah kota Lubuk Linggau. Untuk menjangkau tempat ini bisa melewati kota Lubuk Linggau sebagai jalur utama jalan lintas Sumatera.

Desa Sukakarya yang dilatarbelakangi bukit yang semakin memperindah panorama desa.

Desa Sukakarya dengan dilatarbelakangi bukit yang semakin memperindah panorama desa.

Awal terbentuknya Desa Sukakarya

Menurut penuturan salah seorang warga,  sekitar tahun 60-an para pendatang yang sebagian datang dari Jawa mulai membuka hutan belantara (babad alas). Para pria secara bahu-membahu menebang pohon yang sudah berumur puluhan tahun bahkan ratusan tahun. Para wanitanya ikut membereskan ranting dan ilalang. Setelah hutan belantara terbuka, mereka membagi tanah menjadi beberapa bagian untuk dibagi kepada semua pembuka hutan secara adil.  Tanah itulah yang dijadikan sebagai tempat tinggal dan persawahan. Mereka memilih  tempat tersebut untuk dibuka karena dekat dengan mata air yang dapat dijadikan sumber utama pertanian.

Mnah Poni, salah satu pelaku pembukaan hutan     sebagai cikal bakal Desa Sukakarya

Mbah Poni, warga Desa Sukakarya  yang merupakan salah satu pelaku pembuka hutan

Pada awalnya penduduk membangun rumah dengan papan dan beratap daun ilalang. Penduduk membangun perkampungan dan hidup rukun untuk mencari  nafkah bersama-sama. Dalam satu kampung kecil itu awalnya tidak lebih dari 20 kepala keluarga. Seiring dengan perjalanan waktu, perkampungan mulai ramai karena banyak pendatang yang mulai membeli lahan dan menetap di perkampungan. Atas prakarsa para warganya, perkampungan diberi nama Sukakarya yang berarti para penduduknya sangat suka bekerja. Kini perkampungan Sukakarya sudah menjadi desa yang ramai dan sudah memiliki tata pemerintah desa lengkap dengan perangkatnya.

Sebagai sebuah desa yang maju tentu dilengkapi dengan beberapa fasilitas-fasilitas yang menunjang. Di Desa sukakarya terdapat SD Negeri, masjid, klinik untuk pelayanan kesehatan, dan  Kantor Kepala Desa. Untuk kegiatan ekonomi Desa Sukakarya belum memiliki pasar, para penduduk harus pergi ke pasar B di wilayah Kecamatan Tugu Mulyo.

Rumah salah satu warga   Desa Sukakarya

Rumah salah satu warga Desa Sukakarya

Keadaan Alam

Sukakarya terletak di tengah-tengah perbukitan yang jumlahnya ada empat bukit. Salah satu bukit yang terkenal adalah Gunung Botak. Masyarakat setempat menyebut Gunung Botak dikarenakan dipuncak bukit tidak ada tumbuhan sehingga terlihat botak. Meskipun Sukakarya  dikelilingi beberapa bukit namun tanahnya datar dan tidak miring. Di sekitar di desa tampak sawah yang membentang luas dan sangat subur sekali. Tanah yang subur dan perairan yang lancar inilah yang dulunya sebagai magnet bagi para pendatang. Selain sawah yang membentang di muka desa dan belakang desa terdapat kolam-kolam besar yang mirip tambak untuk memelihara ikan air tawar.

Penduduk

Sebagaian besar penduduk berasal dari suku Jawa, sebagian lagi bersuku Sunda dan penduduk asli. Islam adalah agama mayoritas bagi penduduk Sukakarya dan ada sebagaian warga yang memeluk agama Kristen. Karena sebagian besar penduduk berasal dari suku Jawa  maka tak heran jika bahasa kesaharian di Sukakarya menggunakan Bahasa Jawa (ngoko). Dalam hal tradisi dan budaya masih kental menggunakan tradisi Jawa. Bahkan tata nilai masyarakat Jawa masih terasa kental dibandingkan di tanah leluhurnya di Jawa.

Untuk melestarikan budaya leluhurnya, warga membentuk sebuah kelompok kesenian kuda lumping. Kelompok kuda lumping ini bahkan sering pentas sampai keluar daerah. Di Sukakarya juga mempunyai satu perangkat gamelan yang didatangkan dari Jawa. Anak-anak kecilpun sudah dapat memainkan gamelan yang dipelajari dari para orang tua. Hal ini sangat ironis tentunya dibandingkan di Jawa sendiri. Anak-anak sudah tak kenal budayanya sendiri apalagi turut melestarikannya.

Mata pencaharian warga Sukakarya sebagian besar   bekerja di bidang pertanian baik menanam padi, atau memelihara ikan air tawar. Hasil ikan tawar dari Sukakarya dikirim diberbagai daerah di sekitar Kabupaten Musi Rawas bahkan sampai Palembang dan Bengkulu. Selain mempunyai sawah ada penduduk juga menanam pohon karet yang bisa disadap setiap hari. Selebihnya penduduk yang lain bekerja sebagai buruh pertanian, pedagang, dan pegawai negeri dan swasta.

Kolam ikan yang menjadi salah satu sarana mata pencaharian penduduk Sukakarya

Kolam ikan yang menjadi salah satu sarana mata pencaharian penduduk Sukakarya

Kisah Tragis di Sukakarya

Sekitar tahun 1998 beberapa ibu-ibu  dan pemudi di Sukakarya menjadi buruh di perkebunan sawit. Seperti hari biasanya, mereka langsung berangkat ke kebun dengan mebawa bekal makanan karena mereka pulang pada sore harinya. Taka da perasaan aneh para pekerja berangkat dan keluarga melepas kepergian mereka. Sampailah mereka di perkebunan sawit dan langsung bekerja seharian penuh dengan canda dan tawa. Setelah selesai bekerja segera mereka naik truk. Masih dibawa canda dan tawa, di atas truk mereka bersorak-sorai memberi semangat kepada sopir agar memacu truknya. Karena mendapat sorakan, sopir pun langsung menggenjot gasnya. Dua truk pengangkut pekerja sawit dari Sukakarya itupun saling bersalip-salipan. Tanpa diduga truk depan oleng dan para pekerja berjatuhan. Truk yang belakang tidak bisa menghentikan lajunya, maka truk belakang melindas banyak pekerja yang jatuh.

Segera korban berjatuhan dan dilarikan ke rumah sakit. Korban yang meninggal ada 25 orang dan yang lainnya mengalami luka berat dan ringan. Mendengar kabar demikian, warga Sukakarya menangis histeris. Kematian itu merobek-robek perasaan. Warga yang salah satu anggotanya tidak menjadi korban pun ikut sedih. Hari itu hari kelam bagi Desa Sukakarya. Pada keesok harinya korban meninggal segera dikubur dalam satu lubang yang luas. Iringan jenazah yang terdiri 25 peti membuat para pelayat tidak kuasa menitikkan air mata. Kisah itu menjadi cerita tragis yang turut mewarnai kisah Desa Sukakarya dan sekitarnya.

Obyek Wisata

Di Desa Sukakarya terdapat obyek wisata yang menjadi tujuan wisata di Kabupaten Musi Rawas dan sekitarnya. Wisata Bukit Cogong tidak hanya menjadi kebanggaan warga Desa Sukakarya namun juga menjadi kebanggan daerah Lubuk Linggau. Tempat wisata tersebut terdapat di Bukit Cogong yang masih masuk dalam wilayah Desa Sukakarya. Obyek wisata itu menawarkan panorama keindahan bukit, aneka flora, aneka satwa, dan keindahan air terjun. Pada hari libur seperti Hari Raya Lebaran dan Tahun Baru tempat ini ramai dikunjungi wisatawan dari luar daerah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: