Lapangan Kebonagung

LAPANGAN KEBONAGUNG

DSCN0375

Lapangan Kebonagung, Sendangagung, Minggir

Sebuah lapangan yang terletak di wilayah Kebonagung, Desa Sendangagung Kecamatan  Minggir, Kabupaten Sleman  ini menjadi tempat yang sangat istimewa bagi warga masyarakat sekitarnya. Letaknya persis di depan kantor Kepala Desa Sendangagung sekitar 22 kilometer dari pusat kota Yogyakarta. Segala bentuk kegiatan yang melibatkan banyak orang sangat bergantung pada tempat ini. Lapangan ini dapat difungsikan untuk berbagai kegiatan baik dari zaman kolonial sampai sekarang ini.

Keadaan Fisik Lapangan Kebonagung

Lapangan ini berukuran sekitar 80 m x 40 meter, dengan kondisi permukaan tanah yang tidak rata serta ditumbuhi rumput yang tingginya tidak rata juga. Sebelah utara lapangan dibangun deretan ruko yang semakin mempersempit lapangan dan sedikit mengganggu keindahan pemandangan sebuah lapangan.  Di sebelah timur lapangan berdiri  tenda yang berfungsi untuk tempat berjualan warga pada sore dan malam hari. Sayangnya, pada siang hari tenda tempat berjualan ini tidak dibongkar oleh pemiliknya sehingga terkesan sangat kumuh dan memprihatinkan. Jika ditilik keadaannya, sekitar tahun 1970 sampai 1990 tempat ini begitu asri jauh dari keadaan sekarang yang terkesan sangat kumuh dan begitu saja dibiarkan. Padahal di depannya berdiri megah Gedung Serba Guna yang menjadi kebanggaan warga masyarakat Sendangagung.

Tenda-tenda pedagang yang memberi kesan kumuh Lapangan Kebonagung

Tenda-tenda pedagang yang memberi kesan kumuh lapangan Kebonagung

Fungsi Lapangan kebonagung dari Waktu ke Waktu

Seperti lapangan pada umumnya, lapangan Kebonagung memiliki lebih dari satu fungsi. Fungsi lapangan di masyarakat Jawa biasanya dipergunakan untuk berbagai hal keperluan baik dari keperluan olah raga sampai keperluan keagaman. Fungsi lapangan Kebonagung sangat beragam jika ditilik dari perjalanan dari waktu ke waktu.

Pada zaman Kolonial Belanda, lapangan Kebonagung dijadikan tempat untuk menjemur tembakau. Di sebelah selatan lapangan berdiri bangunan bekas kantor pemerintahan Kolonial Belanda. Menurut penuturan pelaku sejarah, dari kantor pemerintahan tersebut Pemerintah Kolonial Belanda  mengatur segala bentuk kegiatan tentang penanaman tembakau dengan mempekerjakan penduduk Kebonagung.

Lapangan Kebonagung pernah dijadikan terminal bus dan mobil colt dengan jurusan Kebonagung menuju terminal Shopping (Terminal Shopping dahulunya adalah terminal bus sebelum dipindah ke Umbulharjo dan terakhir di Giwangan). Pada awalnya pemberhentian bus hanya menggunakan salah satu sisi lapangan dan sekitar tahun 1980 dibangunlah terminal yang permanen di lapangan bagian selatan. Sekarang terminal tersebut sudah dibongkar karena tidak ada bus atau transportasi umum yang menuju ke daerah Kebonagung.

Dari kegiatan olah raga lapangan Kebonagung dijadikan tempat berbagai kegiatan olah raga. Paling tidak ada 6 (enam) sekolah yang menggunakan lapangan ini sebagai sarana untuk berolah raga. Kelima sekolah tersebut adalah SDN Kebonagung, SDN Sendangagung, SD  Kanisius Minggir, SD BOPKRI Minggir, SD Muhamadiyah Tengahan, dan SD Muhamadiyah Sragan. Lapangan Kebonagung merupakan markas beberapa klub yang pernah ada di daerah Sendang Agung seperti Persepo (Persatuan Sepak Bola Pojok), SSC (Sanjaya Sport Club), dan Remassa FC.

Setiap tanggal 17 Agustus lapangan ini dijadikan tempat untuk mengadakan upacara peringatan detik-detik Proklamasi yang dipimpin Oleh Camat Minggir. Upacara biasanya diikuti oleh beberapa instansi pemerintah, tokoh masyarakat, dan sekolah-sekolah yang berada di seluruh wilayah kecamatan Minggir.

Beberapa perayaan keagamaan seperti shalat Idhul Fitri dan Idhul Adha dilaksanakan setiap tahun di lapangan kebanggaan warga ini. Pelaksanaan shalat dilakukan di lapangan karena umat muslim di di wilayah sendang agung selalu melakukan shalat bersama-sama setiap tahunnya. Tempat yang dapat menampung sebegitu banyak umat di wilayah Sendangagung untuk melakukan shalat  hanyalah lapangan Kebonagung.

Lapangan yang luasnya terbatas ini juga sebagai wadah untuk kegiatan pelestarian budaya seperti tempat pementasan kuda lumping, kethoprak, campur sari , dan beberapa kegiatan budaya yang lainnya. Lapangan Kebonagung pernah digunakan sebagai tempat untuk Festival Jathilan untuk beberapa kecamatan di wilayah Sleman Barat.

Pada era 70-an sampai 90-an hiburan yang begitu favorit di tempat ini adalah sorot. Sorot adalah istilah untuk layar tancap bagi warga masyarakat Kebonagung. Begitu ada sorot masyarakat langsung berduyun-duyun untuk menyaksikannya sampai memenuhi setiap sudut lapangan. Sebuah hiburan gratis yang biasanya sebagai promosi beberapa produk seperti jamu, obat-obatan, rokok, dan batu baterai. Hiburan lain yang menggunakan tempat ini adalah pasar malam, panggung dangdut, dan atraksi akrobat.

Di lapangan ini juga sering dijadikan tempat untuk kemah beberapa sekolah. Beberapa sekolah di sekitar Kebonagung menggunakan tempat ini. Bahkan salah satu sekolah tingkat atas dari Yogyakarta pernah menggunakan lapangan ini sebagai tempat berkemah.

Kegiatan politik yang menggunakan tempat ini adalah kampanye beberapa partai politik. Pada tahun 1999 masyarakat kecamatan Minggir pernah berunjuk rasa di lapangan ini dengan tuntutan transparasi pemerintah kecamatan Minggir dalam pelaksanaan sertifikat tanah yang dibantu oleh Bank Dunia. Pada waktu itu masyarakat menengarai adanya penyimpangan dalam pengadaan sertifikat tanah secara massal.

Catatan Peritiwa di Lapangan Kebonagung

Pada tahun 1983 bertepatan diadakannya peresmian Gedung Serba Guna oleh Bapak Anton Soedjarwo sebagai Kapolri pada waktu itu, di lapangan Kebonagung diadakan terjun payung oleh 5 personil anggota Polri. Dua diantara kelima penerjun tersebut adalah Polisi Wanita (Polwan). Peristiwa ini sangat berkesan bagi masyarakat sekitar, bahkan dari luar kecamatan Minggir datang berbondong-bondong untuk menyaksikan atraksi para penerjun payung.

Peristiwa yang lain adalah kejadian pembacokan salah seorang warga Kebonagung yang bernama Mintorogo. Peristiwa itu terjadi pada saat pertandingan sepak bola. Ketika pertandingan baru berlangsung, tiba-tiba datang dua pengendara motor trail. Pengendara tersebut menghentikan sepeda motornya di salah satu sudut lapangan. Salah satu pengendara berteriak mencari orang yang bernama Mintorogo. Orang yang dicaripun langsung berdiri tanpa gentar menghadapi para pengendara motor yang bertampang sangar. Tidak ingin kehilangan waktu salah satu pengendara motor langsung mengeluarkan kapak dan membacok kepala Mintorogo. Terdengar bunyi “cleng” seperti kapak beradu dengan batu dan Mintorogo pun masih berdiri dengan kuat tanpa mengalami kesakitan. Melihat orang yang dibacok tidak bergeming para pengendara motor langsung terbirit-birit lari meninggalkan motornya. Perlu diketahui Mintorogo adalah orang yang  mengurus angkutan umum dari Kebonagung sampai Jogja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: