Catatan Sejarah

Jejak Kolonial Belanda di Kecamatan Minggir

Minggir adalah sebuah wilayah kecamatan yang terletak di ujung barat dari wilayah Kabupaten Sleman, D.I. Yogyakarta. Wilayah yang sebagian besar merupakan wilayah pedesaan dan persawahan. Sejauh mata memandang tampak hamparan sawah yang menghijau diselingi pepohonan yang menambah suasana yang masih alami. Sawah nan luas menjadikan daerah ini termasuk daerah lumbung padi. Daerah yang masih hijau dan asri, jauh dari polusi dan kebisingan kota. Penduduk di daerah Minggir sebagian besar bermata pencaharian di bidang pertanian.

Keadaan wilayah yang masih bernuansa desa ternyata meninggalkan jejak-jejak peninggalan kolonialis Belanda. Daerah ini ternyata memiliki beberapa bangunan yang merupakan bangunan peninggalan pemerintahan Belanda di bumi Indonesia. Peninggalan ini ada yang masih utuh seperti bentuk dan bangunan semula, namun ada yang sudah hancur. Peninggalan ini dapat kita jumpai terutama di Desa Sendangagung, Sendangsari, Sendangmulyo, Sendangarum, dan Sendangrejo. Bangunan terdiri dari sembilan klasifikasi yaitu bangunan yang berupa gedung, pabrik, sekolahan,  tempat permandian, gereja, pasar, saluran irigasi, klinik, dan pos jaga.

Bangunan yang berupa gedung berbentuk loji ini oleh pemerintah kolonial Belanda dipergunakan untuk pusat pemerintahan di wilayah Minggir dan sekitarnya.  Gedung ini dibangun sekitar awal abad ke-20 dan penduduk di di wilayah Minggir menyebut gedung tersebut dengan istilah “Setapelan. Ada 3 (tiga) buah gedung yang dibangun diantaranya adalah :

  1. Loji kidul yang terletak di Dusun Ngenthak , Desa Sendangagung. Bangunan ini masih asli dan sekarang dimiliki oleh salah seorang penduduk.
  2. Komplek Loji lor yang terletak di Dusun Pojok, Desa Sendangagung. Sebagian gedung menjadi milik pemerintah dan sudah dipugar, sekarang dipergunakan untuk kantor kecamatan Minggir. Sebagian komplek menjadi milik salah seorang penduduk.
  3. Loji Serut. Bangunan ini terletak di Dusun Bandan, Sendangsari. Bangunan ini dipergunakan untuk gedung Sekolah Luar Biasa (SLB)
Gedung Peninggalan Belanda di Desa Sendang Agung

Loji Kidul di Desa Sendangagung

Loji Lor di Desa Sendangagung menjadi kantor kecamatan Minggir

Loji Lor di Desa Sendangagung menjadi kantor kecamatan Minggir

Loji Serut yang terletak di dusun Bandan, Sendangsari

Loji Serut yang terletak di Dusun Bandan, Sendangsari

Bangunan kedua berupa pabrik gula dan pabrik pewarnaan pakaian (wenteran). Pabrik gula terletak di Dusun Padon, Desa Sendangrejo. Pabrik ini dibangun kira-kira pada sekitar tahun 1920-an. Bangunan ini dirusak oleh Belanda sendiri dengan dijatuhi bom dari pesawat terbang. Hal tersebut dilakukan Belanda pada tahun 1949 ketika Belanda akan meninggalkan Indonesia. Kini kondisi bangunan sudah rusak parah tinggal tembok sebelah timur yang sudah runtuh dan dipenuhi dengan ilalang. Bekas lokasi pabrik gula ini oleh pemerintah Desa Sendangrejo digunakan sebagai lapangan sepak bola. Pabrik wenteran terletak di Dusun pojok, Desa Sendangagung. Menurut penuturan salah satu pelaku sejarah, tempat ini digunakan untuk mewarnai pakaian. Kondisi bangunan sudah rusak dan tidak ada bekasnya. Tempat ini sekarang dijadikan kolam ikan sebagi budidaya perikanan. Oleh masayarakat sekitar tempat ini dikenal dengan nama “Babrik”dan sekarang dibangun  Jembatan Kebonagung.

Pondasi pabrik gula peninggalan Belanda yang terletak di Dusun Padon sudah ditumbuhi semak belukar.

Pondasi pabrik gula peninggalan Belanda yang terletak di Dusun Padon sudah ditumbuhi semak belukar.

Sekolah yang merupakan peninggalan Belanda adalah SD Kebonagung yang teletak di Desa Sendangagung. Ketika zaman Belanda tempat ini disebut sebagai SR atau Sekolah Rakyat. Kondisi bangunan masih baik dan cukup terawat.

SD Kebonagung di Desa Sendangung.

SD Kebonagung di Desa Sendangung.

Ada dua tempat permandian yang dibangun oleh  Belanda. Permandian pertama dikenal dengan nama “Sendang Mudal” yang terletak di Dusun pojok, Desa Sendangagung.  Tempat permandian  Belanda ini dibangun sekitar tahun 1930. Sampai sekarang kondisi bangunan masih baik dan masih digunakan sebagai tempat permandian warga disekitar. Permandian yang kedua disebut “Sendang Ngumbul” yang terletak di Dusun kliran, Desa Sendangagung. Dikenal dengan nama ngumbul karena pancuran air sendang sangat tinggi. Kondisi bangunan sekarang ini sudah rusak karena terletak di lereng sungai Progo yang sudah banyak yang longsor.

Reruntuhan sendang Ngumbul di Dusun Kliran, Sendangagung.

Reruntuhan Sendang Ngumbul di Dusun Kliran, Sendangagung.

Peninggalan bangunan yang berupa gereja terletak di Dusun Klepu, Desa Sendangmulyo. Gereja ini dipergunakan oleh umat Katolik untuk beribadah dan sampai sekarang menjadi salah satu gereja yang besar di wilayah kabupaten Sleman. Sebagian besar bangunan masih asli dan ada beberapa bagian yang sudah direnovasi. Bangunan dalam gereja masih asli dan tampak jelas arsitektur gaya Belanda.

Pasar Kebonagung adalah pasar yang dibangun oleh pemerintah Belanda sekitar tahun 1930. Bangunan aslinya ada dua los pasar yang merupakan bangunan peninggalan Belanda. Dahulunyan pasar Kebonagung termasuk ke dalam wilayah dusun Kliran. Dalam perkembangannya, pasar Kebonagung masuk ke dalam wilayah dusun Pojok.

Peninggalan Belanda yang berupa saluran irigasi adalah  Selokan Van der Wijk alias Bok Renteng. Selokan Van der Wijk ini sangat berarti bagi masyarakat Minggir yang menggantungkan hidupnya dalam hal pertanian.

Bok Renteng adalah Saluran Air Peninggalan Belanda yang terletak di perbatasan Kecamatan Minggir dengan Kecamatan Tempel.

Bok Renteng adalah Saluran Air Peninggalan Belanda yang terletak di perbatasan Kecamatan Minggir dengan Kecamatan Tempel.

Semasa pemerintahan Kolonial Belanda di daerah Minggir, terdapat satu bangunan yang dipergunakan untuk rumah sakit kecil atau klinik. Bangunan ini terletak di Dusun Kregan, Sendangagung. Kondisi bangunan sekarang tidak dipergunakan dan bangunan dalam kondisi tidak terawat.

Klinik semasa  pemerintahan Belanda yang terletak di Dusun Kregan, Sendangagung

Klinik semasa pemerintahan Belanda yang terletak di Dusun Kregan, Sendangagung

Pos jaga dipergunakan oleh Belanda untuk berjaga-jaga atau piket tentara Belanda. Di daerah Minggir terdapat beberapa pos jaga. Pos jaga itu yang masih ada diantaranya terletak di Dusun Bontitan (Desa Sendangagung), pos jaga di Dusun Jomboran (Desa Sendangagung), pos jaga di  Dusun Ngagul-agulan (Desa sendangrejo), dan pos jaga di daerah Kolowenang (Desa Sendangmulyo). Pos jaga yang sudah rusak dan tidak ada bekasnya terletak di sebelah utara dusun Kwayuhan, Sendangmulyo.

Pos jaga peninggalan Belanda di dusun Bontitan, Sendang Agung

Pos jaga peninggalan Belanda di dusun Bontitan, Sendang Agung

Pos jaga peninggalan Belanda di Dusun Jomboran, Sendangagung

Pos jaga peninggalan Belanda di Dusun Jomboran, Sendangagung

Pos jaga peninggalan Belanda di Dusun Ngagul-agulan, Sendangrejo

Pos jaga peninggalan Belanda di Dusun Ngagul-agulan, Sendangrejo

Pos jaga peninggalan Belanda di daerah Kolowenang, Sendangmulyo

Pos jaga peninggalan Belanda di daerah Kolowenang, Sendangmulyo

2 Comments (+add yours?)

  1. sri mening
    Mar 17, 2015 @ 03:47:16

    Mengenang kembali kota kelahiranku, sendang penjalin kok tidak dimasukan pak!?

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: