Cerita fiksi

Warga Desa Santenan Tidak Makan Kepala Ayam

Desa Santenan adalah desa yang ada di kaki bukit Reyangan. Desa yang damai dihiasi alam yang sungguh asri. Desa Santenan berasal dari nama santen kelapa. Yang menjadi unik adalah seluruh warga desa tersebut pantang makan kepala ayam. Hal ini tidak terlepas dari cerita yang turun-temurun yang dipercaya di desa tersebut. Kisah dan kejadiannya terjadi pada dua saudara Santana dan Surti yang hidup sekitar abad ke-15.

Di desa Kembang  hidup dua bersaudara Santana dan Surti. Santana memandangi paras Surti adiknya yang tampak molek terkena lampu minyak. Dielusnya rambut adiknya yang mulai beranjak perawan. Santana sangat menyanyangi adiknya yang sudah dibesarkan selama 15 tahun  sepeninggalan ayah dan ibunya karena terkena wabah yang menyerang desa itu. Matanya mulai meneteskan air mata ketika baru saja ia menerima lamaran Handaka sore tadi. Hatinya mulai menangis karena ia akan ditinggalkan adiknya.

Hari pernikahan Surti dan Handaka sudah tiba. Tampak Santana memakai baju adat  siap menikahkan adiknya. Di depan orang tua dan saksi Surti dan Santana melangsungkan pernikahan. Tidak ada pesta yang meriah. Hanya hidangan makanan sederhana yang dapat dinikmati para tetamu. Hari itu juga Surti diboyong oleh Handaka ke Desa Santenan tempat Handaka tinggal. Kesedihan Santana tampak semakin menjadi-menjadi. Kesepian, kesendirian, dan kehilangan yang sangat mendalam.

Kesendirian Santana membuatnya tidak bersemangat dalam bekerja. Sawah sering ia tinggalkan. Rasa rindu yang terbendung membuat Santana ingin mengunjungi Surti adiknya. Ketika matahari mulai condong ke barat ia berangkat ke desa Santenan tempat adiknya tinggal. Tak sampai tiga jam Santana sudah sampai di tempat adiknya. Dengan senang hati Surti menerima kakak kandungnya. Segera memanggil suaminya. Handaka mempersilahkan Santana untuk masuk ke rumah. Meskipun belum terlalu lama berpisah mereka sangat senang dengan pertemuan itu.

Handaka pergi kebelakang rumah untuk mengambil ayam jagonya. Dipotongnya ayam itu untuk hidangan makan bersama. Surti segera memasak daging ayam. Opor ayam dengan lalapan sudah terhidang. Mereka bertiga langsung menyantap hidangan. Rasanya enak dan begitu damai ketika tiga bersaudara berkumpul bersama. Saat Surti  menggigit kepala ayam, tiba-tiba kuahnya nyemprot di dadanya. Dengan perasaan sayangnya, Santana mengusap dada adiknya. Seketika itu marahlah Handaka karena telah menyentuh istrinya. Dengan perasaan sabar Santana menjelaskan, “Saya tidak melecehkan istrimu. Ini adalah adikku sendiri. Mana mungkin aku ingin berbuat kurang ajar” Penjelasan Santana tidak menghentikan amarah Handaka. Perang mulut mulai ramai. Adu fisik pun tidak terelakan. Rupanya dua bersaudara itu sama kuat. Surti hanya menjerit dan tak kuasa untuk memisahkan dua orang yang dikasihinya. Jeritan dan keributan perkelaian tidak terdengar oleh tetangga terdekat. Rumah terdekat berjarak 500 meter, itulah yang menyebabkan keributan dan jeritan tak terdengar oleh siapapun.

Satu jam telah berlangsung, tidak ada tanda-tanda akan berkesudahan perkelahian itu. Surti hanya menangis di sudut rumah. Suara baku hantam sudah tidak terdengar. Surti segera menghampiri, digoncang tubuh keduanya, tak ada satupun suara yang terdengar. Surti mendekatkan telingannya ke dekat mulut suami dan kakaknya. Tak terdengar hembusan napas, hanya tubuh yang membujur kaku. Malam itu juga Surti menjerit sekencang-kencangnya, bagai halilintar yang memecah cakrawala. Kakak dan suaminya sudah tak bernyawa.

Keesokan harinya dua jenazah sudah dirawat oleh penduduk desa. Atas permintaan Surti dua jenazah akan dikubur di satu lubang. Iringan pemakaman tampak sedih, tak ada satupun warga yang berucap. Semua membisu bagai patung yang berjalan. Begitu pula Surti, langkah lunglai dan wajah pucat tak ada lagi air mata yang bisa ditumpahkan. Kedua jenazah di kubur di ujung desa. Selesai pemakaman Surti berucap kepada semua warga desa, “Wahai saudaraku, mulai hari ini warga desa Santenan tidak boleh makan kepala ayam. Kalau sampai melanggar ucapanku ini maka akan mendapatkan musibah. Peringatan ini kucapkan supaya tidak ada yang menderita seperti saya ini.” Mulai saat itu sampai sekarang warga desa Santenan patuh akan tradisi yang turun temurun itu. Meskipun di tanah perantauan warga desa Santenan tetap menjunjung tinggi larangan tersebut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: