Narasi

JUARA SATU

Bunyi lonceng gereja terdengar lantang. “Bangun…, bangun…… , Dik!”  sapa istriku untuk membangunkan kedua anakku. Dengan mata masih tertutup Ari dan Danu menuju kamar mandi. Kedua anak itu mandi meskipun rasa kantuk belum hilang. Dalam waktu lima menit keduanya telah selesai meninggalkan kamar mandi. “Sudah sikat gigi belum,  Dik” tanyaku sambil merapikan tempat tidur. “Belum….” jawab keduanya serempak seperti diberi aba-aba. Danu selalu mengikuti apa yang dilakukan Ari kakaknya Mereka berdua kuminta untuk sikat gigi. Tidak lama kemudiaan keduanya muncul kembali dan siap untuk memakai pakaian. Kusiapkan baju bergambar Angry Bird kesukaan keduanya. Baju berwarna hijau cerah yang dibeli ketika libur sekolah di Malioboro Mall.

Kedua anak duduk di depan TV sambil menungguku dan istriku untuk mandi dan mempersiapkan diri untuk kepergian kami. Setelah  selesai berpakaian dan perlengkapan beres, kami berangkat. Tak lupa aku mengunci pintu dan pagar. “Ibu kita naik apa?” Tanya Danu di gandengan tangan ibunya. “Kita nanti naik  kereta, “ jawab istriku. Tak terasa kami berempat sudah sampai di jalan raya. Kulihat angkot biru tua jurusan BSD-Cikokol datang. Aku beri tanda sopirnya untuk berhenti. Satu per satu naik masuk ke angkot dan aku masuk paling akhir. Di dalam angkot hanya kami berempat yang naik, mungkin karena hari masih pagi. “Kiri Bang !” seruku sambil menyerahkan uang delapan ribu rupiah. Kami sudah sampai Stasiun Rawa Buntu.

Kupegang lengan anakku untuk menuju stasiun karena jalan menurun seperti tangga. Stasiun Rawa Buntu adalah stasiun yang ramai. Banyak orang yang menggunakan jasa angkutan kereta sebagai sarana transportasi untuk berangkat kerja ke Jakarta. Hari ini hari Minggu jadi stasiun tidak ramai. Aku membeli empat tiket kereta. Kereta datang sekitar lima belas menit lagi karena jam baru menunjukkan pukul 06. 45. Sambil menunggu kereta datang aku membeli dua nasi kuning dan beberapa kue untuk sarapan. Istriku menyuapi Ari dan Danu, sementara aku makan roti. Kereta ekonomi  dari Serpong mulai tampak. Kereta berhenti di depan bangku kami menunggu. Danu langsung masuk kereta tanpa menghiraukan suara ibunya.

Tempat duduk di dalam kereta banyak yang kosong. Aku mengikuti kedua anakku untuk memilih tempat duduk yang mereka sukai. Kami mendapat tempat duduk yang dekat pintu kereta. Maklum kereta ekonomi cukup panas, jadi alasan itulah yang membuat kedua anakku memilih tempat duduk di dekat pintu. Kereta perlahan mulai berjalan menuju stasiun berikutnya. Suasana dalam kereta hiruk pikuk dengan suara pedagang. Dari pedagang makanan sampai pengamen yang menggantungkan rezeki di atas kereta. Dari gerbong belakang tampak pengemis perempuan menghiba untuk mendapat rezeki di pagi itu. Aku buka dompet dan aku bagi uang masing-masing dua ribuan kepada Ari dan Danu. Mereka memberi uang itu kepada pengemis tersebut. Tak kusangka ternyata pengemis tersebut berdoa untuk keluarga kami. Aku dapat membaca dari raut mukanya, sebuah doa singkat yang iklhas dipanjatkan dari seorang hanya mendapat setetes rezeki. Tak terasa kereta sudah sampai stasiun Palmerah.

Orang-orang mulai menuju pintu untuk turun di stasiun Palmerah. Tak lupa aku gandeng  Ari dan Danu. Maklumlah keduanya belum terlalu mengerti bahaya. Keluar dari stasiun Palmerah aku menyetop taksi. “Pak ! Senayan, ya !” pintaku sambil mendekatkan kepalaku di dekat sopir. “Baik Pak, “jawab sopir taksi dengan ramah. Taksi mulai berjalan ke arah Senayan. Di sepanjang jalan Ari dan Danu selalu bercanda, samapai-sampai tangan istriku mulai mencubit kaki Ari karena mulai membuat adiknya menjerit-jerit. Melihat spanduk dengan tulisan “Science Kids Competition” Danu langsung berteriak, “Itu lombaku.” Taksi mulai mengarah ke gedung JCC yang merupakan gedung yang cukup terkenal di Jakarta. Taksi berhenti persis di depan gedung JCC. Kami berempat menuju pintu utama gedung tersebut.

Di depan pintu masuk sudah banyak dipadati orang yang datang dari daerah Jabodetabek.  Mereka berdesakan untuk mendaftar lomba Sains dan Komputer yang diadakan oleh salah satu perusahaan obat yang besar di Indonesia.  Di sana sudah menunggu Ibu Dian guru  Danu yang sudah memegang name tag sebagai tanda peserta lomba. Untung Ibu Dian datang lebih awal sehingga kami tidak ikut antrian panjang untuk daftar ulang lomba. Ternyata selain mendapat name tag peserta mendapatkan kaos peserta lomba. Dengan senang hati Danu langsung memakainya dan memamerkan koas lomba kepada kakaknya.Ari tidak menghiraukannya karena di tidak berminat pada perlombaan ini meskipun saya sudah membujuknya. Kami langsung masuk ke ruangan lomba komputer untuk tingkat TK. Panitia memanggil semua peserta lomba. Dengan perasaan was-was aku mengantar Danu. Meskipun wajah Danu terlihat gembira tanpa  beban apapun untuk mengikuti perlombaan. Tepat pukul 09.00 tepat lomba dimulai. Dengan perasaan berucap doa kupandangi anaku dari jauh yang sedang mengerjakan soal-soal perlombaan. Lima belas kemudian Danu sudah keluar. “Lombanya bias tidak, Dik!” tanyaku pada Danu. “ Bisa, tadi kan baru latihan,” jawab Danu dengan nada yang tidak memperlihatkan beban apapun. Begitulah sikap anak-anak yang tidak memiliki beban apapun ketika menghadapi sesuatu termasuk lomba. Menurut Danu yang baru saja dilalui hanyalah latihan padahal itu sudah lomba yang sesungguhnya.

Menurut panitia lomba baru akan diumumkan sekitar pukul 16.30. Kami harus menunggu lama, kulihat jam baru pukul 09.30. Untuk dalam kegiatan tersebut banyak diisi acara dan pameran sehingga kami bisa menikmati acara yang disuguhkan oleh panitia. Salah satu  acara yang diminati oleh anak-anak adalah “Kalbe City.” Dalam acara tersebut anak-anak diajak ke suatu ruangan untuk memainkan beberapa permainan. Sayang sekali ketika Ari dan Danu mendaftar lomba tersebut Ari dan danu mendapat kesempatan pukul 16.00. Mungkin karena banyak peminatnya sehingga Ari dan Danu mendapat giliran pada sore hari. Tepat pukul 16.00 kami menuju tempat “Kalbe City”. Ari dan Danu langsung lari ke tempat tersebut karena memang permainannya sangat  menyenangkan. Menurut penjaga setiap peserta diberi waktu setengah jam.

Sekitar pukul 16.30 Ari dan Danu sudah selesai bermain di Kalbe City. Kami berempat langsung menuju podium utama karena lomba akan diumumkan tepat pukul 16.30. Sesampai di podium ternyata lomba computer tingkat TK sudah diumumkan. Saya tidak tahu apakah Danu menang atau tidak. Dengan sedikit keyakinan aku beranikan diri bertanya kepada panitia. Ternyata Danu juara harapan satu. Meskipun hanya juara harapan satu aku bersyukur karena lomba tersebut diikuti oleh ratusan peserta. Dengan hati yang berbunga-bunga aku mengambil piala dan uang tabungan. Kuberitahu Danu, “Danu juara harapan satu lho!” kuciumi anakku dan keberi selamat. Danu tidak menghiraukan apakah dia juara atau tidak. Ketika kuberitahu bahwa ia juara ekspresi wajahnya biasa saja. Setelah kutunjukkan pialanya baru dia melonjak kegirangan. Yang Danu tahu bukan juara harapan satu tetapi dia beranggapan bahwa di juara satu. Danu tidak mengerti apa artinya juara harapan. Sampai sekarangpun yang ia tahu dan beritahukan kepada guru, teman, dan neneknya bahwa “Danu juara satu”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: