Profil Dusun Kliran

DUSUN KLIRAN

Dusun Kliran terletak di Desa Sendangagung, Kecamatan Minggir, Kabupaten Sleman. Sebuah dusun yang jauh dari hingar bingarnya kota Yogyakarta, sekitar 25 Km arah ke barat dari  pusat kota Yogyakarta. Hamparan sawah yang menghijau menghiasi regol sederhana sebagai pintu masuk dusun. Di sebelah barat dan utara dusun mengular Sungai Progo yang merupakan sungai yang terbesar di wilayah Yogyakarta. Jika dilihat dari arah timur, perbukitan Menoreh  tampak melatar belakangi dusun yang kelihatan hijau nan asri semakin menguatkan kesan dusun yang aman dan damai. Sebelum tahun 90-an desa ini sangat dikenal karena terdapat alat transportasi air yang disebut “Gethek” atau rakit. Gethek inilah yang menjadi sarana penghubung antara wilayah Kabupaten Kulon Progo dengan wilayah Kabupaten Sleman.

Panorama Dusun Kliran yang dilatarbelakangi Pebukitan Menoreh

Panorama Dusun Kliran yang dilatarbelakangi Perbukitan Menoreh

Asal-usul  Nama Kliran

Kata Kliran berasal dari kata “Kelir” yang diambil dari nama Kyai Kelir. Kyai Kelir merupakan tokoh cikal bakal yang mendiami wilayah Kliran. Menurut sejarah yang dituturkan secara turun-menurun, Kyai Kelir adalah seorang prajurit dari Kerajaan Majapahit. Beliau bersama para prajurit yang lain mencari tempat yang cukup aman untuk didiami. Di tempat yang baru ini Kyai Kelir menetap bersama pengikutnya. Konon  menurut cerita salah seorang warga, Kyai Kelir mempunyai kesaktian yang terletak pada ikat kepala. Jika ikat kepala sudah dikibaskan maka beliau akan dikelililingi kabut. Setelah wafat, beliau dan istrinya serta pengikutnya dimakamkan di ujung desa. Kemudian oleh para penerusnya dusun yang ditinggali diberi nama Dusun Kliran. Para warga di Dusun Kliran menyebut Kyai Kelir dengan sebutan Eyang Kelir atau Mbah Kelir.

Semasa hidupnya  Mbah Kelir sangat menyukai pertunjukkan wayang. Nama Kelir sama dengan  kelir/layar yang dipakai dalam pertunjukkan wayang.  Mitos yang berkembang di dusun ini, jika seorang dalang yang diundang untuk mendalang di Dusun Kliran maka dalang tersebut akan memperoleh rejeki melimpah karena mendapat berkah dari Mbah Kelir yang sangat menyukai pertunjukkan wayang. Menurut penuturan Mbah Sosro, ada seorang dalang yang rela dibayar murah demi untuk mendapatkan berkah dari Mbah Kelir. Banyak warga yang sering berziarah ke makan Mbah Kelir untuk mencari berkah. Bukan hanya warga Dusun Kliran saja yang mencari berkah tetapi orang yang berasal dari luar Dusun Kliran sering berziarah dan tirakat di makan Mbah Kelir.

Situs Makam Mbah Kelir

Makam Mbah Kelir

Kondisi Geografis

Letak astronomis Dusun Kliran antara 07°43’31”S 110°13’29.4”E sampai dengan 07°43’31.9”S 110°13”56.9”E . Secara greografis kawasan Dusun Kliran terdiri dari persawahan, sungai, lembah sungai (kisik), tebing sungai, dan perkampungan  sebagai tempat tinggal.

Batas-batas Dusun Kliran adalah :

Sebelah utara Sungai Progo berbatasan langsung dengan wilayah Kabupaten Kulon Progo

Sebelah timur Dusun Pojok

Sebelah selatan Dusun Bekelan

Sebelah barat sungai Progo berbatasan langsung dengan wilayah Kabupaten Kulon Progo

Sosial dan Budaya

Warga Dusun Kliran mayoritas beragama Islam, setelah itu beragama Katolik dan Kristen. Kerukunan beragam di dusun ini terbina dengan baik. Warga dusun ini sangat memegang prinsip tegang rasa yang sangat tinggi. Sebagai bukti toleransi sekitar tahun 80-an dalam perayaan Natal dan Paskah yang merupakan hari besar umat Katolik selalu diadakan perayaan dan selalu ditampilkan seni tradisional budaya kethoprak. Umat yang lain terlibat penuh dan ikut menjadi pemain kethoprak tanpa memandang perbedaan sebagai halangan untuk bersatu padu.

Budaya yang ada di Dusun Kliran berupa upacara adat dan segala bentuk kesenian. Segala macam budaya tumbuh subur di dusun yang sangat sederhana ini. Kebudayaan di Dusun Kliran tidak lepas dari adat istiadat dan seni tradisional yang masih melekat di dusun ini sebagai warisan adiluhung dari leluhur yang perlu dilestarikan.

Upacara Merti Dusun (Bersih Dusun) merupakan perayaan terbesar yang ada di dusun ini dan sudah berlangsung selama puluhan tahun. Upacara ini sebagai bentuk ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dan permohonan keselamatan bagi warga desa.  Prosesi upacaranya adalah pengambilan mata air yang biasanya di ambil dari mata air sebagai simbol kehidupan. Upacara dilanjutkan dengan perarakan atau kirab  sedekah bumi dengan mengarak hasil bumi keliling dusun sebagai ungkapan rasa syukur atas rahmat Tuhan yang berupa segala hasil pertanian.  Untuk menghormati leluhur dilakukan kenduri selamatan di  Makam Mbah Kelir.  Perayaan ditutup dengan pertunjukkan wayang selama semalam suntuk. Lakon yang diambil biasanya ”Sri Mulih” sebagai simbol dari turunnya rejeki yang dilambangkan oleh Dewi Sri sebagai Dewi Padi.

Kirab merupakan salah satu prosesi dalam acara Merti Dusun

Kirab merupakan salah satu prosesi dalam Upacara Merti Dusun

Kelompok kesenian yang ada di Dusun Kliran adalah  kelompok Jathilan Rampak Kudan, SLAKA (Slawatan Katolik), kelompok Slawatan Muslim, dan kelompok Campur Sari Othok Obrol. Segala kelompok kesenian ini ditampilkan baik dalam upacara adat, hajatan perkawinan, dan acara yang lain.

Warga dusun ini juga banyak yang mempunyai bakat seni tradional. Diantaranya adalah dalang wayang kulit klasik gagrag Ngayogyakarta. Dalang wayang tersebut diantaranya adalah  Ki Pujo Warsito (Almarhum), Ki Cermo Mujiyono, Ki Jasminto yang merupakan putra dari dalang Ki Cermo Mujiyono,  dan Ki Widodo Pujo Bintoro yang merupakan putra dari dalang  Almarhum Ki Pujo Warsito. Selain sebagai dalang, Ki Widodo Pujo Bintoro pernah menjadi duta seni tari dari  Indonesia yang melanglang buana di daratan Eropa sekitar tahun 1980-an. Adik dari Ki Widodo Pujo Bintoro sendiri yang bernama Tri Padma adalah seorang pengendang  handal yang pernah memainkan kendang dalam acara “Klithak-klithik Campur Sari” yang disiarkan setiap hari Minggu di TVRI.

Kegiatan Ekonomi

Sebagian besar penduduk di Dusun Kliran bermata pencaharian sebagai petani. Hampir semua penduduk di dusun ini memiliki lahan pertanian. Selain di sektor pertanian, juga ada yang bermata pencaharian sebagai pegawai negeri dan swasta, pedagang, peternak, nelayan, dan usaha kerajinan tangan.

Produk andalan dari dusun ini adalah jenis makanan yang terkenal dengan sebutan “Iwak Banyu” khas Kliran. Produk ini sudah terkenal di sekitar wilayah Kecamatan Minggir bahkan sampai luar Yogyakarta. Menu makanan ini  berupa ikan air tawar berasal dari Sungai Progo yang dimasak dengan bumbu khusus. Rasanya sangat manis dan gurih  sehingga dapat mamanjakan lidah bagi orang yang menikmatinya. Setiap orang yang pernah mencoba dipastikan akan ketagihan. Iwak banyu dari Kliran ini dapat dijumpai di Pasar Kebonagung dan Pasar Balangan.  Para pembeli biasanya menggunakan iwak banyu ini sebagai lauk.

Salah satu warga yang berjualan

Salah satu warga yang berjualan “Iwak banyu” atau iwak bacem presto kali Progo
Sumber foto : https://www.facebook.com/sukharti.parjiya

Produk kerajinan adalah anyaman dari bambu yang berupa besek dan tenggok. Selain anyaman bambu banyak juga ibu rumah tangga yang masih menggeluti membuat tikar dari anyaman mendong. Produk kerajinan yang lain wayang dengan kualitas yang sangat tinggi karena dikerjakan secara khusus oleh Ki dalang Cermo Mujiyono dan Ki Jasminto.

Kerajinan yang lain adalah pembuatan alat yang berasal dari batu. Sebagai hasil kerajinan batu ini adalah  cobek dan nisan. Sayang keterampilan mengolah batuan yang tersedia tak terbatas di Sungai Progo ini sudah tidak ada yang meneruskan.

Perlu diingat sebelum dibangun Pasar Kebonagung, pada zaman pendudukan Kolonial Belanda kegiatan jual beli berbentuk pasar sederhana berada di Dusun Kliran. Menurut salah satu penuturan warga yang mengalami masa tersebut, pasar terletak di pertigaan jalan, tepatnya di dekat rumah Mbah Sanawi.

Kependudukan 

Jumlah penduduknya kurang lebih 300 jiwa. Para pemudanya sebagian merantau ke luar daerah seperti Jakarta, Surabaya, dan beberapa daerah yang lain. Di tahun 1970-an ada beberapa keluarga yang bertransmigrasi swakarsa ke daerah Lubuk Linggau Sumatera Selatan dan Lampung.

Kliran termasuk dalam wilayah pemerintahan Desa Sendangagung, Kecamatan Minggir, Kabupaten Sleman. Dusun Kliran terdiri dari dua kring yaitu kring 9 dan kring 10. Sebagai pimpinan dusun adalah Kepala Dusun (Kadus) yang dipilih secara langsung oleh rakyat. Berikut Kadus yang memerintah Dusun Kliran kring 9 :

  1. Gatot Sumowiharjo (1948 – 1972)
  2. Mardi Utomo ( 1972 – 2002)
  3. Stevanus Subejo Purwanto (2002 – sampai sekarang)

Andil Rakyat Kliran Terhadap Perjuangan Kemerdekaan Indonesia

Ketika terjadi perang kemerdekaan rakyat Kliran turut membantu perjuangan baik dalam mencapai kemerdekaan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Kerelaan rakyat dalam dukungan ini adalah beberapa warga rela menjadi tentara pejuang. Semua pejuang ini sudah meninggal dunia dan pernah menghirup udara kemerdekaan sebagai hasil perjuanggannya. Diantaranya adalah  Pujo Warsito, Gatot Sumowiharjo, Kariyo Rejo, Partomo , dan Mangun. Kelima pejuang ini oleh pemerintah Indonesia dianugerahi gelar Veteran.

Pada masa perang kemerdekaan, tukang gethek/rakit yang sebagian besar adalah warga Dusun Kliran selalu sedia menyeberangkan Pasukan Siliwangi yang menyeberangi Sungai Progo. Tanpa mengenal waktu mereka selalu membantu tentara dan pejuang dengan suka rela tanpa imbalan apapun. Pemerintah Indonesia juga memberi penghargaan sebagai Veteran. Mereka adalah Karto, Tirto, Joyo, Adi, Towiharjo, dan Marto Tugiyo.

Obyek Wisata

Salah satu tempat yang menjadi obyek wisata yang gratis adalah jembatan Kebonagung yang terletak di bagian timur laut Dusun Kliran. Jembatan inilah yang menghubungkan antara Dusun Kliran wilayah Kabupaten Sleman dengan Dusun Kisik wilayah Kabupaten Kulon Progo. Yang menjadi daya tarik jembatan ini adalah jika kita berdiri dari atas jembatan menghadap ke timur akan tampak pasangan gunung Merapi dan Merbabu dihiasi Sungai Progo yang melengkung di bawah pedesaan yang asri. Jika mata memandang ke sebelah barat, dari atas jembatan akan tampak barisan bukit Menoreh yang menghijau dihiasi  tebing sungai yang berdiri megah bagaikan benteng perkasa. Suasana akan semakin indah jika menikmatinya sambil olah raga pagi melihat sang surya memperlihatkan diri dari balik punggung Merapi. Tak kalah eloknya jika sore hari, dari atas jembatan disuguhi sinar lembayung merah jingga sorotan matahari yang mau beranjak istirahat di  waktu malam hari. Pada hari Minggu jembatan ini banyak dikunjungi oleh orang di sekitar Kliran bahkan sampai luar daerah.

Jembatan Kebonagung menjadi salah satu alternatif  tempat rekreasi

Jembatan Kebonagung menjadi salah satu alternatif tempat rekreasi

Keunikan Dusun Kliran

Salah satu keunikan desa ini adalah budaya “Pek Nggo.” Pek Nggo akronim dari  Ngepek Tonggo yang artinya mengambil istri dari satu dusun atau tetangga sendiri. Hal ini sudah menjadi rahasia umum di wilayah sekitar Dusun Kliran. Kalau didata lebih dari 60 pasangan  suami istri yang kedua-duanya berasal dari Kliran. Pasangan ini ada yang tinggal di Dusun Kliran dan ada  yang tinggal di perantauan.

Keunikan lain yang dimiliki adalah terdapat dua mata air  berupa pancuran  yang berbeda dengan mata air yang lain. Pertama adalah mata air pancuran Elo. Air dari pancuran ini jika dimasak akan terasa enak dibanding air putih lain. Banyak orang yang menyangsikan tetapi setelah merasakan mereka akan mengiyakan. Kedua adalah mata air pancuran Dukun. Dinamakan dukun karena konon orang yang mandi akan sembuh dari penyakitnya. Sayang, pancuran dukun ini sudah tidak terawat dan tidak dipergunakan lagi.

Pancuran Elo

Pancuran Elo

Keunikan yang lain warga di dusun kliran sering berkeramas dengan tanah liat yang berasal dari batu padas yang melapuk menjadi tanah. Aneh memang kalau didengar karena kalau dilogika berkeramas biasanya membersihkan kotoran dari kepala, orang-orang di daerah ini kok malah berkeramas dengan tanah yang terkesan kotor.

Prestasi yang Pernah Diraih.

Pada tahun 1984 Dusun Kliran pernah juara I tingkat Kabupaten Sleman dan tingkat Provinsi  Yogyakarta dalam lomba Siskamling (Sistem Keamanan Lingkungan). Prestasi yang lain pernah menjadi Juara I perlombaan antar desa tingkat kecamatan Minggir. Yang tidak kalah membanggakannya adalah Kelompok Kesenian Jathilan Rampak Kudan dari Kliran, pada tahun 2003 meraih Peringkat I dalam perlombaan Festival Jathilan se-DIY.

Pemandangan yang dapat dinikmati dari jembatan Kebonagung

Pemandangan yang dapat dinikmati dari jembatan Kebonagung

10 Comments (+add yours?)

  1. hari purnomo
    Aug 22, 2013 @ 14:33:02

    like . .lanjutkan .kliran go go go ! !

    Reply

  2. ubenk
    Sep 04, 2013 @ 18:41:27

    wah..nyasar q tekan kene…
    mlebu blog’e ka²ng’e mbak kembar…

    maju trs dusun kliran…..

    ♓ά♓ά….♓ά♓ά♓ά….♓ά♓ά….

    Reply

  3. Andreas yoki adi
    Oct 11, 2013 @ 00:37:37

    Pokok’e KLIRAN ISTIMEWA…

    Reply

  4. Lutus Yohanes
    Jan 08, 2014 @ 11:51:37

    kulo nuwun, nunut ngeyup teng emperan blog mas Mur….,

    Reply

  5. sawal wong kliran
    Mar 01, 2014 @ 10:10:03

    yo iki sing tak senengi…aku iso ngerti kahanan lan kemajuan desa kelahiranku…maklum terakhir 2004 aku mulih

    Reply

    • moergiyanto
      Mar 01, 2014 @ 22:38:17

      Matur nuwun Mas Sawal sampun kerso mampir wonten blog kulo. Tujuan kulo nulis kawontenanipun Dusun Kliran, mboten sanes kangge tombo kangen poro wargo Dusun Kliran ingkang wonten perantauan.

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: