Murwakala Ruwatan

MURWAKALA RUWATAN

Terjadinya Jagat Raya

Sebelum terciptanya jagat raya beserta isinya Sang Hyang Wisesa (Sang Hyang Tunggal/Sang Hyang Wenang) berdiri di tengah kekosongan  angkasa raya melipat tangan bersemedi memuja langit dan bumi. Selesai bersemedi Sang Hyang Wisesa melihat telur tergantung di angkasa. Dipeganglah telur tersebut dan dicipta menjadi tiga dewa :

bagian kulitnya dicipta menjadi Hyang Tejamaya           (Togog)

bagian putihnya dicipta menjadi Hyang Ismaya             (Semar)

bagian kuningnya dicipta menjadi Hyang Manikmaya    (Guru)

Dari tiga dewa yang diberi kekuasaan adalah Hyang Manikmaya mewakili Hyang Wisesa untuk mencipta dan menguasai segala isi jagat raya.

Hyang Tejamaya

Hyang Tejamaya

Hyang Guru mencipta seluruh isi bumi dan manusia. Di Angkasa Hyang Guru mencipta Khayangan/surga yang diberi nama JONGGRING SALAKA. Setelah tercipta semua, Hyang Guru mencipta wanita nan elok rupawan untuk menjadi istrinya. Wanita tersebut diberi nama Dewi Uma. Dari Dewi Uma inilah lahir 30 (tiga puluh) dewa.

Hyang IsmayaHyang Ismaya

Lahirnya Bathara Kala

Selesai mencipta isi jagat raya, manusia, dewa, dan segala macam makhluk halus, Hyang Guru berkeinginan terbang mengelilingi bumi dan bercengkerama dengan Dewi Uma. Perjalanan Hyang Guru menunggangi kendaraan seekor sapi sakti yang disebut Lembu Andhini, dan didampingi Dewi Uma istrinya.

Hyang ManikmayaHyang Manikmaya

Waktu sudah hampir senja, perjalanan Hyang Guru dan Dewi Uma sampai di atas samudra raya, tepatnya di atas Nusa Kambangan. Paras Dewi Uma yang terkena sinar surya lembayung sutra tampak cantik mempesona. Melihat keindahan Dewi Uma, tergugahlah birahi asmara Hyang Guru. Diajaklah dewi Uma untuk memadu cinta di atas punggung Lembu Andhini. Sang Dewi Uma menolak ajakan Hyang Guru untuk bercinta. Hyang Guru memaksa tetapi Dewi Uma tetap tidak mau menanggapi sebab tidak patut memadu cinta di atas punggung Lembu Andhini. Hyang Guru tetap memaksa, Dewi Uma dipangku, Dewi Uma tetap menolak ajakan Hyang Guru. Karena hasratnya yang tak tertahankan keluarlah kama (mani) dari Hyang Guru dan jatuh di samudra. Kama jatuh di samudra dan menjadi raksasa besar dan menakutkan. Dewi Uma berkata, “Tidak biasa paduka Hyang Guru, mempunyai kehendak malah berwujud raksasa ! Apa tidak bisa sabar sebentar jika sudah sampai di Kayangan.” Seketika itu, karena ucapan Dewi Uma maka Hyang Guru keluar taring yang tajam.

Bathara KalaBathara Kala

Taringnya Bathara Kala

Hyang Guru dan Dewi Uma kembali ke Kayangan. Di Kayangan sudah lengkap para dewa menghadap Hyang Guru. Datanglah raksasa dari kama yang jatuh di samudera untuk bertanya siapa orang tuanya. Hyang Guru tidak mengelak, raksasa diberi nama BATHARA KALA.

Bathara Kala diminta untuk menyembah dan bersujud di hadapan Hyang Guru. Ketika bersujud rambut ditarik, seketika Kala menghadap ke atas untuk melihat ayahandanya. Ketika menghadap ke atas keempat taringnya di potong ujungnya. Keluarlah bisa cair dari ujung taringnya, seketika itu Kala lemas tak berdaya. Ujung taring berubah menjadi panah dan keris. Panah Posopati kelak diberikan kepada Arjuna dan Sanjata (panah) Kunta kelak diberikan kepda Adipati Karna. Kerisnya bernama Pulanggeni dan Kalanadhah, kedua keris tersebut kelak diberikan kepada Arjuna. Rambut yang dicabut dari Kala berubah menjadi busur panah yang nantinya menjadi pasangan Pasopati dan Sanjata Kunta.

Bathari Kali (Durga)

Ingat akan asal muasal kejadian bahwa ada dewa yang berwujud raksasa, Guru sangat marah kepada Dewi Uma. Rambut yang digelung ditarik  terurai dan tidak beraturan, kepala dibalik dan berubahlah Dewi Uma menjadi Raksesi (raksasa putri). Sang Dewi Uma menangis dan minta ampun. Hyang Guru berkata, “Terimalah yang menjadi garis kehidupan, badanmu yang menjadi raksesi akan menjadi istri Bathara Kala tetapi rohmu tetap menjadi istriku.” Setelah berkata demikian Hyang Guru memanggil Dewi Laksmi. Dewi Laksmi itu adalah anak Jin yang bernama Jin Laksma. Wajah dan badan Dewi Laksmi sangat mirip dengan Dewi Uma. Dewi Laksmi menghadap Hyang Guru kemudian rohnya dicabut dan dimasukkan ke dalam tubuh raksesi. Tubuh Laksmi dimasuki roh Dewi Uma dan diberi nama Dewi Uma. Tubuh raksesi yang dimasuki roh Laksmi diberi nama Bathari Kali (Durga), kemudian diberikan kepada Kala untuk menjadi istrinya. Kala dan Durga disuruh untuk menempati papan yang bernama Nusa Barong (Nusa Kambangan) dan memerintah segala jenis makhluk halus. Kala dan Durga menuruti kehendak Hyang Guru dan diberi makanan lobang-lojo (elo  abang dan elo ijo)

Bathari DurgaBathari Durga

Makanan Bathara Kala

Kala dan Durga mengahadap Hyang Guru di Kayangan untuk meminta makanan.

Hyang Guru berkata, “Kamu sudah saya beri makan lobang-lojo, kenapa kamu berdua masih minta makanan?”

Jawab Kala, “Lobang-lojo tidaklah enak dimakan.”

Hyang Guru berujar, “ Lha yang kamu minta itu makanan seperti apa?”

Kala kembali matur, “ Ketika senja tiba ada orang naik pohon, saya pegang dan saya makan, rasanya enak sekali dan terasa segar di badan.”.

Guru kembali berujar, “Yang kamu makan itu abdiku si Petung Murat, pekerjaanya mengambil nira aren.”

Jawab Kala, “ Lha makanan yang seperti ini yang saya mau.”

Hyang Guru memberi makan, manusia yang mempunyai kodrat demikian :

  1. Bocah ontang-anting : yaitu anak tunggal
  2. Bocah kedhana-kedhini : yaitu saudara laki dan perempuan
  3. Bocah kembar : dua anak lahir dalam satu hari baik perempuan semua ataupun laki-laki semua.
  4. Bocah dhampit : dua anak lahir dalam satu hari, satu laki-laki sedangkan yang satu perempuan
  5. Bocah Gondhang kasih : anak kembar satu putih sedangkan yang satu hitam
  6. Bocah tawang gantungan : anak kembar tapi lahir tidak dalam satu hari.
  7. Bocah wungkus : anak yang lahir masih terbungkus
  8. Bocah sakrendha : dua anak atau tiga anak yang lahir dalam satu bungkus
  9. Bocah wungkul : lahir tanpa ari-ari
  10. Bocah tiba sampir : lahir berkalung usus
  11. Bocah tiba ungker : anak lahir terbelit usus atau lahir penyakitan, tidak bisa menangis
  12. Bocah jempina : lahir belum masanya : 7 bulan atau 8 bulan
  13. Bocah margana : lahir di perjalanan
  14. Bocah wahana : lahir di keramaian (di pasar, saat pesta)
  15. Julung wangi : lahir bersamaan terbitnya matahari
  16. Julung sungsang : lahir pas tengah hari
  17. Julung sarab : lahir menjelang senja
  18. Julung pujud : lahir saat senja
  19. Kembang sepasang : dua anak perempuan semua
  20. Uger-uger lawang : dua anak laki-laki semua
  21. Sendhang kapit pancuran : tiga anak,  satu perempuan di tengah
  22. Pancuran kapit sendhang : tiga anak,  laki-laki satu di tengah
  23. Sarombo : empat bersaudara laki-laki semua
  24. Sarimbi : empat bersaudara perempuan semua
  25. Pancala putra (pandhawa) : lima bersaudara laki-laki semua
  26. Pancala putri : lima bersaudara perempuan semua
  27. Pipilan : lima bersaudara satu laki-laki, empat perempuan
  28. Padangan : lima bersaudara satu perempuan, empat laki-laki
  29. Orang membakar rambut
  30. Orang membakar tulang
  31. Orang membakar galar (alas tempat tidur dari bambu)
  32. Orang membakar  munthu dan irus
  33. Orang membakar sapu lidi
  34. Orang membuang kutu rambut yang masih hidup
  35. Orang yang membuang garam
  36. Orang membuang air dari sop atau sayuran
  37. Orang tidur di pagi hari
  38. Orang tidur di tengah hari
  39. Orang tidur di senja hari
  40. Orang makan sambil tiduran

Masih banyak lagi menurut Pustaka Raja Purwa ada 151 jenis manusia yang menjadi makanan Bathara Kala.Setelah memberi tahu Kala dan Durga, Hyang Guru memberi bedak sebagai syarat jika ada orang yang akan di makan hendaknya diberi bedak dahulu.

Dhalang Kandhabuwana

Mendengar penuturan Hyang Guru yang tentang makanan Kala, tergagetlah  Hyang Narada. Hyang Narada mengingatkan, jika sebanyak itu makanan Kala, maka akan habislah manusia di bumi. Menyesalah Hyang Guru, diutuslah Bathara Wisnu ke bumi untuk membebaskan manusia sukerta (manusia yang mejadi makanan bathara Kala). Kepergian Bathara Wisnu disertai oleh Bathara Narada dan Bathara Brama. Perjalanan di bumi Bathara Wisnu menyamar sebagai Dhalang Kandhabuwana. Hyang Brama menjadi wanita penggender berganti nama Nyai Saruni dan Hyang Narada menjadi tukang kendang dan berganti nama Kyai Kalunglungan.

Pengikut Bathara Kala

Dalam perjalanan Kala lelah dan beristirahat di bawah pohon. Karena tertarik pada pohon yang telah membuatnya nyaman maka pohon itu diberi nama pohon asem yang artinya Kala kesengsem (tertarik). Sambil beristirahat kala meludah, anehnya ludah di makan oleh dua binatang. Dua binatang tadi oleh kala diberi nama Kala Jengking dan Kelabang (kala abang/merah). Sampai di sngai ada sejenis ikan yang selalu mendekati dan memakan ludah nya. Sejak saat itu hewan tersebut diberi nama Kala Ele (Lele), sedangkan air yang mengalir tempat ikan hidup diberi nama Kala Keli (Kali).

Jaka Jatusmati

Di sebuah desa yang disebut Dukuh Medang Gati, di sana hiduplah janda yang bernama Nyi Prihatin. Nyi Prihatin mempunyai anak tunggal yang bernama Jaka Jatusmati. Suatu saat Jaka Jatusmati disuruh ibunya untuk mandi di  Telaga Mandirda. Betapa kagetnya Jaka Jatusmati melihat raksasa Bathara Kala sedang mandi di telaga. Tanpa pikir panjang berlarilah Jaka Jatusmati secepat kilat untuk menyelamatkan dirinya. Bathara Kala pun mengejar seolah tidak mau kehilangan mangsanya.

 Bumbung Wungwang

Jaka Jatusmati yang dikejar kala melihat bumbung Wungwang (bambu bolong dua ujungnya) di tengahah halaman rumah. Jaka Jatusmati masuk ke bumbung wungwang. Kaki Kala menyandung bumbung tadi, bumbung dipegang Kala, tetapi Jatusmati lari lewat lubang yang lain. Lepaslah Jatusmati yang sudah hampir dipegang Kala. Seketika itu Kala berserapah,“Barang siapa menaruh bumbung wungwang di halaman rumah, maka orang tersebut akan menjadi mangsaku.”

 Tanaman Rambat di Halaman Rumah.

Kala meneruskan perburuan Jatusmati. Rambut Jatusmati hampir kepegang oleh Kala. Kala tidak beruntung, mangsa yang sudah di depan mata lepas karena ia jatuh menyandung pohon yang merambat di halaman rumah. Kala kembali mengumpat, “orang yang menanam tanaman rambat di halaman rumah akan celaka.”

Rumah Ndhandhang Ngelak

Ada orang yang membuat rumah dengan rangkaian bambu (empyak). Satu rakitan sudah selesai dan dinaikkan ke tembok sedangkan rakitan yang satunya belum dibuat. Jatusmati bersembunyi di balik tiang rumah. Ketika Kala mau menubruk Jatusmati, rumah roboh dan Jatusmati lepas. Kala bersumpah serapah, “Ini namanya rumah ndhandhang ngelak, siapa membuat rumah seperti ini akan berkurang rezekinya.

Menumbuk Jamu di Depan Pintu

Ada perempuan cantik sedang menumbuk jamu di depan pintu rumah. Sementara perempuan tadi baru meracik jamunya batu dan penumbuknya ditinggal di depan pintu. Jatusmati bersembunyi di dekat batu tempat menumbuk jamu. Kala menubruk Jatusmati tetapi tidak kena dan Kala mengenai batu penumbuk. Kala berserapah, “Siapa yang menumbuk jamu di depan pintu akan berkurang rezekinya.

 Dandang Roboh

Ada perempuan yang sedang memasak menggunakan dandang, semua pintu rumah tertutup rapat. Dandang ditinggal pergi dan dipercayakan kepada kakek tua untuk menunggu di luar rumah. Jatusmati pura-pura menunggui api tempat memasak. Kala mengintip dari luar rumah. Tahu dirinya diintip, Jatusmati lari mengelilingi dandang. Kala menubruk dan mengenai dandang, terguyurlah badan Kala oleh air panas yang ada di dandang. Kala mengumpat-umpat, “Orang yang memasak ditinggal pergi, berkuranglah kekayaannya , berkuranglah berasnya.”

Wayangan di Medang Tamtu

Diceritakan di desa Medhang Tamtu, Ki Buyut Wangkeng kedatangan anaknya perempuan Rara  Primpen  dan menantunya Buyut Gedhuwel alias Jaka Sodhong. Keduanya masih penganten baru dan belum dikaruniai anak. Rara Primpen tidak terima karena dijodohkan dengan Jaka Sodhong yang orang desa dan jelek rupanya. Buyut Wangke meminta anaknya untuk patuh dengan orang tuanya untuk tetap setia pada suaminya. Rara primpen setuju namun mempunyai permintaan agar megundang Dalang Kandhabuwana. Datanglah Dalang Kandhabuwana legkap dengan tukang kendang dan penabuh gender mendalang dengan lakon”Manikmaya.”

Diceritakan, saat ki dalang memainkan wayang, Jatusmati lari ketempat tersebut. Jatusmati mentyelinap di barisan penabuh gamelan dan bersembunyi dibalik gong sambil memainkan kenong. Tidak lama kemudia Kala mengikuti dan berhenti di depan tarub. Kala tertegun melihat tempat duduk dalang. Sampai sekarang tempat duduk dari anyaman mendong tersebut diberi nama KALASA.

Di halaman, Kala bersandar di cikal. Cikal miring, sampai sekarang pohon tersebut terkenal dengan nama KALAPA (kelapa). Karena terhibur, Kala sampai lupa pada Jatusmati buruannya. Ketika adegan wayang lucu,  Kala ikut tertawa. Tertawanya menggelegar sehingga membuat semua orang takut. Satu persatu para penonton pergi  sehingga dalang menghentikan pertunjukkannya. Kala meminta dalang untuk meneruskan pertunjukannya,  apapun permintaan dalang. Dalang meminta bedak pemberian Hyang Guru. Kala menyetujui asalkan bila Kala dapat mangsa, bedak boleh diminta kembali oleh Kala.

Ketika pertunjukkan wayang berlangsung ada empat maling. Kuthila tugasnya mematai-matai, Langkir tugasnya melarikan barang curian, Penthungluyung tugasnya berjaga-jaga, dan Jugil Awar-awar tugasnya mencongkel pintu. Keempatnya akan maling bersamaan, ketemu dengan orang membawa obor. Kuthila dan langkir lari, sedangkan Penthungluyung dan Jugil Awar-awar masuk ke dalam tempat menabuh gamelan. Mereka berdua ikut memainkan gamelan kecer dan kemyang.

Kala mengantuk sehingga dilempar telur oleh dalang. Telur masuk ke mulut, bangunlah kala karena merasa segar. Kala mencium bau bayi yang baru lahir. Kala berniat memakan karena bayi tersebut bayi tibo sampir.

Jatusmati merasa aman karena Kala tidak kelihatan. Larilah Jatusmati  ke luar. Tanpa disadari Kala langsung memegang pundak Jatusmati.

Dalang Kandha Buwana Membebaskan Mangsa Kala

Kala yang memegang bayi dan Jatusmati akan memakan dua-duanya. Tetapi teringat perintah Hyang Guru. Sebelum memakan, mangsa harus dibedaki terlebih dahulu. Tetapi bedak ada di tangan Dalang Kandhabuwana. Kala meminta bedhak kepada Ki Dalang. Ki Dalang bersedia menyerahkan bedak asalkan Kala menyerahkan bayi dan Jatusmati. Kala pun menyetujui permintaan dalang dengan menyerahkan bayi dan Jatusmati.

Kala Diusir beserta Wadya Balanya

Ketika Dalang Kandhabuwana mengetahui rahasia Kala maka lemaslah Kala. Kala berucap, “ Saya mengakui kalau saya kalah tua dengan Ki Dalang dan saya akan menganggap bawa dalang adalah orang tua saya.” Kandhabuwana menerima Kala dan menyuruhnya  beserta wadya balanya untuk pergi. Kala disuruh untuk bertempat tinggal di gunung MENGGER kawasan hutan KRENDAWAHANA.

Kala mengikuti perintah Ki Dalang. Sebelum berangkat Kala dimandikan dengan banyu mulya dan banyu kembang setaman. Setelah mandi Kala berbakti dan berujar “ Di Kayangan yang saya hormati adalah Hyang Guru. Di bumi yang saya hormati adalah Ki Dalang Kandhabuwana. Keturunan Ki Dalang akan saya hormati dan patuhi.”

Durga diperintah untuk  berdiam di hutan Krendhawahana. Durga pergi diikuti oleh jim setan, dan makhluk halus yang lainnya. Makhluk tersebut meminta bekal berupa KALABANJAR setan yang bertempat di halaman rumah dan KALAENJER setan yang berdiam di perempatan dan pekerjaannya menjegal orang yang lewat karena sajiannya tidak lengkap.

Roh Baik Diminta untuk Menjaga Manusia

Setelah segala makhluk pengikut Kala pergi, Kandhabuwana menyuruh pada roh-roh kebaikan untuk menjaga manusia.

Raden Sadana diminta untuk menjaga kekayaan

Dewi Sri diminta untuk menjaga rezeki yang berupa sandang dan pangan

Gumbreg dewa kerbau diminta menjaga segala hewan piaraan (sapi dan kerbau)

Hyang Mariyi diminta untuk menjaga ayam dan binatang berbulu (unggas) yang lain.

Nyai Wadon

Neneknya bayi yang akan dimangsa Kala, menghadap Kandhabuwana untuk meminta kembali cucunya. Kandhabuwana bersedia menyerahkan kembali bayi dengan tebusan gedhang ayu dan suruh ayu lengkap dengan bumbunya. Nyai Wadon memberi tebusan, kemudian bayi diserahkan dengan dibekali jarik Liwatan dan Tuluhwatu.

Jatusmati Dimandikan

Sekembalinya Nyai wadon mengendong cucunya, Jatusmati dipanggil untuk dimandikan. Sewaktu mandi diberi mantra PADUSAN JATUSMATI. Kemudian namanya diganti, bukan Jatusmati tetapi JAKA MULYA. Jaka Mulya disuruh mengucapkan RAJAH KALA-CAKRA untuk menolak rencana jahat Bathara Kala. Bunyi rajahnya :

Eh Pangracana mariya mulih!

Eh Kang luwe amaregana!

Eh kang aweh mlarat anyukupana!

Eh kang anyikara mariya nangsaya!

Eh kang amerangi laruta kuwatira!

Eh kang para-cidra kogel welasa!

Eh kang dadi ama yogya asiha!

Sesudah mengucapkan RAJAH KALA-CAKRA , Jaka Mulya dipersilahkan pulang kembali ke orang tuanya.

Dua Maling Menghadap Kandhabuwana       

Pethungluyung dan Jugil Awar-awar menghadap ke Kandhabuwana. Mereka berdua meminta perlindungan dan berjanji ”Anak dan cucu saya yang juga jadi maling, jika sampai berani berbuat tidak baik terhadap keturunan dalang, jangan sampai tergapai cita-citanya dan pendeklah umurnya.”

Sapujagat

Dua maling mundur, Kandhabuwana mengucap mantra untuk memanggil saudaranya KI SAPUJAGAT. Ki Sapujagat diminta untuk membersihkan semua pengikut Bathara Kala. Ki Sapujagat segera mengusir semua pengikut Kala sampai habis. Tinggal dua yang masih ada yaitu:

KALA LUMUT, makhluk tanpa tulang hanya daging dibungkus kulit, tempatnya  di sumur. Anak cucu manusia jangan sampai bercanda di sumur, bisa diganggu Kala Lumut.

KALA LUMUR, Makhluk tanpa tulang dan bertempat di dapur. Supaya selamat setiap kali memasak hendaklah mengambil sedikit makanan untuk diberikan kepada Kala Lumur. Setelah memberi pesan, Sapujagat melesat kembali ke perut bumi. Dalang Kandabuwana memanggil Ki Buyut Wangkeng supaya mandi sekeluarganya tujuh kali siraman dan menahan napas. Diminta untuk slametan, mengenang leluhurnya, dalang beserta penabuhnya, dan desa seisinya. Paripurna permainan wayang Ki Dalang Kandabuwana. Ruwatan sudah selesai, bumi selamat. Dalang serta tukang kendang dan gender kembali menjadi dewa kemudian pulang ke Kayangan.

TANCEP KAYON

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: