Nenek Renta di Stasiun Bogor

Nenek Renta di Stasiun Bogor

Salah satu sudut Stasiun Bogor tampak ramai. Pukul delapan pagi, Sabtu, 28 Oktober 2017 langit tampak cerah. Celotehan beberapa orang terdengar riuh ikut mengisi kesibukan stasiun.  Sekitar delapan orang meriung di area dekat pembelian tiket. Sebagian orang berdiri mematung tanpa aktifitas turut memadati pintu masuk. “Silahkan geser sebelah sana,” terdengar pinta satpam dengan nada sopan. Beberapa orang acuh dengan himbuan tersebut.

Aku bergeser ke arah barat stasiun yang dibangun tahun 1872. Nenek tua kudapati sedang duduk.  “Minumanku tertinggal di kereta, rasanya leher ini kering,” ucap nenek di sebelah kananku. Raut wajahnya sudah berkeriput. Giginya tinggal satu di rahang atas. Urat-urat wajah mulai tampak mengendur.

Tangan kanannya memegang roti. Ia terus menyantap roti itu. Sembari makan ia terus berucap, “Sebenarnya saya sudah punya minum, tetapi tertinggal”. Ia mengajak berbicara dengan temanku seolah sudah akrab. “Nenek mau minum,” kata temanku. “Tidak usah!”jawab nenek dengan logat sunda. “Saya sudah punya minum tetapi tertinggal,”ucapnya berkali-kali. Tanpa menjawab temanku bergegas membeli minum.

Tak jauh dari tempat kami duduk terdapat mobil penjual minuman. Temanku menunjuk pada satu air mineral. Langsung ia membayar satu botol minuman. Ia segera kembali ke tempat nenek duduk. “Nek, ini minumnya ya!”kata temanku sambil menyerahkan botol itu. “Terima kasih’’ jawab nenek sambil menyahut botol minum.

Nenek tidak segera membuka minuman. Ia letakan botol di sebelah kiri tubuhnya. Mulutnya terus menyantap roti yang bungkusnya masih menempel di roti. Kini nenek mulai mendekatkan tubuhnya ke arahku.

Dengan mulut yang masih mengunyah roti nenek terus berbicara. Ia  mengisahkan perjalanan naik kereta. Nenek  mengantri untuk mengambil kembali uang jaminan kartu sampai lama. Turut berdesakankan dengan tubuh yang mulai tidak kuat. Terucap kata lelah dari tuturnya sambil menghela napas. Uang jaminan kartu sebesar sepuluh ribu rupiah pas untuk perjalanan naik angkot. Tidak lagi ada uang yang ada di dompetnya.

Nenek mengangkat kantung plastik berwarna putih. Ïini belajaan dari pasar,”ucapnya sambil berdiri. Jalannya tidak seimbang lagi. Tangan kirinya mengarah ke padaku. Kusambut tanganya. Aku bantu ia menuruni dua anak tangga. “Sendirian Nek”,”ucapku sambil terus memegangi tangan nenek. “Ya,!”ucapnya sambil berjalan meninggalkan stasiun yang dulunya bernama Butenzorg.

Aku berpikir jika uangnya kurang.  Kubuka dompetku dan kutarik satu lembar. “Ïni Nek, untuk tambah ongkos pulang.”ucapku. “Terima kasih,”ucapnya tanpa menengok. Ia terus berjalan dengan tubuh yang condong ke kiri. Kaki kirinya sudah tidak lurus lagi. Kupandangi jalannya mengarah ke barat. Sampai belokan baru aku balik ke tempat aku duduk tadi.

Kulihat teman yang ditunggu sudah datang. Segera kami berkumpul dalam rombongan. Kami meninggalkan Stasiun Bogor ke Kebun Raya Bogor. Dalam benakku masih terbayang wajah nenek yang kutemui tadi. Sayang aku tidak mengenal namanya.

Advertisements

Tujuh Tempat Misteri di Kecamatan Minggir

Tujuh Tempat Misteri di Kecamatan Minggir

Minggir adalah nama salah satu kecamatan di wilayah Kabupaten Sleman. Sesuai dengan namanya,  kata “Minggir” adalah sebuah tempat yang terletak di daerah pinggiran barat wilayah Kabupaten Sleman. Sebuah kecamatan yang menjadi salah satu lumbung padi di Yogyakarta. Dibalik suasana pedesaan yang damai dan asri, Kecamatan Minggir menyimpan beberapa tempat yang misterius. Berikut adalah tujuh tempat di wilayah Kecamatan Minggir yang menyimpan misteri.

1. Gunung Blimbingan

Penduduk di sekitar tempat ini menyebut dengan Gunung Blimbingan. Jika menyebut kata “gunung”  pasti orang akan berpikir bahwa tempat ini adalah sebuah gunung yang tinggi. Tidak sesuai dengan namanya, Gunung Blimbingan hanyalah gundukan tanah yang lebih tinggi dibanding wilayah yang lainnya. Disebut dengan nama bukit saja belum pas karena ukurannya belum memenuhi syarat sebagai bukit. Gunung ini terletak di ujung Dusun Blimbingan yang masuk dalam wilayah Desa Sendangmulyo Kecamatan Minggir.

Konon ditempat ini ditunggui oleh kyai yang akan semasa hidupnya mempunyai seperangkat gamelan Jawa. Menurut cerita yang dituturkan secara turun-temurun, secara gaib gamelan tersbut hilang bersama dengan sang empunya. Yang menjadi keanehan, warga yang akan meminjam gamelan dapat meminta izin kepada roh dengan melakukan ritual yang dilengkapi sajian. Ajaibnya gamelan sudah berada di rumah orang yang meminjam tanpa harus mengangkatnya. Hanya saja si peminjam harus menempatkan dan memperlakukan gamelan secara khusus. Sebelum gamelan dibunyikan harus dibungkus dengan kain putih untuk menjaga kesakralan.

Suatu saat ada warga yang meminjam seperangkat gamelan. Kisah yang berkembang, warga tersebut tidak mengembalikan salah satu gamelan yaitu gong. Secara mengejutkan gong yang dijual mengilang dan orang-orang percaya bahwa gong tersebut kembali kepada sang pemilik. Mulai saat itu, roh yang menunggu Gunung Blimbingan tidak berkenan untuk meminjamkan gamelan yang menjadi kesayangannya. Begitulah kisah misteri yang lambat laun sudah tidak dikenali oleh anak-anak generasi zaman sekarang.

2. Makam Ki Ageng Tunggul Wulung

Sebuah makam yang oleh masyarakat dikenal dengan makan Mbah Tunggul. Kisah secara singkat Ki Ageng Tunggul Wulung menceritakan bahwa beliau adalah Senopati  Sabdojati Among Rogo dari kerajaan Majapahit yang melarikan diri ke arah barat. Belaiau mendirikan pesanggrahan yang ada di daerah Mbeji yang sekarang menjadi Dusun Diro. Suatu saat beliau bersemedi di tepi Sungai Progo tepatnya di bawah pohon timo. Ki Ageng Tunggul Wulung beserta isteri dan tujuh orang pengikutnya serta Nyai Dakiyah akhirnya Mokswa (hilang beserta raganya). Demikian pula kelangenan yang berupa: Burung Perkutut, Burung Gemak, Macan Gembong, Macan Kumbang, Macan Putih, Nogo Ijo, Nogo Hitam, beserta Ayam Jago Wiring Kuning. Tempat Mokswanya Ki Ageng Tunggul Wulung tersebut kemudian atas saran seorang warga negara Belanda kepada Nyai Kriyoleksono supaya dibuatkan nisan seperti layaknya makam, dan difahami masyarakat banyak sebagai tempat yang wingit (mempunyai daya magis) sehingga banyak yang berziarah di makam tersebut. Makam Ki Ageng Tunggul Wulung berada di Dusun Dukuhan yang masih berada di wilayah Desa Sendangagung Minggir.

Sedangkan sejarah Tayuban adalah karena pada waktu itu ada seorang ledek (penari) bernama “Raden Nganten Sari Wanting” yang mempunyai niat mencari penglarisan melalui tirakat di komplek Makam Ki Ageng Tunggul Wulung. Akan tetapi kemudian ia hilang tidak diketahui rimbanya.Hal tersebut dianggap masyarakat sekitarnya bahwa Ki Ageng Tunggul Wulung menyukai ledek. Pada perkembangan selanjutnya setiap acara bersih dusun diadakan kenduri selamatan baik di makam maupun di rumah Juru Kunci. Dilanjutkan dengan tayuban dengan iringan Gendhing “Sekar Gadhung” dan sang ledek menari tanpa diibing karena dianggap yang ngibing adalah Ki Ageng Tunggul Wulung.

Menurut kesaksian seorang warga yang sering melakukan tirakat di makan Ki Ageng Tunggul Wulung, di temapt inilah banyak orang yang berkunjung untuk bersemedi. Tidak hanya nasyarakat sekitar tetapi juga orang-orang dari luar daerah  banyak bertirakat di makam Ki Ageng Tunggul Wulung.

Situs Makam Tunggul Wulung
Sumber gambar :https://https://jejakbocahilang.wordpress.com

3. Pohon Asem di Dusun Ngaranan

Di Dusun  Pranan yang terletak di wilayah Desa Sendangmulyo terdapat sebuah pohon asem yang besar. Disinyalir pohon ini sudah berumur selama ratusan tahun. Dilihat dari fisiknya pohon ini adalah pohon yang tertua di wilayah kecamatan Minggir. pohon yang tumbuh menjulang tinggi ini sangat dijaga kelesatriannya oleh masyarakat Dusun Pranan. Bahkan Pohon ini sangat dikeramatkan oleh penduduk di sekitarnya.

Bukanlah pohon angker yang perlu ditakuti, penduduk yang hidup di sekitar pohon tidak merasakan adanya hal yang menakutkan dari pohon ini. Hanyalah petuah orang tua yang mampu menggugah niat warga untuk tetap menjaga pohon yang sudah berumur ratusan tahun ini.

Pohon Asem Pranan
Sumber gambar : barnabassutrisno.wordpress.com

4. Sendang Penjalin

Sendang Penjalin adalah sebuah mata air yang berada di Dusun Jonggrangan yang masuk di wilayah Sendangrejo. Menurut kisah yang berkembang di masyarakat sekitar sedang ada tiga versi terjadinya Sendang Penjalin. Versi pertama dikisahkan bahwa daerah ini dulunya berupa hutan yang ditumbuhi rotan (penjalin). Hutan rotan terjadi karena ada seorang yang sangat sakti bernama Kyai Modang yang menggembara sampai di daerah ini. Dalam pengembaraannya, Kyai Modang mencari sumber mata air yang dapat diminum untuk melepas kedahagaannya. Kemudian Kyai Modang menancapkan tongkatnya yang terbuat dari rotan dan keluarlah sumber mata air yang sangat banyak mengeluarkan air. Karena sendang atau sumber air terjadi karena berasal dari tancapan rotan atau orang jawa menyebutnya penjalin maka sendang tersebut diberi nama Sendang Penjalin.

Versi kedua mengisahkan bahwa Sendang Penjalin terjadi karena suatu ketika perjalanan Sunan Kalijaga sampai di tempat ini. Pada saat mau berwudhu tidak ada air. Maka Sunan Kalijaga menancapkan tongkat yang terbuat dari rotan (penjalin) dan keluarlah air yang melimpah dari bekas tancapan penjalin. Oleh karena itu sumber air atau sendang diberi nama Sendang Penjalin.

Versi ketiga menyebutkan bahwa dulu ada seorang raja yang bernama Sunan Katong mengembara sampai tempat ini.  Sunan Katong adalah raja yang masih berkerabat dengan raja-raja di Demak. Rupanya perjalanan Sunan Katong dicegat oleh para begal dan kecu. Terjadilah perkelahian antara pengikut Sunan Katong dengan para begal. Senjata Sunan Katong berupa cambuk yang terbuat dari jalinan penjalin dapat direbut oleh para begal dan dibuang dekat dengan sebuah mata air. Rotan yang dibuang tumbuh dan berkembang biak menjadi sebuah hutan rotan atau penjalin. Maka sumber mata air di dekat hutan rotan tersebut dinamakan Sendang Penjalin.

Berkaitan dari kisah keberadaanya, tempat ini dianggap tempat yang wingit oleh masyarakat sekitar. Tempat ini dulunya banyak dikunjungi oleh masyarakat pada malem selikuran di bulan Ruwah menurut penganggalan Jawa. Masyarakat berbondong-bondong dengan membawa obor atau orang Jawa mengenal dengan sebutan “oncor”. bagi masyarakat yang menggeluti kebatinan tempat ini merupakan salah satu tempat untuk bertirakat.

5. Makam Curah

Makam curah terletak di dusun Kliran X yang  masuk dalam wilayah Desa Sendangagung. Tidak  seperti kuburan yang lain di tempat ini tidak ada tokoh cikal bakal yang dikuburkan di tempat ini. Masyarakat Kliran mengenal dengan sebutan “Kuburan Gede”. Asal mula disebut sebagai kuburan gede karena ditempat ini pada awalnya dipergunakan sebagai tempat pemakaman “Bekel”yang pada zaman dahulu adalah para pegawai kelurahan.

Kisah mistik yang ikut menjadi buah bibir warga adalah kejadian-kejadian yang mampu membuat berdiri bulu roma. Di sekitar kuburan terdapat daerah perkebunan. Suatu hari seorang warga yang sedang bekerja di kebun, melihat orang yang mencangkul di dekat makam. Setelah dilihat dengan seksama orang yang tadinya mencangkul hilang lenyap. Pada siang hari saja banyak kejadian yang cukup membuat bulu merinding apalagi pada malam hari, jika tidak bernyali orang akan berpikir ulang untuk  melewati daerah tersebut.

Di sebelah barat makam terdapat air terjun kecil yang dikenal dengan “Grojogan Curah”. di Air terjun tersebut yang ujungnya bertemu dengan aliran Sungai Progo juga merupakan tempat yang mistis. Salah seorang warga Dusun Kliran yang bernama Sumowikarto pernah melakukan bertapa selama empat puluh hari empat puluh malam. Ada tiga godaan yang dihadapi dalam semedi. Godaan pertama dan kedua bisa dihadapi dengan keyakinan yang teguh. Menjelang hari keempat puluh, godaan ketiga datang. Menurut kesaksian Sumowikarto, godaan yang ketika mampu menggagalkan pertapaanya. Kisahnya seorang wanita yang berparas cantik dan bertubuh elok mampu mengurungkan pertapaan yang sudah dijalani selama tiga puluh sembilan hari.

6. Jembatan Gandri

Jembatan Gandri terletak di Jalan Raya Ngapak, tepatnya berada di sebelah timur Dusun Klepu Sendangrejo. Cerita yang pernah terdengar terdapat sebuah kejadian aneh di sawah di sekitar Jembatan Gandri. Pada zaman dulu orang yang menggarap sawah dengan bajak harus melakukan ritual khusus. Ritual yang dilakukan adalah orang yang membajak di sawah tersebut harus menggunakan busana adat Jawa yang lengkap. Yang membuat lebih ganjil lagi adalah sawah yang dibajak dengan menggunakan busana Jawa hanya beberapa petak saja. Kini cerita itu tinggal kenangan yang tidak setiap orang pun pernah mendengar cerita tersebut. Pengolahan sawah sudah dikerjakan dengan tenaga mesin dan sudah meninggalkan ritual menggarap sawah dengan busana Jawa.

7. Jalan Antara Puskesmas Minggir sampai Lapangan Kebonagung

Berulangkali terjadi kecelaan yang berujung maut di sepanjang jalan antara Puskesmas Minggir sampai lapangan kebonagung. banyk sudah korban yang meninggal karena terjadi kecelakaan di daerah ini. Apakah karena ini disebabkan oleh mitos atau karena kurang kehati-hatian manusia dalam berkendara. Lebih dari lima orang meregang nyawa karena sedang menggunakan jalan ini. Kecelakaan ini terjadi setelah pemerintah membangun jalan ini sehingga menjadi halus. Mungkin saja faktor jalan yang halus ini yang membuat orang ngebut. tapi anehnya banyak juga di daerah Minggir yang jalannya halus dan lurus namun yang sering terjadi kecelakaan adalah jalanan di sekitar Puskesmas Minggir. Semoga tidak terjadi kecelakaan yang dapat menghilangkan nyawa orang lain.

 

Sepenggal Kisah yang Tersembunyi dari Loji Kebonagung

loji

Loji

Loji yang nampak megah pada zamannya masih berbekas  sampai sekarang. Kemegahan itu terlihat dari dari kekokohan bangunannya. Jika memandang dari bagunannya, maka secara cepat orang akan mengingat keberadaan masa kolonial di deaerah ini. Jika dilihat dari beberapa cacatan yang menarasikan bangunan ini, maka dapat dipastikan bahwa bangunan ini tidak lepas dari keberadaan Kolonial Belanda. Tidak sedikit juga orang yang tertarik akan historis dari keberadaan loji ini.

Lepas dari cerita sejarah atas keberadaan loji ini, terdapat satu cerita yang tidak banyak diketahui orang. Mungkin saja yang tahu hanya penuturnya sendiri. Beruntunglah cerita ini masih ada yang merekam dalam memori meskipun tidak seutuh cerita aslinya. Terdapat intrik kekuasaan, perebutan warisan, dan skandal yang selalu mewarnai sejarah panjang kehidupan manusia. Dalam cerita ini tidak disebutkan nama tokoh karena penutur menghindari salah paham bagi penerusnya.

Kisah ini diawali dari salah satu warga di Dusun Minggir II yang sering sakit-sakitan. Dalam jangka waktu yang cukup lama mereka selalu berganti-gantian didera sakit. Sang ayah sembuh maka ganti ibu yang sakit. Ibu sembuh giliran anak pertama yang sakit. Begitu terus berulang-ulang sehingga menimbulkan tanda tanya yang besar di antara tetangganya. Yang semakin membuat penasaran adalah sakit yang diderita tidak wajar. Keadaan inilah yang membuat hati tak tentram bagi keluarga tersebut.

Rasa penasaran yang sangat besar membuat sang ayah pergi ke salah salah satu dukun atau paranormal di dusun tersebut. Sang paranormal mengeluarkan kemampuannya dengan tujuan membantu memecahkan teka-teki yang selama ini mengganggu kehidupan salah satu warga. Dengan kemampuan spiritual yang mumpuni Simbah Dukun berhasil memecahkan misteri besar. Ternyata di pekarangan tersebut ditanami banyak sekali rajah. Sejenis mantera yang tertulis di kain kemudian ditanam di sudut-sudut pekarangan. Tujuan penanaman rajah untuk membuat penghuninya sakit dan tidak betah tinggal di pekarangan tersebut. Mengapa tempat tersebut ditanami rajah? Itulah pertanyaan yang mengawali cerita.

Dengan mata menerawang jauh Mbah Dukun mulai menuturkan cerita. Dulu sekitar tahun 1930-an, pekarangan ini ditempati oleh dua keluarga yang kebetulan kepala keluarganya kakak beradik. Seperti layaknya orang dusun mereka hidup sebagai petani yang menggantungkan hidupnya pada hasil sawah. Kehidupan dua keluarga ini tampak rukun. Sang kakak dikaruniai dua puteri, sedangkan sang adik mempunyai anak semata wayang. Guyup rukun dan saling membantu mewarnai kehidupan setiap harinya.

Badai kehidupan mulai menggoyang ketika sang kakak ingin menguasai pekarangan si adik. Sikap sang kakak inilah yang menjadi pemicu putusnya tali silahturahmi keluarga. Awalnya kehidupan yang harmonis menjadi bungkam tanpa kata tegur sapa. Saling menjelekan dan fitnah selalu menjadi santapan bagi warga sekitarnya.

Singkat cerita, sang kakak berkeinginan besar untuk memiliki pekarangan milik adiknya. Salah satu jalan adalah membujuk penguasa Belanda yang berkantor di loji. Penguasa yang pada waktu itu berwenang membuat surat kepemilikan tanah. Awalnya pihak loji menolak untuk membuat surat kepemilikan tanah atas nama sang kakak. Pihak loji tidak punya alasan yang sah untuk memindah tangankan kepemilikan tanah. Mata hati sudah buta, sang kakak menghalalkan segala cara. Dua putrinya disodorkan ke sang penguasa loji. Bak gayung bersambut, penguasa loji menerima durian runtuh yang dihidangkan. Di loji inilah saban malam terjadi skandal yang sangat menodai kehormatan wanita. Semua orang tahu, namun bungkam seribu kata. Ketakutan dapat membungkam hati nurani warga. Di situlah kata “lumrah” menjadi pembetulan dari tindakan yang nista.

Usaha untuk menyodorkan anaknya berhasil. Surat kepemilikan tanah keluar dan diteken oleh penguasa. Si adik tak berkutik untuk mempertahankan tanah warisan leluhurnya. Takut pada penguasa menjadi alasan utama untuk mengambil sikap mengalah.  Namun, si adik tidak tinggal diam. Dia mencari orang yang membuat rajah. Ditanamlah rajah di setiap sudut pekarangan tanpa ada yang ketinggalan. Sambil menghela napas Mbah Dukun berkata, “Itulah alasan kenapa tanah ini ditanami rajah.” Setelah si adik pergi pekarangan ini dikuasai oleh sang kakak. Namun, kekuatan rajah membuat sang kakak tidak kuat menempatinya. Dijualah tanah pekarangan ini. Mbah Dukun menegaskan ceritanya, “Waktu itu yang membeli tanah adalah orang tuamu. Orang tuamu tidak mengetahui bahwa tanah ini ditanami rajah”

Di akhir ceritanya Mbah Dukun mengingatkan kepada semua yang mendengar cerita. “Di loji itu telah terjadi sebuah peristiwa yang orang jarang mengetahuinya. Bangunan itu menyimpan banyak kisah. Salah satu kisahnya seorang ayah rela mengorbankan kehormatan anaknya untuk menguasai sejengkal tanah. Terdengar nista memang, tetapi ketika sifat angkara dan ingin menguasai hak orang lain, terkadang hati menjadi buta. Padahal mata hatilah yang harus tajam, meskipun mata fisik tidak dapat melihatnya.”

Dusun Jomboran Sendangagung Minggir

DUSUN JOMBORAN

Dusun Jomboran

Pintu Masuk Dusun Jomboran

Suasana dusun yang berada di penghujung selatan Sendangagung ini masih tampak hijau nan asri. Sawah hijau tampak menghampar berdampingan dengan dusun yang tenteram dan damai. Kehidupan masyarakat yang bersahaja sebagaimana kesederhanaan masyarakat pedesaan. Di pintu masuk dusun terdapat bangunan kecil yang terawat baik. Bangunan tersebut adalah gardu jaga peninggalan pemerintahan Kolonial Belanda. Keterawatan gardu menandakan bahwa masyarakat dusun sangat menghormati sejarah para pendahulunya.

Asal-usul Nama Jomboran

Pada awalnya daerah ini merupakan hutan belantara yang ditumbuhi berbagai macam tumbuhan besar. Seorang pengembara yang dikenal dengan nama Mbah Jombor beserta kerabatnya sampai di tempat ini. Mbah Jombor dibantu oleh kerabatnya membuka hutan untuk dijadikan tempat tinggal. Mbah Jombor juga membuka hutan untuk bercocok tanam. Lama-kelamaan daerah yang mulanya hutan berubah menjadi tempat pemukiman.

Mbah Jombor menetap di daerah ini sampai akhir hayatnya. Anak dan cucu Mbah Jombor bertambah banyak sehingga daerah tempat tinggal bertambah luas. Akhirnya daerah ini menjadi sebuah dusun yang penduduknya cukup banyak. Jika orang dari daerah lain ingin ke tempat ini selalu mengatakan “Jombor” meskipun Mbah Jombor sudah meninggal dunia. Lama-kelamaan kata “Jombor” menjadi biasa dan akhirnya daerah ini diberi nama Jomboran. Untuk menghormati Mbah Jombor, makamnya dirawat dengan baik oleh warga Dusun Jomboran.

Letak Geografis

Dusun Jomboran terdiri dari wilayah yaitu Dusun Jomboran, Tegalsari, dan Kisik Jomboran.  Dusun Jomboran terletak di daerah dataran rendah yang terdiri dari pemukiman dan area persawahan. Sedangkan Kisik Jomboran terletak di lembah Sungai Progo yang lebih rendah dibanding wilayah Jomboran dan Tegalsari.  Untuk menjangkau wilayah Kisik terdapat jalan menurun dari Jomboran. Letaknya yang berada di dekat sungai Progo menjadikan daerah ini sunyi jauh dari kebisingan kendaraan bermotor.

Dusun Jomboran berjarak sekitar 2,9 kilometer dari kantor Kepala Desa Sendangagung dan 3 kilometer dari kantor Kecamatan Minggir. Luas Padukuhan Jomboran 24,8 hektar yang terdiri dari area pekarangan seluas 15,3 hektar, area tegalan seluas 3,2 hektar,dan lahan pertanian seluas 6,3 hektar.

Batas-batas wilayah Dusun Jomboran berupa dusun yang lain di wilayah Sendangagung dan Sendangmulyo, sungai  dan persawahan. Batas-batas wilayah Dusun Jomboran adalah :

  1. Timur    : Dusun Menyolan (wilayah desa Sendangmulyo)
  2. Selatan : Sungai Progo
  3. Barat     : Sungai Progo
  4. Utara     : Dusun Nanggulan
Jomboran

Panorama sawah di Dusun Jomboran

Kependudukan dan Pembagian Wilayah

Jumlah penduduk Dusun Jomboran menurut pendataan pada tahun  2016 adalah  201 jiwa penduduk laki-laki dan 206 jiwa penduduk perempuan. Total jumlah penduduk kring 15 adalah 407 jiwa.  Jika dikelompokkan menurut usia maka dapat dibedakan dalam kelompok:

  1. Pelajar                        :    68 jiwa
  2. Usia Usia produktif :  206 jiwa
  3. Usia lanjut                 :   68 jiwa.

Dusun Jomboran dibagi menjadi dari dua Rukun Warga yaitu RW 33 dan RW 34. Wilayah dusun ini terdiri dari empat Rukun Tetangga. Masing-masing RW terdiri dari beberapa RT. Berikut pembagian wilayah pembagian RT :

  1. RW 33 terdiri dari RT 01 dan RT 02
  2. RW 34 terdiri dari RT 03 dan RT 04

Dalam perjalanan pemerintahan tingkat dusun, Jomboran pernah mengalami tiga kali pergantian kepala dusun.  Berikut ini adalah Dukuh yang  menjabat di Dusun Jomboran :

  1. Wignyo Sucipto
  2. Wagiyo Karjo Maryoto
  3. Sugiyono ( 2012 sampai sekarang)
Kisik

Daerah Kisik yang menjadi wilayah Jomboran

Program-program Dusun

Dalam menjalankan tugasnya, dukuh dan warga Jomboran mempunyai program-program yang bertujuan untuk menciptakan kesejahteraan warganya. Program-program tersebut adalah :

  1. Pembangunan Infrastruktur : Pembangunan infrasruktur dusun meliputi pembangunan  jalan beraspal dan cor blok, pembuatan talud,  bronjong pengaman tebing, perbaikan rumah ibadat, dan perbaikan rumah tidak layak huni.
  1. Pembangunan Ekonomi : Pembangunan ekonomi warga akan dilakukan pembentukan usaha tani yang menekankan pada kesejahteraan anggotannya.
  1. Pembangunan Sumber Daya Manusia : Di bidang sumber daya manusia akan mengoptimalkan kegiatan Posyandu dan pelatihan keterampilan bagi warga.

Kegiatan Ekonomi.

Mata pencaharian warga Dusun Jomboran bervariasi. Profesi yang digeluti warga adalah sebagai pedagang, petani, buruh tani, pensiunan pegawai negeri dan TNI/Polri, serta usaha di bidang swasta. Sebagaian besar warga bekerja sebagai petani. Kegiatan pertanian di dusun ini sangat baik karena didukung oleh irigasi yang cukup memadai. Dalam setahun petani dapat melakukan tiga kali panen. Kadang kala petani harus menanggung gagal panen karena serangan hama tikus dan wereng.

Para  petani biasanya akan banyak kesibukan pada musim tanam dan panen. Untuk mengisi kesibukan, selain bertani masyarakat memanfaatkan waktu luang dengan membuat kerajinan. Kerajinan yang banyak diminati adalah anyaman besek. Selain bahan mudah baku berupa bambu yang mudah didapat, pemasaran besek sangat mudah. Pengrajin tidak perlu pergi ke pasar untuk menjual produknya, para pengumpul besek sudah berkeliling kampung untuk  menampung besek.

Jenis kerajinan lain yang banyak digeluti warga adalah anyaman tikar. Pada umumnya para penganyam adalah kaum perempuan. Jarang sekali para laki-laki yang menekuni anyaman tikar. Selain rumit, dibutuhkan kesabaran yang tinggi mengingat bahan dasar mendong ini mudah patah jika cuaca cukup panas. Hasil kerajinan tikar dijual ke Pasar Kebonagung setiap pasaran Pon dan Kliwon. Anyaman tikar dari daerah Sendangagung dikenal luas ke berbagai  daerah. Pada era tahun 1960-1980  hasil kerajinan tikar dipasarkan sampai ke daerah Banyumas, Jawa Tengah.

Catatan tentang Dusun Jomboran – Tegalsari

Setelah Indonesia merdeka Agresi Militer Belanda masih terus dilancarkan. Hal ini mendapatkan perlawanan dari rakyat dan Tentara Rakyat Indonesia. Dalam perlawanan tersebut banyak korban jiwa yang berjatuhan. Salah satu warga  yang meninggal bernama Boas. Atas perjuangan Boas yang turut mempertahankan kemerdekaan, maka pemerintah Indonesia menganugerahi tanda pejuang di makamnya. Di makam Boas diberi tanda bendera merah putih dan bertuliskan pejuang sebagai tanda penghormatan terhadap jasa Boas.

Dusun yang terletak di pinggiran Sungai Progo ini mempunyai panorama yang indah.  Pemandangan yang indah sebuah alam pedesaan dengan berlatar perbukitan Menoreh. Keindahan pemandangan ini merupakan potensi yang cukup baik untuk dikembangkannya wisata di Dusun Jomboran. Potensi wisata ini perlu penanganan khusus untuk mengembangkannya.

Harapan Warga 

Dalam bidang pembangunan infrastruktur, warga Dusun Jomboran mengharapkan agar pemerintah desa memperhatikan pembangunan berbagai fasilitas yang menunjang kegiatan perekonomian. Di samping pembangunan fisik pemerintah melalui dinas terkait memperhatikan pendidikan dan karakter generasi muda. Secara karakter pemuda  di masa yang akan datang tanggap dan tangguh serta tidak tertinggal dalam perkembangan teknologi.

Warga dusun juga mengharapkan agar pemerintah memperhatikan keberadaan tempat ibadat yang ada di dusun ini. Di Jomboran terdapat tiga tempat ibadah yaitu Gereja Kristen Kerasulan Baru, masjid, dan musholla. Warga dan pamong mengharapkan agar pemerintah memperhatikan keberadaan tempat ibadat. Tempat ibadat perlu sarana seperti kipas angin untuk menciptakan suasana dalam tempat ibadah terasa nyaman. Hal ini akan meningkatkan kualistas dalam hal religiusitas warga.

Sumber: Sugiyono (Dukuh Jomboran)

Dusun Nanggulan Sendangagung Minggir

DUSUN NANGGULAN

Nanggulan

Jalan menuju ke Dusun Nanggulan

Suara burung kadang masih membelah kesunyian di pagi hari. Terdengar juga suara ayam jantan turut menyambut datangnya sang mentari. Hawa dingin turut menyemarakan suasana di pagi hari.

Itulah sekelumit gambaran susana Dusun Nanggulan yang terletak di Desa Sendangagung, Kecamatan Minggir, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yoggyakarta. Di dusun yang sunyi ini pernah  menjadi lokasi pendidikan sekolah polisi darurat paska kemerdekaan. Rumah yang menjadi lokasi adalah milik keluarga R. Brodjo Setjo. Pernah pemerintah bermaksud menghadiahkan bangunan berupa monumen, yang akan dibangun di Nanggulan, tetapi demi kemanfaatan yang lebih luas, maka bangunan itu kemudian diwujudkan menjadi Gedung Serbaguna dan dibangun di komplek Balai Desa Sendangagung.

Asal-usul Nama Nanggulan

Berdasarkan penuturan para tetua di wilayah Nanggulan, nama dusun berasal dari cerita yang dituturkan secara turun-temurun. Dikisahkan ketika zaman surutnya kerajaan Majapahit, para hulu balang dan prajurit banyak yang melarikan diri ke wilayah barat. Perjalanan ke wilayah barat dipimpin oleh Kyai Tunggul Wulung.  Kyai Tunggul Wulung diringi oleh tiga kerabatnya yaitu Kyai Kelir, Kyai Nanggul, dan Nyai Grunggung. Sampailah rombongan di daerah Diro yang sekarang masuk wilayah Sendangmulyo. Kyai Tunggul Wulung tinggal di Diro sedangkan Kyai Kelir berdiam di Kliran, dan Nyai Grunggung di Tengahan.

Kyai Nanggul  mendiami daerah yang asri di tepi sungai Progo. Daerah tersebut berada di sebelah barat Diro yang menjadi pusat daerah perdikan di kala itu. Kyai Nanggul bercocok tanam dan berdiam di tempat baru sampai beliau wafat. Sebagai penghormatan kepada Kyai Nanggul, tempat ini diberi nama Nanggulan. Kyai Nanggul dikebumikan di makam umum yang letaknya di penghujung dusun bagian utara. Sebelum masa kemerdekaan Nanggulan adalah sebuah wilayah kalurahan yang meliputi wilayah Tengahan, Dukuhan, Sawo, Nanggulan, Tegalsari, dan Jomboran. Kini Nanggulan menjadi salah satu wilayah dusun di Desa Sendangagung.

Makam

Makam Jaha tempat Kyai Nanggul disemayamkan

Kondisi Geografis

Wilayah Dusun Nanggulan terdiri dari area pemukiman, persawahan, tegalan, dan bibir tanah miring di tepi sungai Progo. Dusun Nanggulan seolah terbagi dua yaitu bagian timur dan bagian barat dengan jalan sebagai pembatas. Tanah persawahan sangat cocok ditanami berbagai jenis padi. Sepanjang tahun pertanian tidak akan berhenti karena cadangan air yang cukup untuk kegiatan pertanian.

Jika diukur dari atas permukaan laut, kira-kira ketinggian daerah ini sekitar 150 meter. Daerah yang termasuk dataran rendah dan di bagian barat padukuhan terdapat Sungai Progo yang menjadi salah satu batas dusun. Dari kantor Kecamatan Minggir kira-kira berjarak sekitar 1 km.

Batas dusun berupa sawah, sungai, dan wilayah dusun lain. Berikut batas-batas Dusun Nanggulan :

  1. Timur : Desa Sendangmulyo
  2. Selatan : Dusun Jomboran
  3. Barat : Sungai Progo
  4. Utara : Dusun Dukuhan
SD Sendangagung

SD Sendangagung terletak di Dusun Nanggulan

Kependudukan dan Pembagian Wilayah

Data yang diambil pada tahun 2016 menunjukkan bahwa jumlah penduduk Dusun Nanggulan sebanyak 650 jiwa yang terdiri dari 314 penduduk laki-laki dan 336 penduduk perempuan. Menurut golongan usia penduduk dikelompokan dalam :

  1. Pelajar                     :   58 jiwa
  2. Mahasiswa             :   16 jiwa
  3. Usia produktif       :   72 jiwa
  4. Usia lanjut              : 105 jiwa

Dusun Nanggulan dibagi menjadi dari tiga Rukun Warga yaitu RW 30, RW 31, dan RW 32. Pembagian wilayah RW yang ada di Dusun Nanggulan berdasarkan wilayah yang ada di padukuhan ini. Berikut RW yang ada di Dusun Nanggulan :

  1. RW 30 terdiri dari RT 01 dan 02
  2. RW 31 terdiri dari RT 03 dan 04
  3. RW 32 terdiri dari RT 05 dan 06

Roda pemerintahan di Dusun Nanggulan menjadi tanggung jawab dukuh. Dukuh bertanggung jawab terhadap rakyat yang memilihnya dan Kepala Desa sebagai kepala pemerintahan di jajajaran pemerintah yang lebih atas. Di Dusun Nanggulan baru terjadi dua kali pergantian dukuh. Tidak seperti dusun lain yang sudah lebih dari dua kali pergantian. Dukuh yang pernah menjabat dan sekarang yang menjabat di Nanggulan adalah :

  1. Suyid
  2. Susardi (sekarang menjabat)

Program-program Dusun

Program Dusun adalah landasan yang digunakan warga Nanggulan dalam membangun dusun. Program tersebut dibagi menjadi tiga yaitu program jangka pendek, program jangka menegah, dan program jangka panjang.

  1. Program jangka pendek : Pengaspalan jalan
  1. Program jangka menengah : Pembangunan talud jalan
  1. Program jangka panjang : Pembangunan drainase

Kegiatan Ekonomi

Petani merupakan pekerjaan utama bagi warga Dusun Nanggulan. Pekerjaan yang ditekuni secara turun-temurun. Petani di Nanggulan banyak membudidayakan tanaman padi. Jenis padi yang di tanam rata-rata berumur  3-4 bulan. Adapula warga yang menekuni pertanian di pekarangan dan ladang. Jenis tanaman yang cocok ditanam di ladang adalah singkong dan jagung.

Di sela-sela kesibukan, salah satu kegiatan yang bernilai ekonomi adalah membuat kerajinan. Jenis kerajinan yang ditekuni adalah besek dan tikar mendong. Sayang sekali kedua jenis kerajinan tersebut sudah kalah dengan produk pabrik yang berbahan dasar plastik. Di tengah membanjirnya produk berbahan dasar plastik, warga Nanggulan masih menekuni kerajinan berbahan dasar bambu dan mendong meskipun nilai jualnya murah.

Beberapa warga berusaha dalam bidang makanan ringan. Produk makanan yang sudah dapat dipasarkan di beberapa pasar tradisional dan warung adalah tempe dan peyek. Tempe yang berbahan dasar kedelai merupakan khas bagi warga pedesaan. Tempe hasil dari warga Nanggulan dijual di Pasar Kebonagung. Peyek khas Nanggulan sudah mengalami pembaharuan dalam hal kemasan sesuai selera pasar.

Serba-serbi Dusun Nanggulan

Dusun Nanggulan mempunyai jasa yang besar bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Jasa ini tidak hanya dipandang sebelah mata saja, namun semangat pengorbanan juga ditunjukan oleh warganya. Dusun ini pernah menjadi lokasi pendidikan sekolah polisi darurat pada masa setelah kemerdekaan. Warga menyediakan diri sukarela untuk memberikan tempatnya sebagai tempat sekolah polisi.

Sekolah polisi pertama kali didirikan di Sukabumi, Jawa Barat. Pada tahun 1946 sekolah polisi pindah ke Mertoyudan yang termasuk wilayah Magelang, Jawa Tengah. Pada waktu sekolah polisi digempur oleh Belanda, maka sekolah kepolisian pindah ke bangunan susteran di Jalan Senopati Yogyakarta. Kota Yogyakarta sebagai ibukota Negara Republik Indonesia diserang oleh Belanda, sekolah kepolisian pindah ke daerah pedesaan tepatnya di Nanggulan.

Selain berjasa bagi perjuangan bangsa, di wilayah Nanggulan digunakan sebagai tempat  untuk parade paralayang. Parade paralayang diselenggarakan di sekitar Sungai Progo yang masuk ke dalam wilayah Nanggulan. Parade ini merupakan potensi wisata di daerah Nanggulan. Perlu keseriusan untuk mengadakan parade secara berkala sehingga menjadi daya pikat bagi orang yang akan berkunjung ke Nanggulan.

Harapan Warga Nanggulan

Harapan warga Nanggulan kepada pemerintah Desa Sendangagung yakni supaya Desa Sendangagung semakin maju dan berkembang baik dalam pembangunan infrastruktur. Pemerintah desa juga semakin meningkatkan kesejahteraan masyarakat di tiap-tiap dusun.

Sumber: Susardi (Dukuh Nanggulan)

Dusun Dukuhan Sendangagung Minggir

DUSUN DUKUHAN

Tayub

Tayuban di Dusun Dukuhan  Sumber gambar : http://mediakawasanonline.blogspot.co.id

 

 

Dusun Dukuhan tidak lepas dari tradisi Tunggul Wulung dan tayub. Tradisi yang sudah mengakar dan berlangsung lama ini tidak lepas dari tokoh legendaris yaitu Kayai Tunggul Wulung. Menurut kisah warga Dukuhan, Kyai Tunggul Wulung merupakan tokoh kharismatik yang dipercaya dapat mendatangkan berkah bagi warga Dukuhan dan sekitarnya. Untuk menghormati keberadaan Kyai Tunggul Wulung maka setiap tahun selalu diadakan merti dusun.

Merti dusun dilaksanakan setiap setahun sekali sehabis panen pada bulan Agustus. Upacara merti dusun selalu dilaksanakan setiap hari Jumat Pon yang sudah menjadi agenda wisata dari Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman sejak tahun 1988 sampai dengan sekarang. Merti dusun ini diadakan sejak dulu ini bertujuan mensyukuri nikmat dari Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rezeki yang diterima. Dalam upacara merti dusun juga berisi doa permohonan agar tahun yang akan datang lebih baik dan terhindar dari mara bahaya.

Dalam upacara merti dusun selalu dipentaskan tayub. Pementasanya setiap tahun terkemas dalam upacara adat Ki Ageng Tunggul Wulung, dimana kesenangan Ki Ageng Tunggul Wulung menurut pendahulu warga Dukuhan adalah Seni Tayub. Kelompok Seni Tayub Sontit Kawilujengan adalah wadah untuk melestarikan seni tayub sebagi penerus generasi terdahulu.

 

Asal-usul Nama Dukuhan

Dusun Dukuhan pada masa sebelum kemerdekaan termasuk ke dalam Kalurahan Nanggulan. Di wilayah ini tediri dari tiga dusun kecil-kecil. Ketiga dusun kecil itu adalah Tengahan Bagian Selatan, Sawo, dan Talun. Setelah terbentuknya Desa Sendangagung ketiga wilayah ini bergabung menjadi satu wilayah administratif yaitu Dusun Dukuhan.  Untuk mempermudah administrasi kependudukan kemudian ditunjuk kepala dusun atau dukuh. Dukuh pertama Dusun Dukuhan bernama Sastro Widjojo. Beliau adalah salah satu tokoh terpelajar dan termasuk orang yang berada.

Rumah Sastro Widjoyo berada di Dusun Tengahan Bagian Selatan. Rumah yang besar dan halamannya yang luas pada waktu itu selalu dijadikan pusat kegiatan dusun seperti kenduri, musyawarah, pentas seni, upacara merti dusun, coblosan dan lain sebagainya. Ketika ada warga yang hendak pergi ke rumah Sastro Widjoyo ditanya oleh warga yang lain, jawabnya selalu ingin ke “Dukuhan”. Karena kata “Dukuhan” sering diucapkan oleh warga, lama-kelamaan daerah Tengahan Bagian Selatan dinamakan Dusun Dukuhan.

Itulah sekelumit cerita tentang asal-usul nama Dukuhan yang muncul setelah masa kemerdekaan. Jika nama padukuhan lain diambil dari nama tokoh cikal bakal yang mendiami padukuhan tersebut lain halnya dengan nama Dukuhan. Nama Dukuhan berasal dari sebutan yang sering diucapkan oleh warga untuk menunjuk letak rumah dukuh sebagai pimpinan dusun.  Warga sering menyebut letak rumah dukuh yang terletak di daerah Tengahan bagian selatan dengan sebutan Dukuhan yang artinya tempat tinggal dukuh. Itulah yang menjadi rujukan tentang asal-usul nama Dukuhan.

Gardu Ronda

Gardu Ronda di Dusun Sawo wilayah Dusun Dukuhan

Letak dan Kondisi Geografis

Letak Dusun Dukuhan berada 23 kilometer dari kota Yogyakarta ke arah barat. Dukuhan berjarak sekitar  800 meter dari kantor Desa Sendangagung. Kondisi geografis Dusun Dukuhan berupa tanah persawahan dan kolam ikan gurami di sisi sebelah timur, pemukiman warga, tegalan tanah kas desa, lembah kali Gedang di sebelah selatan dan berupa tanah pertanian/kehutanan terasiring di sebelah barat sampai ke tepi sungai Progo.

Batas dusun berupa sawah, sungai, dan wilayah dusun lain. Berikut batas-batas Dusun Dukuhan :

  1. Timur : Dusun Diro
  2. Selatan : Dusun Nangulan
  3. Barat :Sungai Progo
  4. Utara : Dusun Tengahan XII

Kependudukan dan Pembagian Wilayah

Dalam pendataan yang diadakan pada tahun 2016 menunjukkan bahwa jumlah penduduk Dukuhan sebanyak 195 penduduk laki-laki dan 238 penduduk perempuan. Jadi jumlah penduduk secara keseluruhan adalah 433 jiwa. Menurut golongan usia penduduk dikelompokan dalam :

  1. Pelajar :   25 jiwa
  2. Mahasiswa    :     7 jiwa
  3. Usia produktif : 289 jiwa
  4. Usia lanjut : 112 jiwa

Wilayah Dukuhan dibagi menjadi dari dua Rukun Warga yaitu RW 28 dan RW 29. Pembagian wilayah  RW yang ada di Dukuhan berdasarkan wilayah yang ada di dusun ini. Berikut RW yang ada di Dusun Dukuhan :

  1. RW 28 terdiri dari RT 01 dan 02
  2. RW 29 terdiri dari RT 03, 04, dan 05

Dukuh sebagai kepala padukuhan merupakan salah satu pimpinan yang dipilih langsung oleh rakyat. Sistem pemilihan dukuh secara langsung merupakan hak demokrasi rakyat untuk memilih pimpinan di tingkat dusun. Di Dukuhan telah terjadi tiga kali pergantian pucuk pimpinan di tingkat dusun. Dukuh yang pernah menjabat dan sekarang yang menjabat di Dusun Sukuhan  adalah :

  1. Sastro Widjoyo (1948 – 1992)
  2. Asruri (1992 – 2006)
  3. Heru Siswanto             (2006 sampai sekarang)

Program-program Dusun

Program pembangunan di Dusun Dukuhan disusun dalam jangka waktu lima tahun. Program ini dikelompokkan dalam infrastruktur, sarana kesehatan, pemberdayaan lingkungan, bidang seni budaya, pemberdayaan SDM dan perekonomian, pendidikan dan agama.

  1. Pembangunan infrastruktur
  2. Pengerasan jalan
  3. Pembangunan talud jalan
  4. Pembangunan drainase
  5. Pemanfaatan air bersih
  6. Pembangunan gapura
  7. Pemugaran pos ronda
  8. Pembangunan gudang lumbung pangan
  9. Pembangunan pagar makam
  10. Pembangunan sarana kesehatan
  11. Pangadaan MCK
  12. Pembuatan sumur resapan
  13. Bak dan gerobak sampah
  14. Posyandu
  15. Pemberdayaan lingkungan
  16. Penanganan lahan kritis sungai Progo
  17. Intensifikasi lahan pekarangan
  18. Penghijauann dan tamanisasi warga
  19. Bidang seni budaya
  20. Upacara adat Tunggul Wulung
  21. Pembuatan panggung kesenian
  22. Pembinaan kelompok kesenian
  23. Pengadaan dan pemeliharaan alat kesenian
  24. Pemberdayaan SDM dan ekonomi warga
  25. Pelatihan keterampilan ibu-ibu PKK dan penguat modal
  26. Penguat modal kelompok tani kehutan Lestari Bumi
  27. Penguat modal kelompok ternak kambing
  28. Penguat modal kelompok tani perikanan Mino Tumangkar
  29. Optimalisasi kelembagaan padukuhan (RT, RW, KKLPMD dan PKK)
  30. Pelatihan keterampilan pemuda
  31. Pengadaan sarana pertanian untuk kelompok tani
  32. Pendidikan dan keagamaan
  33. Pembangunan gedung PAUD dan fasilitasnya
  34. Perawatan dan pemugaran Masjid Timoho
  35. Perawatan dan pemugaran Masjid Luhur Tunggal
  36. Perawatan dan pemugaran Masjid Al Muta’alim

Kegiatan Ekonomi

Mayoritas penduduk Dukuhan bekerja di bidang agraris yaitu dengan mengolah sumber daya alam yang tersedia untuk dimanfaatkan hasilnya. Terbukti adanya beberapa kelompok kemasyarakatan bergerak di bidang agraris untuk kesejahteraan anggotanya. Dengan pembinaan dari PPL Kecamatan Minggir sektor perikanan, pertanian, dan kehutanan sangat berkembang di dusun Dukuhan. Gapoktan Ngudi Makmur, Kelompok Tani Kehutanan Lestari Bumi, dan Kelompok Tani Ikan Mino Tumangkar adalah wadah warga masyarakat mengembangkan diri dengan mengolah sumber daya ekonomi yang ada di dusun Dukuhan.

Bahkan untuk Kelompok Tani Ikan Mino Tumangkar kiprahnya dalam pembibitan ikan gurami sudah tingkat Nasional. Penghargaan yang pernah diperoleh adalah juara harapan II, Lomba Budidaya Ikan Gurami Tingkat Nasional pada tahun 2007 yang aset kekayaan kelompok lebih dari Rp 250.000.000,00. Sedangkan untuk kelompok tani kehutanan Lestari Bumi luas lahan yang ditanami tanaman keras pohon jati, mahoni dan sengon laut sekitar 6.000 m2, dan sudah mendapat pengukuhan dari pemerintah desa Sendangagung pada tahun 2008.

Di samping sebagai petani, pengrajin, pedagang dan tukang beberapa penduduk Dukuhan  juga bekerja di bidan formal seperti PNS, guru dan polisi walaupun jumlahnya hanya beberapa saja. Hasil produksi dari Dukuhan berupa hasil pertanian, perkebunan, peternakan, kerajinan dipasarkan di pasar-pasar seputar Sendangagung, seperti Pasar Kebonagung, Pasar Balangan, Pasar Ngijon bahkan sampai Pasar Kenteng dan Pasar Dekso di Kulon Progo. Hasil perikanan pembeli datang sendiri ke kelompok, bahkan kelompok sampai kewalahan melayani pembelian bibit karena hasil produksi bibit gurami dari kelompok tani Mino Tumangkar tergantung dari musim.

Akses jalan dan akses perekonomian menuju dan keluar Dukuhan saat ini sudah bagus dan sudah berbeda dengan beberapa tahun yang lalu. Sebelum dibangunnya jembatan Ngapak dan jembatan Kreo yang menghubungkan Kabupaten Sleman dengan kabupaten Kulon Progo, warga Dukuhan yang ingin bepergian ke pasar Dekso maupun pasar Kenteng menyeberang Sungai Progo menggunakan gethek atau rakit yang berada di Timoho dan  Kreo. Walaupun jasa perahu satangan ini yang mengusahakan penduduk Kulon Progo tapi keberadaannya sangat membantu warga Sendangagung, khususnya warga Dukuhan. Warga yang ingin bepergian ke Kulon Progo tinggal menuju ke Timoho kemudian membunyikan kentongan sebagai penanda ada warga yang mau menyeberang.

Adanya program pemerintah PNPM Mandiri juga ikut andil dalam membangun perekonomian warga Dukuhan, program yang dirasakan warga antara lain: lantainisasi, cor blok jalan, talud, jamban, dan simpan pinjam. Dari program ini banyak warga yang tertolong khususnya warga miskin yang berdampak pada semakin sejahteranya warga Dukuhan.

Mino Tumangkar

Budidaya ikan Mino Tumangkar

Produk unggulan Dukuhan XIII adalah :

  • Di bidang Perikanan yaitu benih Gurami Soang, yang telah terbukti unggul dalam pemeliharaan yaitu pertumbuhan yang cepat dan tahan penyakit. Benih ini dikembangkan dan diproduksi oleh Kelompok Tani Ikan Mino Tumangkar, dimana salah satu anggotanya terpilih sebagai narasumber dan sebagai trainer di bidang pembenihan gurami Dinas Pertanian Kabupaten Sleman, yaitu Mardiyo dari dusun Sawo.
  • Di bidang Kerajinan, ada anyaman mendong berupa tikar, besek, sangkar burung dan perabot dari anyaman bambu seperti pyan, kerai, dan kursi tamu dari bambu. Khusus untuk sangkar burung produksi berdasar pesanan.
  • Dibidang Pariwisata ada :
  1. Wisata religius berupa :
  • Masjid Tua Timoho
  • Petilasan Tunggul Wulung
  1. Wisata budaya berupa Upacara Adat Tunggul Wulung dengan agenda utama :
  • Kirab bergada Tunggul Wulung
  • Pentas seni Tayub Sontit Kawilujengan
  • Pagelaran wayang kulit semalam suntuk.

Sumber : Heru Siswanto (Dukuh Dukuhan)

Dusun Tengahan XII Sendangagung Minggir

DUSUN TENGAHAN XII

Dusun Tengahan XII

Pintu gerbang Dusun Tengahan XII

Satu keistimewaan Dusun Tengahan XII adalah seni wayang thengul. Satu-satunya daerah yang masih terdapat seni wayang thengul di daerah Sleman bagian barat. Wayang thengul adalah pertunjukan dengan menggunakan boneka kayu ataupun golek. Pada era 1970-an, seni pertunjukkan wayang thengul sangat diminati oleh warga. Namun sayang tidak ada meneruskan keahlian memainkan wayang thengul. Seiring dengan perkembangan zaman, wayang ini pun hilang dari kazanah seni tradisional di Desa sendangagung.

Dusun Tengahan berada di wilayah Desa Sendangagung, Kecamatan Minggir, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Seperti dusun yang lainnya mengalami perkembangan baik dalam pembangunan fisik dan sumber daya manusianya. Taraf kehidupan masyarakat tumbuh beriring dengan meningkatnya taraf pendidikan warganya.

Kondisi Geografis

Sebagian besar dusun ini berupa dataran rendah yang terdiri dari kampung sebagai tempat tinggal warga. Di bagian barat wilayah dusun berupa dataran miring di tepian Sungai Progo. Banyak jenis tumbuhan yang hidup di sepanjang tepian Sungai Progo. Beberapa jenis bambu seperti apus, ori, ampel,  wulung, legi,  dan petung tumbuh dengan subur.  Bambu apus digunakan oleh warga untuk membuat kerajinan seperti besek, bakul, tampah, dan tenggok.  Bambu  wulung digunakan untuk membuat gedhek untuk dinding rumah. Bambu jenis ori dan ampel biasanya digunakan warga untuk kayu bakar. Bambu petung digunakan sebagai bahan bangunan pengganti kayu.

Tanaman yang dimanfaatkan batang kayunya yang tumbuh di pakarangan bermacam-macam jenisnya. Beberapa jenis tumbuhan  yang dimanfaatkan kayunya adalah munggur atau trembesi, jati kebon, nangka, sengon, waru gunung, kelapa, dan sengon laut.  Jika membangun rumah warga cukup menebang pohon yang ada di pekarangan.

Luas wilayah Dusun Tengahan XII 29,45 hektar. Wilayah pekarangan yang dipergunakan sebagai untuk perumahan adalah 10,50 hektar. Luas area yang dipergunakan untuk sawah seluas 18,95 hektar. Dengan melihat data luas wilayah dusun, maka wilayah yang dipergunakan untuk sawah lebih luas dari pada area pemukiman.

Batas-batas dusun berupa sawah, dusun lain, jalan, dan sungai. Batas-batas Dusun Tengahan XII adalah :

  1. Timur : Dusun  Brajan
  2. Selatan : Dusun Dukuhan
  3. Barat : Sungai Progo
  4. Utara : Dusun Tengahan XI

Kependudukan dan Pembagian Wilayah

Berdasarkan pendataan penduduk yang dilakukan pada tahun 2016 menunjukkan bahwa jumlah penduduk Dusun Tengahan XII ada 287 jiwa penduduk laki-laki dan  297 jiwa penduduk perempuan. Jadi jumlah kesuluruhan penduduk  Dusun Tengahan XII sebanyak 484 jiwa. Pengelompokan penduduk menurut usia dapat dibedakan :

  1. Pelajar             :    87 jiwa
  2. Mahasiswa :      7 jiwa
  3. Usiaproduktif :  278 jiwa
  4. Usialanjut :  142 jiwa.

Dusun Tengahan XII dibagi menjadi dua Rukun Warga yaitu RW 26 dan RW 27. Pembagian wilayah RW yang ada di Dusun Tengahan XII berdasarkan wilayah yang ada di dusun ini. Berikut RW yang ada di Dusun Tengahan XII :

  1. RW 26 terdiridari RT 01 dan RT 02
  2. RW 27 terdiridari RT 03 dan RT 04

Yang menjadikan istimewa dusun ini adalah satu-satunya dusun yang dukuhnya dijabat oleh seorang  perempuan. Dalam sejarah perjalanan pemerintahan di Desa Sendangagung, baru pertama kalinya dukuh di Desa Sendangagung dijabat oleh seorang perempuan. Sejak terbentuknya DusunTengahan XII,  baru dua dukuh yang menjabat di dusun ini. Dukuh yang pernah menjabat dan sekarang sedang menjabat adalah :

  1. Hardjo Suprapto
  2. Sulasmiyati (sekarang sedang menjabat)

 

Kegiatan Ekonomi

Untuk menopang kehidupan ekonomi sebagian besar warga Dusun Tengahan XII menggantungkan hidup dengan menggeluti dalam sektor pertanian. Pertanian yang  telah lama digeluti dengan mengalami proses intensifikasi pertanian. Masyarakat Dusun Tengahan XII dulu banyak yang memelihara kerbau. Bukan diambil dagingnya namun kerbau dimanfaatkan tenaganya dalam menunjang usaha pertanian. Tenaga kerbau digunakan untuk membajak sawah. Seiring perkembangan zaman tenaga kerbau digantikan dengan tenaga mesin traktor.

Secara turun-temurun sebagian besar jenis pertanian yang digeluti warga adalah pertanian padi. Irigasi yang lancar dan jenis tanah di daerah Sendangagung yang subur merupakan alasan penduduk dusun ini untuk terus menekuni pertanian padi. Di samping padi ada sebagian penduduk yang menanam lombok, jagung, singkong, dan komoditas  lainnya.

Warga Dusun Tengahan XII juga menekuni kerajinan tangan  termasuk kerajinan tradisional. Pengerjaan dan bentuk kerajinan juga masih sangat konvensional. Salah satu hasil kerajinan adalah besek. Jenis kerajinan besek ini bentuknya tidak mengalami perubahan sehingga daya jualnya pun masih terbilang rendah. Jenis kerajinan ini hanya sebagai sambilan ketika petani dalam masa menunggu panen tiba.

Selain menekuni kerajinan dan pertanian beberapa warga berprofesi sebagai tukang bangunan, pegawai swasta, pedagang tradisional, dan pegawai negeri. Di tengah pembangunan infraktruktur dan pembangunan tenaga tukang sangat dibutuhkan. Warga Dusun Tengahan XII memanfaatkan kesempatan tersebut dengan menjadi tukang bangunan di berbagai proyek pembangunan seperti toko, gudang, perumahan, dan pusat perbelanjaan.

Sumber: Sulasmiyati (Dukuh Tengahan XII)

Previous Older Entries