Liburan Keluarga ke Bali

LIBURAN KELUARGA KE BALI

Pura Ulun Danu

Pura Ulun Danu

Bahagia rasanya bisa berlibur bersama keluarga. Apalagi jika liburan ini ke tujuan yang sangat terkenal sampai ke penghujung dunia. Bali, ya pulau yang terkenal dengan sebutan “Pulau Dewata”. Ada juga yang menyebut “Pulau Seribu Pura”. Namun akhir-akhir ini sebutannya sudah berubah menjadi “Pulau Seribu Hotel”

Kami berangkat dari Bandara Sukarno Hatta tepat hari Senin, 22 Desember 2014. Pesawat yang kami pilih untuk mengantar ke Bali adalah Pesawat Garuda. Tidak menyesal kami memilih Pesawat Garuda. Fasilitasnya sungguh sangat mewah dan pesawatnya besar. Kami menginap dua malam di Hotel Grandmas dan satu malam di Hotel Tusita.

Tempat wisata yang kami kunjungi adalah :

  1. Tanjung Benoa
  2. Pantai Pandawa
  3. Pantai Padang-padang (Dreamland)
  4. Pantai Jimbaran
  5. Pura Tanah Lot
  6. Pura Ulu Watu
  7. Pura Ulun Danu
  8. Museum perjuangan Rakyat Bali
  9. Pantai Kuta

Perjalanan di Bali kami akhiri pada hari Kamis, 26 Desember 2014. Perjalanan kami lanjutkan ke Yogyakarta. Kami mengunjungi keluarga untuk berlibur Natal dan Tahun Baru 2015

Baju Imlek Meilan

BAJU IMLEK MEILAN

BAJU IMLEK

““Tok, tok, tok … ! terdengar suara pintu diketuk. Mama Lien yang sedang memasak di dapur segera berjalan menuju pintu, membukanya. Meilan, gadis berusia 10 tahun, baru saja kembali dari sekolah. Ia masuk ke dalam rumah tanpa mengucap salam kepada Mama Lien. Kedua matanya tampak tampak sembab memerah, pipinya tampak basah, dan wajahnya tampak kusut. Ia berjalan ke kamar dengan lesu, lalu membantingkan tubuhnya di atas ranjang. Mama Lien mendekatinya, hati Mama Lien dipenuhi rasa khawatir dan heran.

“Meilan, kenapa kamu menangis?” tanya Mama Lien dengan suara lembut. Meilan tidak menghiraukan mamanya, ia terus terisak-isak menangis.

“Ceritakan saja ke mama,” bujuk mama sambil memeluk anak semata wayangnya. Meilan menghindar dari pelukan mamanya. Ia tampak marah.

“Mama, mengapa aku tidak dibelikan baju Imlek. Aku ingin sekali mengikuti lomba menyanyi,” jawab Meilan dengan membentak dan wajah yang terlihat kesal.

Mama Lien tersentak mendengar bentakan Meilan. Belum pernah ia mendengar putri terkasihnya bicara sekasar itu kepadanya.

“Kamu tidak boleh membentak Mama, Nak. Itu dosa besar Meilan. Bicara saja baik-baik, maka Mama akan mendengarkanya,” tegur Mama Lien dengan agak sedikit terkejut.

“Aku kesal, Mama. Mengapa aku tidak dibelikan baju Imlek, sedangkan semua anak di sekolahku dibelikan? Aku akan mengikuti lomba menyanyi. Jika aku tidak memakai baju maka aku tidak akan pernah menang!” seru Meilan dengan nada kasar. Ia merasa kecewa terhadap mamanya yang tidak mendukungnya untuk mengikuti lomba menyanyi di perayaan Imlek.

Mama Lien menghela napas panjang. Sebetulnya ia sangat marah dengan sikap Meilan. Namun, ia menahan emosinya dengan kesabaran karena ia begitu menyayangi Meilan.

“Kamu harus mengerti keadaan keluarga kita, Nak. Kita bukan keluarga yang mampu seperti teman-temanmu. Semenjak Papa meninggal, Mama bekerja seorang diri demi menghidupi kamu. Gaji Mama yang tidak seberapa hanya cukup untuk makan sehari-hari serta untuk biaya sekolah kamu. Tahun lalu kamu sudah Mama belikan baju Imlek. Tahun ini Mama tidak mepunyai uang untuk membelikamu baju Imlek.” jelas Mama Lien dengan suara perlahan.

Meilan diam saja, kepalanya tertunduk. Ia memhami penjelasan mamanya. Ia raih tubuh mamanya. Ia peluk erat serasa tak mau melepaskan ubuh mamanya. Ia teringat masa-masa ketika papanya masih hidup. Mamanya tampak cantik dan bersih. Kini tubuhnya tampak kurus dan kurang terawat karena harus bekerja keras demi untuk menghidupi dirinya. Meilan merasa berdosa terhadap mama tersayang.

“Maafkan Aku mama,” ucap Meilan sambil masih terisak-isak. Mamanya tidak menjawab. Mama Lien hanya mengusap wajah Meilan sebagai tanda maaf untuk Meilan.

Kini Meilan sangat mengetahui keadaan mamanya, tetapi ia ingin sekali memenangkan perlombaan menyanyi di sekolahnya. Meilan menemui Itje sahabat dekatnya. Ia ceritakan keadaan dirinya kepada sahabatnya. Meilan mendengarkan keluh kesah sahabatnya dengan penuh perhatian.

“Meilan, Aku punya ide,” kata Itje dengan penuh semangat.

“Ide apa Itje,” sahut Meilan dengan wajah tak sabar.

“Bagaimana kalau kita membantu menjual kue mamaku,” jawab Itje dengan penuh semangat.

“Maksudnya bagaimana Itje?” tanya Meilan dengan wajah kebingungan.

“Begini Meilan, Mamaku membuat kue untuk disetor ke warung. Saya akan minta mama membuat kue lebih banyak lagi. Kita akan menjualnya dan untungnya kita gunakan untuk membeli baju Imlek,” jelas Itje. Meilan sangat setuju dengan usul Itje. Ia sangat berterima kasih kepada sahabat dekatnya.

Itje menceritakan segala hal tentang Meilan kepada mamanya. Mama Itje menyetujui usul putrinya. Mulai hari Minggu, Meilan dan Itje berkeliling untuk menjajakan kue. Hari pertama jualan mereka mendapatkan keuntungan sepuluh ribu rupiah.

“Kok kita, hanya untung kecil Itje, untuk membeli baju belum cukup,” keluh Meilan dengan suara lembut.

“Tenang Meilan, kita harus bersemangat dan mempunyai daya juang. Kita tidak boleh menyerah. Masih banyak waktu,” seru Itje sambil menepuk pundak Meilan.

Setiap pulang sekolah Meilan dan Itje selalu menjajakan kue dari rumah ke rumah. Meilan sengaja tidak memberitahukan kegiatan itu kepada mamanya. Ia ingin memberi kejutan pada mamanyaSetelah berhari-hari dua sahabat itu berjualan, akhirnya terkumpul uang untuk membeli baju. Meilan dan Itje pergi ke toko baju. Meilan memilih sendiri baju sesuai dengan seleranya. Baju yang diharapakan sudah didapat, Meilan dan Itje pulang dengan bergandengan tangan. Dua sahabat itu sangat senang dengan usaha keras yang mereka perjuangkan. Kini tinggal satu langkah lagi untuk memenangi lomba menyanyi.

Hari Imlek telah tiba. Hari itu Meilan berangkat dengan memaka seragam. Meilan sengaja tidak memakai baju Imlek dari rumah. Ia ingin memberi kejutan pada mamanya. Meilan mohon pamit pada mamanya. Mamanya mencium Meilan. Mama Lien berkaca-kaca karena tidak bisa memenuhi harapan putrinya. Lomba segera dimulai. Giliran Meilan maju ke depan. Ia sangat bagus menyanyikan lagu. Semua penonton bertepuk tangan ketika Meilan mengakhiri lagunya. Pada saat pengumuman, Meilan mendapatkan juara kedua. Meilan merasa senang meskipun ia tidak mendapatkan juara pertama. Dihampiri Itje sahabat karibnya. Ia peluk kuat Itje. Mereka berdua menangis penuh keharuan.

Mama Lien sedang mencuci piring di dapur. Ia kaget karena dari belakang Meilan berteriak memanggil namanya. Belum sempat menjawab panggilan Meilan, ia tertegun penuh heran melihat Meilan memakai baju Imlek dengan memegang piala.

“Mama, aku menang lomba. Baju ini aku beli dari keuntungan menjual kue bersama dengan Itje. Piala ini aku berikan untuk Mama,” ucap Meilan dengan perasaan haru. Mama Lien hanya dapat menangis haru sambil memeluk Meilan. Mama Lien sangat bangga kepada Meilan putri kesayangannya.

Go Green

GO GREEN

Peyang dan Panjul adalah dua sahabat yang sedang menuntut ilmu di tingkat SMA. Kedua anak tersebut sudah mempunyai pacar. Suatu hari mereka terlihat asyik ngobrol membicarakan tentang lokasi pacaran.

Peyang :”Njul, kalau kamu pacaran, biasanya di mana?”

Panjul :”Kalau saya sig anak zaman sekarang, kalau aku pacaran di kafe, pergi ke mall, dan tempat yang keren-keren lainnya.”

Peyang :”Wah…… itu mah biasa”

Panjul : “Lha kalau kamu pacaran biasanya di mana?”

Peyang : “Kalau saya pacaran sesuai dengan anjuran Kementrian Lingkungan Hidup ‘Go Green’.”

Panjul : “Hebat..keren abis… Lalu di mana pacarannya?”

Peyang : “Tempat yang alami dan memberi kesan “Go green” seperti ; di semak-semak dan di bawah pohon.”

Panjul : ” Oooo….. kalau itu bukan “go green” tetapi itu namanya nggak modalllll………….”

Nyanyi

NYANYI

Suatu hari, Bu Menik mengikuti arisan ibu-ibu RT bersama putri tercintanya Krosak. Tiba-tiba, Krosak meminta ijin pada Bu Menik untuk pipis karena sudah kebelet. Tentu saja Bu Menik merasa tidak nyaman dengan ibu-ibu sesama anggota arisan. Ibu menik menasihati Krosak jika ingin minta ijin pipis.
Bu Menik : “Krosak, Jika kamu ingin ijin pipis maka kamu harus bilang ‘Bu aku ingin nyanyi.'”
Krosak : “Baik Bu, besok kalau aku mau pipis aku mau bilang mau nyanyi”.
Pada waktu liburan Krosak pergi berlibur ke rumah neneknya. Lewat tengah malam Krosak ingin pipis. Ia ingat akan nasihat ibunya, maka ia minta ijin ke neneknya.
Krosak : “Nek, aku ingin nyanyi.”
Nenek : “Malam-malam kok nyanyi, nanti mengganggu tetangga”
Krosak : “Nek, aku sudah nggak tahan ingin nyanyi”
Nenek : “Ya sudah, kalau ingin nyanyi tempel ke telinga nenek.”
Krosak : “Betul Nek”
Nenek : ” Betul…. tempel aja, nggak usah ragu-ragu”
Krosak : “Currrr…………………….. basah deh”
Nenek : “???????? ……..”

Bening

BENING
Silir seorang pemudi yang bersahabat karib dengan Siwi dan Sini. Kebetulan ketiga-tiganya sudah memiliki gandengan atau pacar. Setiap kali bertemu, Siwi dan Sini selalu menceritakan tentang pujian sang pacar. Silir merasa iri karena sudah 5 tahun berpacaran dengan Banu belum sekalipun terucap pujian dari mulut Banu. Suatu hari Silir berbincang dengan Banu di taman.
Banu : “Yang, kalau kamu ulang tahun ingin hadiah apa?
Silir : ” Permintaanku sangat sederhana.”
Banu : “Apa itu?”
Silir : “Di hari ulang tahunku, Aku ingin mendengar pujian darimu.”
Banu : ” Sangat mudah, aku akan penuhi permintaanmu.”
Pada hari ulang tahun Silir, pasangan tersebut merayakan ulang tahun di restoran favorit mereka. Segera  Silir merengek  untuk menagih janji dari Banu untuk mendapatkan pujian.
Silir : “Sayang, mana janjimu?”
Banu : “Sayang, selamat ulang tahun. Wajahmu sungguh sangat bening sekali”
Silir : “Terima kasih, sayangku. Ini adalah hadiah ulang tahun terindah selama aku berpacaran denganmu. Sayang………. ngomong-ngomong wajahku sebening….. Apa, ya?”
Banu : “Sebening…. Kobokan pecel lele”
Silir : “Kurang ajar……… Plok!… Plok!. Plok”

Rujak

RUJAK

Selfi adalah seorang bunga sekolah yang menjadi pujaan setiap siswa laki-laki. Ternyata Selfi menjatuhkan pilihan kepada Tedy seorang siswa yang suka humoris untuk menjadi kekasihnya. Suatu hari, mereka berdua berpacaran di tepi pantai. Seperti halnya pasangan yang dimabuk cinta, Tedy memuja dan merayu Selfi dengan kata-kata yang penuh buaian,
Tedy : “Selfi wajahmu cantik sekali.”
Selfi : “Oh, ya..”
Tedy : “Bibirmu seperti buah delima yang merekah.”
Selfi : “Senengnya hatiku …..”
Tedy : “Hidungmu seperti timun yang masih muda.”
Selfi : “Ah! Masak..”
Tedy : “Dahimu bersih, seperti putihnya bangkoang.”
Selfi : “Jadi malu….. Aku”
Tedy : “Pipimu merona merah, semerah ubi merah.”
Selfi : “Sempurna sekali wajahku.”
Tedy : “Jadi wajahmu ibarat rujak bebeg, campuran delima, timun, bengkoang, dan ubi merah.”
Selfi : “Kurang ajar … Plok!…….Plok!……….. Plok!……………. “

Astronot

ASTRONOT

Bingkil sedang asyik mengikuti pelajaran IPA yang diajarkan oleh Bu Plinthis. Hari itu yang sedang dibahas tentang pelajaran tata surya. Tiba-tiba Bingkil bertanya kepada Bu Plinthis.

Bingkil : “Bu, siapa nama tiga astronot yang pergi ke bulan?”
Bu Plinthis : “Namanya Neil Amstrong, Buzz Aldrin, dan Michael Collins.” 
Bingkil : “Kalau Neil Amstrong orang Amerika, kalau Buzz Aldrin, dan Michael Collins orang mana, Bu?
Bu Plinthis : “Ya, orang Amerika ”
Bingkil : “Salah”
Bu Plinthis : “Lalu, orang mana?”.
Bingkil : “Orang Padang, Bu”
Bu Plinthis : “Kamu ngawur, ngelindur ya?”
Bingkil : “Coba ibu baca bacaan di buku ini : Neil Amstrong pergi ke bulan bersama dua awak pesawat. Nah Bu, awak itu orang mana?”
Bu Plinthis : “Orang Padang”
Bingkil : “Betul kan, Bu”
Bu Plinthis : “Bangga aku, mempunyai murid yang kreativ dan ra genep.

Previous Older Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.