Desa Sendangagung

Desa Sendangagung

Hamparan sawah di Desa Sendangagung

Hamparan sawah di Desa Sendangagung

Sawah hijau menghampar terlihat subur membuat damai bagi siapa saja yang melihatnya. Tampak dusun-dusun yang sederhana sebagai tempat tinggal para warga. Terdengar suara nyanyian burung waktu pagi hari turut menyambut datangnya sang fajar. Beberapa petani tampak sumringah memandang tanaman yang subur sebagai penghasil rejeki. Di tengah  keadaan desa yang sederhana, sesekali terdengar suara bunyi mesin kendaraan. Itulah sekelumit tentang keadaan Desa Sendangagung.

Desa Sendangagung terletak di Kecamatan Minggir, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Sekitar 23 Km ke arah barat dari pusat kota Yogyakarta. Desa Sendangagung adalah wilayah paling barat di Kabupaten Sleman. Di sebelah barat terdapat Sungai Progo yang merupakan batas antara wilayah Kabupaten Sleman dengan Kabupaten Kulon Progo.

Kondisi Geografis

Secara geografis kawasan desa Sendangagung terdiri dari persawahan, sungai, ladang, lembah sungai (kisik), tebing sungai, dan pedusunan. Irigasi yang lancar membuat sawah-sawah di daerah Sendangagung menjadi subur. Tidaklah mengherankan kalau daerah Sendangagung termasuk lumbung padi di Daerah Istimewa Yogyakarta. Sendangagung berbatasan dengan dua desa di wilayah Kecamatan Minggir dan berbatasan dengan wilayah kabupaten Kulon Progo. Batas-batas  Desa Sendangagung adalah :
Sebelah utara      : Desa Sendangsari
Sebelah timur      : Desa Sendangmulyo
Sebelah selatan  : Sungai Progo
Sebelah barat     : Sungai Progo

Tata Pemerintahan dan Wilayah Desa
Desa Sendangagung dipimpin oleh kepala desa yang dipilih secara langsung oleh warga desa secara demokratis. Untuk menjalankan pemerintahan, kepala desa dibantu oleh beberapa  sekretaris desa (Sekdes), kepala urusan atau sering dikenal dengan sebutan Kaur. Untuk membantu program pembangunan, kepala desa dibantu oleh Badan Pemerintahan Desa (BPD) yang terdiri dari beberapa tokoh masyarakat. Nama kepala desa yang pernah menjabat sebagai kepala pemerintahan di Desa Sendangagung :

  • Mangun (sebelum kemerdekaan)
  • Soeparjo (1945 -1979)
  • Suhadi (1979 – 1995)
  • Najib Badawi (1996 – sekarang)

Pusat pemerintahan berada Jalan Kebonagung sekitar 50 meter dari kantor kecamatan di sebelah utara. Di depan kantor Kepala Desa terdapat lapangan yang berfungsi sebagai tempat olahraga dan upacara bendera setiap tanggal 17 Agustus. Desa Sendangagung mempunyai gedung serba guna sebagai hadiah Polri atas jasa rakyat Sendangagung kepada kepolisian.

Desa Sendangagung terdiri dari 15 dusun atau padukuhan. Dusun ini diberi urutan nomor yang secara administrasi yang disebut sebagai kring. Setiap dusun dipimpin oleh seorang Kepala Dusun (Kadus). Warga sering menyebut Kadus sebagai Dukuh. Kelima belas dusun yang ada di desa Sendangagung adalah :
Kring 1   : Dusun Kisik
Kring 2   : Dusun Minggir II
Kring 3   : Dusun Minggir III
Kring 4   : Dusun Pojok IV  (terdiri dari Dusun Babadan, Tejo,  dan sebagian Dusun Pojok)
Kring 5   : Dusun Pojok V
Kring 6   : Dusun Watugajah
Kring 7   : Dusun Bontitan (terdiri dari Dusun Bontitan, Kregan, dan Mandungan)
Kring 8 : Dusun Brajan (terdiri dari Dusun Brajan, Saidan, Ngenthak, dan Plombangan)
Kring 9   : Dusun  Kliran
Kring 10 : Dusun  Bekelan (terdiri dari Dusun Bekelan dan sebagian Dusun Kliran)
Kring 11 : Dusun Tengahan XI
Kring 12 : Dusun Tengahan XII
Kring 13 : Dusun Dukuhan (terdiri dari Dusun Dukuhan dan Sawo)
Kring 14 : Dusun Nanggulan
Kring 15 : Dusun Jomboran (terdiri dari Dusun Jomboran, Tegalsari, dan Kisik Jomboran)

Keadaan Sosial

Sebagian besar warga desa Sendangagung menganut agama Islam. Selain menganut agama Islam, warga yang lain memeluk agama Katolik, Kristen Jawa, dan ada beberapa warga yang menganut aliran kepercayaan. Keharmonisan antar umat beragama sangat dijaga oleh warga dan aparat pemerintah desa, maka tidak heran hubungan antar umat beragama sangat terpupuk dengan subur. Kepala desa sebagai pemimpin masyarakat menjadi salah satu penggiat kerukunan antar umat beragama. Sebagai kepala desa selalu memberi sambutan bela sungkawa ketika ada salah satu warga yang meninggal. Beliau tidak membeda-bedakan agama yang dianut oleh keluarga yang berbela sungkawa. Hal itulah yang dilihat oleh rakyat sebagai keteladanan untuk menjaga toleransia antar umat beragama. Desa Sendangagung mempunyai beberapa tempat ibadah :
A. Masjid

  1. Masjid An Nuur (Kisik)
  2. Masjid Sa’ad Bin Abi Waqqash (Minggir II)
  3. Masjid Ainul Yaqin (Minggir III)
  4. Masjid Al Karom (Babadan)
  5. Masjid Al Munir (Pojok)
  6. Masjid An Namiroh (Kliran)
  7. Masjid Nur Rahmat (Bekelan)
  8. Masjid Dalil (Tengahan XI)
  9. Al Mutta’alim (Tengahan XII)
  10. Masjid Timoho (Dukuhan)
  11. Masjid Luhur Tunggal (Sawo)
  12. Masjid Sabilul Muttaqin (Nanggulan)
  13. Masjid Al Amin (Jomboran)
  14. Masjid Ali Sholeh Al Mandzur (Mandungan)
  15. Masjid Al Muhajirin (Kregan)
  16. Masjid Al Masriq (Plombangan)
  17. Masjid Al Mustagfirin (Brajan)

B. Gerja Katolik Santo Yohanes Chrisostomus (Pojok)
C. Gereja Kristen :
1.   Gereja Kristen Kerasulan Baru Jomboran (Jomboran)
2. Gereja Kristen Jawa Kebonagung (Pojok)

Kegiatan Ekonomi

Sebagian besar mata pencaharian penduduk desa Sendangagung adalah bertani. Selain untuk keperluan makan sehari-hari, masyarakat juga menjual hasil tanaman padi dalam bentuk gabah atau beras sehingga dapat menjadi sumber penghasilan bagi masyarakat. Selain tanaman padi, di wilayah ada beberapa warga yang bercocok tanam mendong. Sendangagung terkenal dengan penghasil mendong yang digunakan untuk membuat tikar, bahkan mengirim hasil mendong ke pengrajin mendong di Kabupaten Tasikmalaya (Jawa Barat) Selain sebagai petani, penduduk bekerja sebagai pengrajin, nelayan, pedagang, pegawai negeri, pegawai swasta, tukang bangunan, dan buruh pabrik

Di Desa Sendangagung terdapat beberapa sentra kerajinan yang berbahan pokok dari bambu , kayu, dan mendong. Kerajinan berbahan dasar bambu terbagi dalam dua kelompok. Kelompok pertama adalah pengrajin bambu tradisional dan kelompok kedua adalah pengrajin bambu kreatif.  Kerajinan bambu tradisional menghasilkan perabot rumah tangga seperti besek, tenggok, tumbu, tambir, tampah, kalo, dan kepang. Kerajinan bambu tradisional ini terdapat di wilayah Kliran, Bekelan, Tengahan, Dukuhan, Saidan, dan Sawo. Pusat pengrajin bambu kreatif menghasilkan berbagai macam hiasan dan pernak-pernik dari bambu. Kerajinan bambu kreatif ini berpusat di Dusun Brajan. Hasil kerajinan bambu dari Brajan ini telah tersebar ke seantero Nusantara bahkan sudah di ekspor ke manca negara.

Sentra kerajinan berbahan kayu adalah parut yang dapat dapat ditemui di wilayah Dusun Pojok dan Bontitan. Parut adalah alat kukur kelapa atau “kambil” yang terbuat dari kayu melinjo yang telah dipotong persegi dengan ukuran 10cm x 30cm dan diasah halus. Sebagai mata kukur digunakan potongan kawat halus yang dipotong sekitar 4 mm ditanam sebagian di papan parut.

Kerajinan berbahan mendong berupa tikar sebagai alat untuk alas tidur dan duduk. Tikar oleh masyarakat Sendangagung  disebut dengan “klasa”. Pada tahun 80-an, tikar masih sangat mendominasi alas tidur sehingga pemasarannya cukup mudan. Seiring dengan perkembangan zaman tikar sudah banyak ditinggalkan. Tikar yang diproduksi oleh warga Sendangagung masah tergolong sederhana. Sayang sekali belum ada ide kreatif yang dapat mengubah produk tradisonal menjadi produk bernilai ekonomi tinggi.

Penduduk yang bekerja dibidang jasa biasanya sebagai pegawai di instansi pemerintah dan swasta, tukang bangunan, buruh pabrik, dan pedagang. Warga desa yang berprofesi sebagai pedagang pada umunya sebagai pedagang kecil dan menengah. Pada umumnya mereka berdagang di Pasar kebonagung sebagai pusat ekonomi desa. Pedagang yang berkategori sedang pada umunya membuka kios dan toko di dekat pasar, di Jalan kebonagung, dan Jalan Jembatan Kebonagung.

Pusat kegiatan ekonomi di wilayah Sendangagung adalah Pasar Kebonagung. Di pasar ini tidak hanya warga Sendangagung saja yang berbelanja tetapi warga dari desa lain juga berbelanja di pasar ini. Dengan dibangunnya Jembatan Kebonagung cukup memberi stimulus bagi warga untuk membuka usaha seperti warung makan, bengkel, salon, dan kios-kios yang menyediakan aneka kebutuhan. Namun sayang, sebagian besar orang yang membuka usaha bukanlah warga Sendagagung melainkan warga pendatang.

Peninggalan Sejarah

Peninggalan sejarah disinyalir berawal dari kebudayaan Hindu, zaman Kolonial Belanda, zaman pendudukan Jepang, dan zaman perang kemerdekaan. Peninggalan kebudayaan Hindu dapat kita lihat di Dusun Plombangan. Di Dusun Plombangan terdapat patung bercorak Hindu. Namun sungguh sangat disayangkan, patung tersebut sudah hilang tanpa diketahui keberadaannya. Di Dusun Dukuhan terdapat petilasan Ki Ageng Tunggul Wulung yang berupa bangunan cungkup. Ki Ageng Tunggul Wulung yang sebelumnya bernama Senopati Sabdojati Among Rogo. Beliau adalah seorang hulubalang kerajaan Majapahit yang melarikan diri ke arah barat karena surutnya kejayaan Majapahit. Ki Ageng Tunggul akhirnya menetap di sebuah tempat yang sekarang berada di Dusun Beji. Di tempat inilah Ki Ageng Tunggul Wulung mendirikan pesangrahan semacam kerajaan kecil sebagai tempat tinggal bersama pengikutnya. Sedangkan tempat moksa Ki Ageng Tunggul Wulung di bawah pohon timo yang berada di Dusun Dukuhan. Untuk mengenang tempat moksa Ki Ageng Tunggul Wulung maka dibangun sebuah cungkup sebagai tempat petilasan.

Peninggalan zaman Kolonial  Belanda berupa loji, pasar, gedung sekolah, tempat permandian, pabrik, klinik, dan gardu jaga. Peninggalan-peninggalan ini masih ada yang terawat dan ada yang yang sudah hilang tanpa bekas. Bangunan yang masih berdiri adalah Loji Lor dan Loji Kidul, gedung sekolah SD Kebonagung, dan pos jaga di Dusun Bontitan dan Dusun Jomboran.

Peninggalan zaman pendudukan Jepang adalah sebuah gua Jepang yang dikenal dengan “Gua Kendil”. Gua Kendil ini berada di Tejo yang masuk dalam wilayah Dusun Babadan. Menurut penuturan warga, Gua kendil adalah sebagai tempat penyimpanan segala keperluan tentara Jepang.

Peninggalan zaman perang kemerdekaan adalah Monumen Pojok dan Gedung Serba Guna. Monumen Pojok adalah tugu pengingat perang antara Laskar Rakyat yang merupakan warga Sendangagung dengan Belanda. Perang antara Laskar Rakyat dengan Belanda ini terjadi di Dusun Pojok pada tanggal 2 April 1949. Gedung Serba Guna Sendangagung merupakan bangunan hadiah pemberian POLRI atas perjuangan rakyat Sendangagung khususnya rakyat Dusun Nanggulan dalam membantu Polisi dalam perang kemerdekaan.

Potensi Obyek Wisata

Daerah Sendangagung berpotensi besar untuk dijadikan obyek wisata. Obyek wiata yang berbasis seni dan alam pedesaan. Potensi ini masih menjadi PR besar bagi pemerintah Desa Sendangagung. Potensi ini jika dikembangkan akan mengembangkan taraf ekonomi bagi warganya.

Petilasan Tunggul Wulung sudah banyak dikenal orang, bahkan sampai ibu kota negara. Potensi ini bisa dikembangkan dengan mengadakan kirab untuk acara satu tahunan sebgai magnet penarik pengunjung. Harapannya tidak hanya pengunjung lokal tetapi dari berbagai wilayah di luar Yogjakarta.

Pengembangan desa wisata bisa di kembangkan dari Dusun Brajan. Konsep yang dikembangkan adalah kerajinan bambu sebagai daya tarik bagi para pengunjung. Dengan daya tarik ini diharapkan  banyak yang mengunjungi Desa Sendangagung.

Wisata kuliner dapat dikembangkan mengingat jenis makanan tradisional di desa ini cukup banyak. Sebagai contoh jajanan pasar banyak diminati oleh orang yang berkunjung ke daerah ini. Nuansa alam seperti Sungai Progo dapat dijadikan daya tarik untuk wisata kuliner.

Wisata alam yang dapat dikembangkan adalah aliran Sungai Progo dan lembah di samping Sungai Progo. Aliran sungai dapat dijadikan wahana arung jeram dan lembah sungai bisa dijadikan taman.

Agar potensi wisata ini dapat terwujud maka perlu konsep paket. Potensi wisata tidak bisa dikembangkan secara sendiri-sendiri namun perlu paket dari wisata budaya, kuliner, dan alam. Perlu pemikiran yang cermat dan daya dukung modal yang cukup untuk  mewujudkan wisata di Sendangagung.

Budaya Masyarakat

Desa Sendangagung kaya akan ragam budaya baik berupa seni, upacara adat, dan tradisi. Tradisi yang menjadi andalan adalah kirab Tunggul Wulung. Kirab ini biasanya mempersembahkan berbagai hasil bumi dari lapangan Kebonagung sampai makam Kyai Tunggul Wulung yang terletak di Dusun Dukuhan. Selain hasil bumi dalam kirab juga dipentaskan berbagai macam seni yang ada di wilayah Sendangagung.

Tradisi yang masih kuat adalah tradisi Merti Dusun dan tradisi Wiwitan. Tradisi Merti Dusun biasanya melakukan ritual membersihkan makam leluhur dilanjutkan dengan pentas seni. Harapan dari Merti dusun adalah agar hasil panen yang akan datang diberi kelimpahan. Tradisi wiwitan adalah persembahan berupa makanan kepada Tuhan sebelum memetik padi. Tradisi ini sebagai ucapan syukur kepada Tuhan atas panen yang diberikan.

Seni yang ada di wilayah Sendangagung cukup beragam bentuknya. Di daerah ini cukup banyak pelaku seni tradisional. Berikut adalah pelaku seni yang sudah tiada dan masih aktif menggeluti seni sebagai bagian hidupnya.

        1. Mujiyo (Alm) dari Plombangan adalah seorang dagelan kethoprak yang tersohor sampai daerah Kulon Progo. Selain sebagai pelaku seni pekerjaan pokoknya adalah sebagai Pembantu Kabag/Kaur Pemerintahan.
        2. Tugimin (Alm) dari Minggir adalah seorang penari.
        3. Ki Pujo Warsito (Alm) dari Kliran adalah seorang dalang wayang purwo
        4. Senat dari Tengahan adalah seorang pemain kethoprak.
        5. Diyo dari Kregan pelaku seni kethoprak
        6. Suradali dari Kragan adalah pemain kethoprak tersohor yang bergabung dengan kethoprak RRI Nusantara II Yogyakarta.
        7. Widodo Pujo Bintoro dari Kliran adalah seniman serba bisa (tari, kethorak, pengrawit, dan dalang).
        8. Ki Cermomujiyono dari Kliran adalah dalang wayang purwo.
        9. Ki Jasminto dari Kliran adalah dalang wayang purwo.
        10. Sunarman Kadus Minggir III juga seorang pengendang.
        11. Ki Kunanto dari Minggir III seorang dalang wayang purwo.
        12. Ki Satoto dari Minggir III seniman dalang wayang purwo.
        13. Nyi Seneng dari Minggir III adalah pesinden.
        14. Neti Sulandari dari Minggir III seorang waranggana yang menjadi pesinden dalang kondang Ki Seno Nugroho.
        15. Jemirin dari Brajan seorang pengrawit dan wira swara yang mumpuni.

Adapun kelompok seni yang ada di wilayah Desa Sendangagung meliputi beberapa kesenian. Seni Jathilan merupakan kelompok seni paling banyak terdapat di desa ini. Kelompok kesenian yang ada di Sendangagung  adalah :

      1. Jathilan Jati Kebar (Minggir II)
      2. Jathilan Turangga Lawung (Minggir III)
      3. Jathilan Rampak Kudan (Kliran)
      4. Jathilan Kuda Nyongklang (Kliran)
      5. Jathilan Kuda Pengrawit (Bekelan)
      6. Jathilan Tengahan
      7. Jathilan Timbul Retno (Nanggulan)
      8. Jathilan Kudho Satriyo (Plombangan)
      9. Kelompok karawitan (Minggir)
      10. Seni Solawatan (Kliran, Brajan, Tengahan, Mandungan)
      11. Seni Slawatan Katolik (Nanggulan, Plombangan, Kliran)
      12. Seni Kuntulan (Brajan)

Menyongsong Tahun Baru di Balemong Resort

Balemong Resort

Balemong Resort

Tradisi menyongsong tahun baru sudah menjadi sebuah kegiatan yang lumrah di masyarakat Indonesia. Apalagi momen ini bertepatan dengan liburan Natal dan Tahun Baru serta liburan semester bagi anak-anak sekolah. Tidak sedikit pula keluarga yang menyambut tahun baru. Ada yang bepergian ke luar kota, bahkan ada yang sampai luar negeri. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh sebagian orang untuk menyambut kehadiran tahun baru termasuk keluargaku.

Pada penghujung tahun 2014, keluargaku, ibu mertua, kakak ipar laki-laki, dan keluarga kakak ipar perempuan merencanakan menyambut tahun baru di Balemong Resort di daerah Ungaran, Jawa Tengah. Sebuah rencana untuk mengisi liburan Natal dan sekaligus menyambut datangnya tahun baru 2015. Tempat dan transportasi sudah disiapkan jauh-jauh hari sehingga memudahkan kami untuk mengisi acara liburan ini.

Hari Selasa pagi tanggal 30 Desember kami siap-siap dengan beberapa tas pakaian dan bekal makanan. Setelah mobil rental tiba kami segera berangkat. Sebelum meninggalkan Jogja, kami berdoa di makan bapak mertua. Tradisi bagi keluarga kami untuk selalu mendoakan orang yang sudah menghadap kepada Yang Ilahi. Semoga bapak mertua hidup kekal di surga dan kami yang masih mengembara hidup di dunia selalu mendapat berkah dari Tuhan. Usai doa di makam, kami segera berangkat ke Ungaran menuju Balemong Resort. Rencananya kami menginap dua malam dan malam terakhir kami habiskan untuk menyambut tahun baru.

Balemong Resort

Balemong Resort sebuah penginapan berkelas yang terletak Jalan Pattimura, No 1B. Sisemut, Ungaran Jawa Tengah. Keasrian tampak pada bangunan dengan gaya Jawa yang kental. Semua bangunan berbentuk Joglo dengan dekorasi Jawa dan Belanda yang menawan. Suasana semakin mengagumkan bagi para tamu karena di belakang resort tampak Gunung Pati berdiri anggun.

Gunung Pati tampak anggun dari Balemong Resort

Gunung Pati tampak anggun dari Balemong Resort

Fasilitasnya sangat memanjakan bagi para pengunjung. Restoran dengan menu yang bervariasi serta dekorasi Jawa membuat betah tamu untup bersantap di tempat ini. Kolam renang yang jernih seakan melambai mengajak para pengunjung untuk segera berenang. Taman yang ditata rapi cocok untuk menenangkan hati. Nuansa tradisional dilengkapi wifi gratis sebagai sarana untuk menjelajah dunia maya. Tidak jauh dari resort terdapat pasar tradisional Ungaran dan Candi Gedong Songo.

Fasilitas kolam renang

Fasilitas kolam renang

Kamar yang tertata rapi

Kamar yang tertata rapi

Taman

Taman Balemor Resort

Malam Tahun Baru di Balemong Resort

Menanti tahun baru selalu diiringi doa agar tahun yang akan datang selalu dilimpahi berkat. Beruntung dalam menyambut tahun baru 2015, managemen Balemong Resort memanjakan tamu dengan tarian dan pesta kembang api. Lengkap sudah kebahagian hati ketika menginap di resort yang sangat asri serta dapat menyambut tahun Baru 2015 di tempat yang mengesankan ini.

Tarian menyambut tahun baru

Tarian menyambut tahun baru

Pesta kembang api

Pesta kembang api

Kisah Nyata

SAHABAT SEJATI

“Mur, bangun. Hari sudah siang,” suara ibu membangunkanku. Rasanya malas sekali untuk meninggalkan bantal ini. Kukucek mataku, ternyata hari sudah beranjak siang. “Hari Minggu, saya tidak sekolah. Mengapa aku harus bangun sekarang?” gumanku dalam hati. Tetapi aku tidak berani melawan ibuku. Segera aku bangun dan langsung ke sumur untuk membasuh muka. Wah, ternyata ibu sudah pulang dari pasar dan membelikan sarapan. Bubur buatan Mbah Sowi makanan khas kampung yang sangat aku suka. Tanpa basa-basi bubur yang dibungkus dengan daun pisang itu sudah habis.

“Mur cilik, Mur Cilik. Ayo cari kayu bakar!” suara temanku memanggil. “Tunggu sebentar, aku baru selesai sarapan,” jawabku sambil membereskan bungkus bubur. Aku keluar dengan membawa parang sebagai peralatan mencari kayu bakar. Ternyata yang memanggil adalah Muryono. Dia selalu memanggilku dengan sebutan “Mur Cilik” karena umurku lebih muda.  Namaku dan namanya memang hampir sama. Namaku Murgiyanto sedang namanya Muryono. Orang-orang menyebut Muryono dengan sebutan “Mur Gede”. Sungguh aneh, nama yang hampir sama dapat bersahabat karib meskipun terpaut umur tiga tahun.

“Kamu sudah siap belum?” tanya Muryono sambil menatap tajam ke wajahku. Tatapan tajam yang tak pernah kulupakan. Tatapan itu sungguh merupakan bahasa isyarat. Tersimpan kasih dan perlindungan kepada seorang sahabat. “Ya, ayo kita segera berangkat” jawabku sambil mengikuti langkahnya. Seperti biasa kami mencari kayu bakar di kebun yang terletak tepi sungai Progo. Di sepanjang  sungai banyak terdapat pohon besar. Anak-anak kampung biasa mengambil ranting-ranting kering yang sudah terjatuh dari pohonnya.

Kami berdua menuju pinggir sungai melewati jalan yang curam. Sebagai teman yang bertanggung jawab, Muryono berjalan di depan. Aku mengikuti dari belakang sambil mengikuti arahannya. Meskipun jalanan terjal dan berbahaya, sesekali kami bersendau gurau. Yang kami hindari adalah daun bambu yang kering. Daun bambu bisa membuat terpeleset karena daun itu licin jika diinjak. Sampailah kami melewati jalan yang sulit dan berbatu. Muryono berjalan terlebih dahulu dengan menuruni jalan berbatu. “Hati-hati!” ucapku sambil menatap langkahnya. Aku yakin dia pasti bisa melewati karena Muryono dikenal sebagai orang yang cekatan. Aku kaget, sepertinya ada yang mendorong dari belakang. Aku jatuh di jalanan terjal itu. “Tolong!” teriakku sekencang-kencangnya.

Aku takut sekali. Tapi anehnya posisiku bisa terlipat dan membentuk lingkaran. Dengan posisi itu aku terguling dan berputar-putar. Untunglah badanku menabrak serumpun bambu. Kalau tidak mengenai serumpun bambu itu, badanku terjatuh ke jurang yang curam dan bawahnya berbatu. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi, jika tubuhku benar-benar jatuh ke jurang itu. Aku masih sadar dan kupegangi tubuhku. Tidak ada yang terluka sedikitpun, hanya jari tengah kananku yang terkilir. Aku duduk termangu sambil berucap syukur kepada Tuhan atas perlindungannya.

“Kamu tidak apa-apa, kan?” tanya Muryono yang tiba-tiba sudah berdiri di depanku. “Tidak apa-apa, hanya jari yang terkilir.”jawabku sambil memegang jari. Kupandangi seluruh tubuh Muryono. Ternyata tangan dan kakinya penuh dengan berdarah. Aku baru tersadar, ketika aku jatuh dia berusaha keras untuk menolongku. Usaha itulah yang membuatnya terluka. Aku sangat terharu dengan peristiwa itu. Semakin aku menghormatinya. Temanku sungguh sangat baik sekali. Dia tidak mempedulikan badannya sendiri demi menolongku yang ia anggap sebagai teman.

“Tangan dan kakimu berdarah, kamu sakit ya?” tanyaku dengan suara lirih. “Sudah, tidak apa-apa kok. Kita cari pucuk daun petai cina untuk mengobati luka-luka ini,” katanya dengan suara mantap. Tanganya terulur untuk mengajakku berdiri. Kami segera mencari parang yang terpental. Usaha itu tidak terlalu lama dan parang segera ketemu. Kebetulan sekali tidak jauh dari tempat itu terdapat pohon petai cina. Kami berdua memetik pucuk daunnya. Muryono menguyah daun dan ditempelkan ke luka-luka di tangan kakinya. Kami segera mencari kayu bakar meskipun sebenarnya jariku terasa sakit sekali.

Akhirnya terkumpul kayu bakar dan kami bawa pulang dengan membawa cerita kenangan yang tak pernah kulupakan. Sebuah peristiwa yang selalu mengusik perasaanku. Pengalaman kecil dalam perjalanan hidup namun sarat dengan makna. Dari mulutnya tidak pernah terucap pengorbanan, kesetian, dan kata-kata lain tentang nilai-nilai hidup. Dari tindakan-tindakannya aku mengerti bahwa dia sangat setia dan berkurban untuk sebuah persahabatan.

Liburan Keluarga ke Bali

LIBURAN KELUARGA KE BALI

Pura Ulun Danu

Pura Ulun Danu

Bahagia rasanya bisa berlibur bersama keluarga. Apalagi jika liburan ini ke tujuan yang sangat terkenal sampai ke penghujung dunia. Bali, ya pulau yang terkenal dengan sebutan “Pulau Dewata”. Ada juga yang menyebut “Pulau Seribu Pura”. Namun akhir-akhir ini sebutannya sudah berubah menjadi “Pulau Seribu Hotel”

Kami berangkat dari Bandara Sukarno Hatta tepat hari Senin, 22 Desember 2014. Pesawat yang kami pilih untuk mengantar ke Bali adalah Pesawat Garuda. Tidak menyesal kami memilih Pesawat Garuda. Fasilitasnya sungguh sangat mewah dan pesawatnya besar. Sekitar pukul 12.00 WITA kami sampai di Bandara Ngurah Rai. Pak Siswanto sebagai tour guide sudah siap sedia  di pintu kedatangan. Tangan yang terampil segera membawa tas yang kami bawa. Sambutan yang ramah mengajak untuk segera naik ke mobilnya. Mobil melaju pelan di tengah keheningan malam Pulau Bali. Tanpa terasa mobil sudah sampai di depan Hotel Grandmas. Hotel tempat kedua anakku untuk pertama kalinya menginap di hotel. Mengingat besok akan melakukan kegiatan yang padat, segera kami merebahkan diri untuk istirahat.

Suasana Hotel Grandmas

Suasana Hotel Grandmas

Hari Pertama (Selasa, 23 Desember 2014)

Hari pertama kami bangun pagi-pagi meskipun semalam tidur sekitar pukul 01.00. Setelah mandi dan bersiap-siap, kami turun ke lobby hotel untuk sarapan pagi. Makanan yang dihidangkan cukup sederhana, namun dari segi rasa dan kebersihan tidak mengecewakan. Perut sudah terasa kenyang, kami segera menunggu tour guide di depan hotel.

Hotel  Granmas terletak di jalan raya Kuta, sebuah tempat yang sangat strategis. Tidak jauh  dari hotel terdapat tempat penjualan souvenir Joger. Hotelnya sederhana, namun bersih dan nyaman untuk suasana liburan. Orang akan terkesan dengan keberadaan kamar dan pelayanannya.

Keluar dari lobby ternyata Pak Siswanto sudah siap mengantar kami untuk berkeliling Bali. Tempat yang kami kunjungi di hari pertama adalah Tanjung Benoa. Merasa cukup puas di Tanjung Benoa, perjalanan diteruskan dengan menikmati pantai di daerah Nusa Dua. Di pantai Nusa Dua kami hanya berfoto-foto di sekitar pantai. Maklum tengah hari, jadi terik matahari cukup menyengat tubuh.

Pantai Nusa Dua

Pantai Nusa Dua

Puas jalan-jalan di pantai Nusa Dua, perut sudah menanti untuk diisi. Pak Siswanto mengantar kami ke rumah makan khas Bali.  Rumah makan Pak Dobiel yang cukup dikenal bagi para wisatawan. Menu khas Bali dengan nasi lawar dan sop babi. Wow.. lezat sekali.  Jika searching di internet, warung Pak Dobiel akan mudah ditemukan.

Puas dengan makan siang perjalanan berikutnya adalah Pantai Pandawa. Sebuah pantai yang sangat bersih dan alami. Perlu diketahui, Pantai Pandawa dibangun secara swadaya oleh masyarkat setempat. Sebuah kearifan lokal untuk mengembangkan ekonomi rakyat secara mandiri dan tidak bergantung pada pemilik modal. Sesuai dengan namanya, di Pantai Pandawa terdapat patung lima tokoh pandawa, yaitu Darmawangsa (Yudistira), Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa. Namun sayang patung Sadewa belum terpasang karena belum selesai pengerjaannya. Patung diletakkan di gua yang semakin menambah daya tarik keindahan pantai.

Pantai Pandawa

Pantai Pandawa

Tempat lain yang kami kunjungi adalah  Pantai Padang-padang atau lebih dikenal dengan Dreamland. Eksotik dan mempesona, tempat ini merupakan surga bagi peselancar. Yang tidak kalah menarik untuk sampai tempat ini harus melewati jalan sempit di antara tebing bebatuan. Di pantai ini kedua anakku puas bermain ombak. Di samping bermain ombak, kedua anakku menyusuri  bongkahan batu yang menyebar di bibir pantai.

Dreamland

Dreamland

Meninggalkan Dreamland perjalanan di lanjutkan ke Pura Ulu Watu. Sebuah tempat sembahyang yang dianggap sakral bagi penduduk Bali. Pura ini khas dengan monyetnya. Para pengunjung diwajibkan untuk melepaskan kacamata. Kalau masih nekat memakai kacamata maka monyet-monyet itu akan merebutnya. Para penjaga pura yang bisa mengambil kembali barang yang direbut oleh monyet. Pura Ulu Watu terletak di penghujung selatan Pulau Bali dan berhadapan langsung dengan Samudera Hindia.

Ulu Watu

Ulu Watu

Rasanya tak ingin meninggalkan Ulu Watu, namun waktu sudah beranjak sore. Hari itu Pak Siswanto mengajak kami makan malam di tempat yang sangat terkenal di Bali. Jimbaran, sebuah tempat makan beratap langit di tepi pantai dengan diiringi deburan ombak yang menambah suasana semakin berkesan. Menu ikan bakar dan minuman es kelapa muda menambah rasa syukur kepada Tuhan atas nikmat yang kami rasakan pada hari ini.

Makan malam di Jimbaran sambil menikmati sunset

Makan malam di Jimbaran sambil menikmati sunset

Syukur yang tiada terkira dengan menu makan yang sungguh istimewa dan di tempat yang luar biasa. Tak terasa senja telah lewat dengan kenangan yang tak terlupakan. Hari ini sungguh sangat berkesan. Kami kembali ke hotel untuk beristirahat dan mempersiapkan diri untuk hari berikutnya.

Hari kedua (Rabu, 24 Desember 2013)

Suasana pagi membangunkan kami. Segera bergegas untuk mandi dan menikmati sarapan pagi di hotel. Sarapan pagi sebagai penambah energi untuk aktivitas hari ini. Selesai sarapan kami berkemas barang-barang. Hari ini kami akan pindah hotel. Sebelum penjelajahan hari kedua, Pak Siswanto mengantar kami ke Hotel Tusita untuk menitipkan barang.

Tas dan barang sudah kami titipkan di hotel, maka kami siap memanjakan mata untuk menikmati Pulau Dewata. Tempat yang kami kunjungi adalah Pura Tanah Lot. Sayang sekali hari ini keadaan laut sedang pasang naik. Kami tidak bisa mendekat ke Tanah Lot. Waktu kami gunakan untuk mengabadikan kenangan di Tanah Lot dengan berfoto ria. Tak lupa jagung bakar manis dan pedas kami beli dari pedagang di sekitar pura.

Tanah Lot

Tanah Lot

Meninggalkan Tanah Lot, perjalanan dilanjutkan ke Pura Ulun Danu. Perjalanan cukup panjang sekitar dua jam. sebelum sampai di Pura Ulun Danu, kami singgah untuk santap siang di Restoran Pacung. Restoran dengan pemandangan pegunungan yang mempesona. Kenikmatan makanan bertambah ketika menyantap makanan sambil memandang panorama pegunungan nan elok.

Pura Ulun Danu sangat terkenal di Bali. Pura inilah yang terdapat pada uang kertas Rp 50.000,00. Namun sayang, belum puas rasanya menikmati Pura di tepi Danau Berantan gerimis mulai turun. Kami segera ke mobil dan melanjutkan perjalanan kembali ke daerah Kuta.

Pura Ulun Danu

Pura Ulun Danu

Sampai di daerah Kuta, tidak lengkap rasanya ke Bali kalau tidak mampir ke Joger. kami beli kaos sebagai oleh-oleh untuk keluarga di Jogja. Keluar dari  Joger, langsung ke warung nasi pedas khas Kuta untuk makan malam. Makanan yang cukup murah namun sangat berkesan bagi Ari anak pertamaku. Jika mendengar nasi pedas, Ari selalu teringat nasi pedas di Kuta.

Malam itu kami ke Hotel Tusita yang terletak di Jalan Kartika Plaza. Hotel ini kami pilih karena terletak dekat di Gereja Santo Fransiskus Xaverius. Dari hotel cukup jalan kaki menuju ke gereja. Hari ini kami akan misa malam Natal pada pukul 10.00 WITA. Bersyukur rasanya bisa mengikuti misa Natal di Pulau Dewata. Syukur kami panjatkan pada Tuhan atas semua kelimpahannya. Selesai misa dan mengirim ucapan lewat SMS kami segera istirahat. Selamat malam dan selamat Natal aku ucapkan kepada kedua anakku dan istriku.

Hari Ketiga (Kamis, 25 Desember 2015)

Pagi-pagi  HP berdering penuh dengan SMS  ucapan Natal. Saya membalas satu per satu ucapan Natal. Kedua anakku sudah siap dengan baju renang. Aku antar anakku ke kolam renang yang terletak di tingkat paling atas. Bahagia rasanya bisa melihat kebahagiaan kedua buah hatiku.

Menikmati Kolam renang Hotel Tisuta di pagi hari

Menikmati kolam renang Hotel Tusita di pagi hari

Selesai mandi, sarapan, dan beres-beres kami segera check out dari hotel. Kami menuju pusat oleh-oleh Krisna. Di tempat perbelanjaan tersebut kami membeli beberapa makanan khas Bali dan kaos barong. Oleh-oleh yang dibeli terasa cukup kami lanjutkan ke Museum Perjuangan Rakyat Bali. Bagi orang lain, museum merupakan tempat yang tidak menarik. Lain bagi anak saya, museum merupakan tempat yang sangat mengasyikkan. Kedua anakku sangat menyukai sejarah dan benda-benda peninggalan masa lampau.

Berkunjung ke Museum Perjuangan Rakyat Bali

Berkunjung ke Museum Perjuangan Rakyat Bali

Merasa senang melihat diorama dan benda-benda di museum, kami segera menuju Warung Liku untuk makan siang. Warung Liku terletak di gang sempit. Meskipun terletak di gang sempit namun tempat ini sangat dikenal oleh para wisatawan. Ayam betutu adalah menu andalannya. Tempat ini juga menyediakan bungkusan ayam betutu masakan khas Bali. Kami membawa satu bungkus ayam betutu untuk oleh-oleh.

Sebelum meninggalkan Bali, waktu kami habiskan untuk menikmati pantai di daerah Kuta. Duduk santai sambil memandangi laut sebelum meninggalkan pulau yang katanya termasyur sampai ke manca negara. Pukul 16.00 WITA kami menuju ke Bandara Ngurah Rai. Sampai di Ngurah Rai kami berpamitan kepada Pak Siswanto yang sudah setia mengantar kami. Kami segera menuju Yogyakarta, anakku sudah tidak sabar untuk berkunjung ke rumah Eyang Putri dan Simbah Putri  di Jogja dengan membawa sejuta cerita. Terima kasih Tuhan atas kenikmatan yang Engkau anugerahkan dalam liburan Natal tahun 2014. Terima kasih Bali. Terima kasih Pak Siswanto.

Baju Imlek Meilan

BAJU IMLEK MEILAN

BAJU IMLEK

““Tok, tok, tok … ! terdengar suara pintu diketuk. Mama Lien yang sedang memasak di dapur segera berjalan menuju pintu, membukanya. Meilan, gadis berusia 10 tahun, baru saja kembali dari sekolah. Ia masuk ke dalam rumah tanpa mengucap salam kepada Mama Lien. Kedua matanya tampak tampak sembab memerah, pipinya tampak basah, dan wajahnya tampak kusut. Ia berjalan ke kamar dengan lesu, lalu membantingkan tubuhnya di atas ranjang. Mama Lien mendekatinya, hati Mama Lien dipenuhi rasa khawatir dan heran.

“Meilan, kenapa kamu menangis?” tanya Mama Lien dengan suara lembut. Meilan tidak menghiraukan mamanya, ia terus terisak-isak menangis.

“Ceritakan saja ke mama,” bujuk mama sambil memeluk anak semata wayangnya. Meilan menghindar dari pelukan mamanya. Ia tampak marah.

“Mama, mengapa aku tidak dibelikan baju Imlek. Aku ingin sekali mengikuti lomba menyanyi,” jawab Meilan dengan membentak dan wajah yang terlihat kesal.

Mama Lien tersentak mendengar bentakan Meilan. Belum pernah ia mendengar putri terkasihnya bicara sekasar itu kepadanya.

“Kamu tidak boleh membentak Mama, Nak. Itu dosa besar Meilan. Bicara saja baik-baik, maka Mama akan mendengarkanya,” tegur Mama Lien dengan agak sedikit terkejut.

“Aku kesal, Mama. Mengapa aku tidak dibelikan baju Imlek, sedangkan semua anak di sekolahku dibelikan? Aku akan mengikuti lomba menyanyi. Jika aku tidak memakai baju maka aku tidak akan pernah menang!” seru Meilan dengan nada kasar. Ia merasa kecewa terhadap mamanya yang tidak mendukungnya untuk mengikuti lomba menyanyi di perayaan Imlek.

Mama Lien menghela napas panjang. Sebetulnya ia sangat marah dengan sikap Meilan. Namun, ia menahan emosinya dengan kesabaran karena ia begitu menyayangi Meilan.

“Kamu harus mengerti keadaan keluarga kita, Nak. Kita bukan keluarga yang mampu seperti teman-temanmu. Semenjak Papa meninggal, Mama bekerja seorang diri demi menghidupi kamu. Gaji Mama yang tidak seberapa hanya cukup untuk makan sehari-hari serta untuk biaya sekolah kamu. Tahun lalu kamu sudah Mama belikan baju Imlek. Tahun ini Mama tidak mepunyai uang untuk membelikamu baju Imlek.” jelas Mama Lien dengan suara perlahan.

Meilan diam saja, kepalanya tertunduk. Ia memhami penjelasan mamanya. Ia raih tubuh mamanya. Ia peluk erat serasa tak mau melepaskan ubuh mamanya. Ia teringat masa-masa ketika papanya masih hidup. Mamanya tampak cantik dan bersih. Kini tubuhnya tampak kurus dan kurang terawat karena harus bekerja keras demi untuk menghidupi dirinya. Meilan merasa berdosa terhadap mama tersayang.

“Maafkan Aku mama,” ucap Meilan sambil masih terisak-isak. Mamanya tidak menjawab. Mama Lien hanya mengusap wajah Meilan sebagai tanda maaf untuk Meilan.

Kini Meilan sangat mengetahui keadaan mamanya, tetapi ia ingin sekali memenangkan perlombaan menyanyi di sekolahnya. Meilan menemui Itje sahabat dekatnya. Ia ceritakan keadaan dirinya kepada sahabatnya. Meilan mendengarkan keluh kesah sahabatnya dengan penuh perhatian.

“Meilan, Aku punya ide,” kata Itje dengan penuh semangat.

“Ide apa Itje,” sahut Meilan dengan wajah tak sabar.

“Bagaimana kalau kita membantu menjual kue mamaku,” jawab Itje dengan penuh semangat.

“Maksudnya bagaimana Itje?” tanya Meilan dengan wajah kebingungan.

“Begini Meilan, Mamaku membuat kue untuk disetor ke warung. Saya akan minta mama membuat kue lebih banyak lagi. Kita akan menjualnya dan untungnya kita gunakan untuk membeli baju Imlek,” jelas Itje. Meilan sangat setuju dengan usul Itje. Ia sangat berterima kasih kepada sahabat dekatnya.

Itje menceritakan segala hal tentang Meilan kepada mamanya. Mama Itje menyetujui usul putrinya. Mulai hari Minggu, Meilan dan Itje berkeliling untuk menjajakan kue. Hari pertama jualan mereka mendapatkan keuntungan sepuluh ribu rupiah.

“Kok kita, hanya untung kecil Itje, untuk membeli baju belum cukup,” keluh Meilan dengan suara lembut.

“Tenang Meilan, kita harus bersemangat dan mempunyai daya juang. Kita tidak boleh menyerah. Masih banyak waktu,” seru Itje sambil menepuk pundak Meilan.

Setiap pulang sekolah Meilan dan Itje selalu menjajakan kue dari rumah ke rumah. Meilan sengaja tidak memberitahukan kegiatan itu kepada mamanya. Ia ingin memberi kejutan pada mamanyaSetelah berhari-hari dua sahabat itu berjualan, akhirnya terkumpul uang untuk membeli baju. Meilan dan Itje pergi ke toko baju. Meilan memilih sendiri baju sesuai dengan seleranya. Baju yang diharapakan sudah didapat, Meilan dan Itje pulang dengan bergandengan tangan. Dua sahabat itu sangat senang dengan usaha keras yang mereka perjuangkan. Kini tinggal satu langkah lagi untuk memenangi lomba menyanyi.

Hari Imlek telah tiba. Hari itu Meilan berangkat dengan memaka seragam. Meilan sengaja tidak memakai baju Imlek dari rumah. Ia ingin memberi kejutan pada mamanya. Meilan mohon pamit pada mamanya. Mamanya mencium Meilan. Mama Lien berkaca-kaca karena tidak bisa memenuhi harapan putrinya. Lomba segera dimulai. Giliran Meilan maju ke depan. Ia sangat bagus menyanyikan lagu. Semua penonton bertepuk tangan ketika Meilan mengakhiri lagunya. Pada saat pengumuman, Meilan mendapatkan juara kedua. Meilan merasa senang meskipun ia tidak mendapatkan juara pertama. Dihampiri Itje sahabat karibnya. Ia peluk kuat Itje. Mereka berdua menangis penuh keharuan.

Mama Lien sedang mencuci piring di dapur. Ia kaget karena dari belakang Meilan berteriak memanggil namanya. Belum sempat menjawab panggilan Meilan, ia tertegun penuh heran melihat Meilan memakai baju Imlek dengan memegang piala.

“Mama, aku menang lomba. Baju ini aku beli dari keuntungan menjual kue bersama dengan Itje. Piala ini aku berikan untuk Mama,” ucap Meilan dengan perasaan haru. Mama Lien hanya dapat menangis haru sambil memeluk Meilan. Mama Lien sangat bangga kepada Meilan putri kesayangannya.

Go Green

GO GREEN

Peyang dan Panjul adalah dua sahabat yang sedang menuntut ilmu di tingkat SMA. Kedua anak tersebut sudah mempunyai pacar. Suatu hari mereka terlihat asyik ngobrol membicarakan tentang lokasi pacaran.

Peyang :”Njul, kalau kamu pacaran, biasanya di mana?”

Panjul :”Kalau saya sig anak zaman sekarang, kalau aku pacaran di kafe, pergi ke mall, dan tempat yang keren-keren lainnya.”

Peyang :”Wah…… itu mah biasa”

Panjul : “Lha kalau kamu pacaran biasanya di mana?”

Peyang : “Kalau saya pacaran sesuai dengan anjuran Kementrian Lingkungan Hidup ‘Go Green’.”

Panjul : “Hebat..keren abis… Lalu di mana pacarannya?”

Peyang : “Tempat yang alami dan memberi kesan “Go green” seperti ; di semak-semak dan di bawah pohon.”

Panjul : ” Oooo….. kalau itu bukan “go green” tetapi itu namanya nggak modalllll………….”

Nyanyi

NYANYI

Suatu hari, Bu Menik mengikuti arisan ibu-ibu RT bersama putri tercintanya Krosak. Tiba-tiba, Krosak meminta ijin pada Bu Menik untuk pipis karena sudah kebelet. Tentu saja Bu Menik merasa tidak nyaman dengan ibu-ibu sesama anggota arisan. Ibu menik menasihati Krosak jika ingin minta ijin pipis.
Bu Menik : “Krosak, Jika kamu ingin ijin pipis maka kamu harus bilang ‘Bu aku ingin nyanyi.'”
Krosak : “Baik Bu, besok kalau aku mau pipis aku mau bilang mau nyanyi”.
Pada waktu liburan Krosak pergi berlibur ke rumah neneknya. Lewat tengah malam Krosak ingin pipis. Ia ingat akan nasihat ibunya, maka ia minta ijin ke neneknya.
Krosak : “Nek, aku ingin nyanyi.”
Nenek : “Malam-malam kok nyanyi, nanti mengganggu tetangga”
Krosak : “Nek, aku sudah nggak tahan ingin nyanyi”
Nenek : “Ya sudah, kalau ingin nyanyi tempel ke telinga nenek.”
Krosak : “Betul Nek”
Nenek : ” Betul…. tempel aja, nggak usah ragu-ragu”
Krosak : “Currrr…………………….. basah deh”
Nenek : “???????? ……..”

Previous Older Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.