Perhitungan Memulai Membuat Rumah Menurut Primbon

PERHITUNGAN MEMULAI MEMBUAT RUMAH MENURUT PRIMBON

Sumber : www.wonosari.com

Sumber gambar : http://www.wonosari.com

Rumah merupakan istana bagi pemiliknya.  Agar rumah benar-benar merupakan istana bagi pemiliknya dan orang yang menempati rumah tersebut bisa nyaman dan hidup sejahtera maka  para leluhur banyak memberikan cara dan petuah. Menurut para leluhur orang Jawa, hari dan pasaran ketika memulai pembuatan rumah sangat berpengaruh terhadap keadaan rumah yang akan ditempati. Berikut perhitungan cara menentukan hari pertama kali memulai pembuatan rumah berdasarkan Primbon Betaljemur Adammakna.

Perhitungan neptu hari berbeda dengan perhitungan neptu hari  pada umumnya.

Neptu hari 

Minggu,   neptu   6

Senin,          ”        4

Selasa,         ”        3

Rabu,           ”        6

Kamis,         ”        5

Jumat,          ”      7

Sabtu,          ”        8

Neptu  pasaran

Kliwon,      neptu      8

Legi,               ”          5

Pahing,         ”           9

Pon,               ”          7

Wage,            ”          4

Cara Perhitungannya ;

Neptu hari dan neptu pasaran akan dimulainya membuat rumah dijumlah, hasil penjumlahannya kemudian dibagi 4, dan sisa berapa.

Jika sisa 1 disebut Guru

Jika sisa 2 disebut Ratu

Jika sisa 3 disebut Rogoh

Jika sisa 4 disebut Sempoyong

 

Catatan ;

a.  Guru artinya pemiliknya akan dihormati,  mendapatkan jalan untuk rejekinya

b.  Ratu artinya jauh dari niat jahat dan  dekat keberuntungannya.

c.  Rogoh artinya rumah sering dibobol maling.

d.  Sempoyong artinya sering menderita kesusahan dan pemiliknya sering sakit.

 

Contoh perhitungan

Pak Sarimin ingin memulai membuat rumah pada hari  Senin Pon. Perhitungannya adalah Senin Pon (4 + 7 = 11). kemudian angka  11 : 4 = 2 sisa 3. Sisa 3 jatuh pada perhitungan Rogoh  artinya Hari Senin Pon tidak baik bagi Pak Sarimin untuk memulai pembuatan rumah.

Dusun Pojok, Sendangagung

Sebuah dusun yang sederhana dengan pemandangan  sawah dan pepohonan yang menghijau. Sesekali terdengar kicauan burung yang menambah suasana semakin riang.  Di jalan dusun yang sederhana nampak  petani yang memanggul cangkul sambil mengayuh sepeda kesayangannya. Simbok-simbok tampak menggendong  hasil bumi dan hasil kerajinan untuk dibawa ke pasar. Itulah sekelumit suasana Dusun Pojok yang terletak di pinggiran sungai.

Dusun Pojok termasuk ke dalam wilayah Desa Sendangagung, Kecamatan Minggir,  Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Secara geografis, Dusun Pojok adalah dusun yang termasuk wilayah paling barat di Kabupaten Sleman. Di sebelah barat dusun terdapat sungai Progo yang  merupakan batas antara wilayah Kabupaten  Sleman dengan wilayah Kabupaten Kulon Progo.

Melihat keberadaannya, dusun ini menjadi istimewa dibandingkan dengan dusun yang ada di sekitarnya. Dikatakan sebuah keistimewaan karena ada beberapa catatan yang patut dibanggakan oleh warga Dusun Pojok. Berikut adalah catatan tentang Dusun Pojok yang menjadikan dusun ini sangat berperan bagi masyarakat di sekitarnya.

Kerajinan Parut

Mendengar kata “parut”, bagi masyarakat yang tinggal di Kecamatan Minggir pasti akan menghubungkan dengan Dusun Pojok. Anggapan masyarakat bahwa kata “parut” sangat identik dengan nama “Pojok” tidak salah karena di dusun ini memang banyak warga yang mempunyai mata pencaharian sebagai pengrajin parut. Bahkan anak kecilpun banyak yang sudah terampil untuk membuat parut. Hasil kerajinan dijual ke pasar desa dan  parut yang terkumpul pada pedagang didistribusikan ke seluruh penjuru Yogyakarta, bahkan sampai juga ke beberapa daerah di Jawa Tengah dan Jawa Barat. Dengan demikian warga masyarakat Dusun Pojok turut berperan banyak dalam pengadaan alat yang dapat membantu pekerjaan ibu-ibu rumah tangga.

Pusat Pemerintahan

Pusat pemerintahan  Kecamatan Minggir atau Kantor Camat Minggir berada di wilayah Dusun Pojok. Mengapa pusat pemeritahan kecamatan berada di wilayah ini?  Kemungkinan jawabannya  jika ditinjau dari segi historisnya karena wilayah Pojok dulunya merupakan pusat penerintahan zaman Kolonial Belanda di wilayah barat Kabupaten Sleman. Jika ditilik dari tata letak sebenarnya letak kecamatan berada di wilayah pinggiran sedangkan  wilayah kecamatan Minggir ada yang dekat dengan jalan ke arah Jogja yang lebih strategis dan lebih dekat dengan wilayah kecamatan yang lain.

Kantor Kecamatan Minggir

Kantor Kecamatan Minggir

Pusat Kegiatan Ekonomi di  Daerah Sendangagung.

Di wilayah Dusun Pojok terdapat beberapa tempat perbelajaan yang terdiri dari pasar, warung makan, dan toko-toko. Pasar Kebonagung yang merupakan pasar desa Sendangagung terletak di Dusun Pojok. Toko-toko seperti swalayan kecil dan toko yang terdiri dari toko sembako, toko bangunan, toko pakan ternak, toko mebel, toko mainan, dan toko alat-alat kantor sebagian besar berada di Dusun Pojok. Ada beberapa warung makan yang ada di dusun ini berupa warung makan yang menyediakan makanan seperti warung bakso, warung nasi, warung mie ayam, dan warung tongseng.

Tempat Ibadat

Tidak seperti dusun lain yang hanya mempunyai satu tempat ibadat, Dusun pojok memiliki tiga tempat ibadah dari tiga agama yang berbeda. Tempat ibadat yang pertama  adalah Gereja Kristen Jawa (GKJ) Kebonagung yang merupakan tempat ibadat bagi umat Kristen Jawa. Kedua adalah Gereja Yohanes Chrisostomus yang merupakan tempat ibadah bagi  umat Katolik di wilayah Desa Sendangagung dan sekitarnya. Ketiga adalah Masjid Al Munir sebagai rumah ibadat bagi umat muslim.

GKJ Kebonagung Sumber : www.gkj.or.id

GKJ Kebonagung
Sumber : http://www.gkj.or.id

Tempat Pendidikan

Di Dusun pojok terdapat dua sekolah di tingkat dasar dan menengah. Tempat pendidikan itu adalah SD dan SMP Sanjaya. Namun sayang, SMP Sanjaya sekarang tidak beroperasi lagi  dikarenakan banyak warga Sendangagung yang bersekoalah di SMP Negeri. Padahal banyak sudah alumnus yang pernah mengenyam pendidikan di SMP Sanjaya.

SD Kebonagung

SD Kebonagung

Peninggalan Sejarah.

Di Dusun Pojok terdapat tiga peninggalan sejarah yang terdiri dari tiga masa yaitu masa Kolonial Belanda, zaman pendudukan Jepang, dan zaman perang kemerdekaan. Peninggalan Belanda berupa bangunan loji yang digunakan untuk kantor kecamatan, gedung sekolah SD Kebonagung, bangunan Pasar Kebonagung, dan tempat permandian yang disebut “Sendang Mudal”. Peninggalan masa pendudukan Jepang adalah sebuah Goa yang dikenal dengan sebutan “Goa kendil”. Sedangkan peninggalan  zaman perang kemerdekaan adalah Monumen Pojok dan Gedung Serba Guna. Monumen Pojok adalah tugu pengingat perang antara Laskar Rakyat yang merupakan warga Sendangagung dengan Belanda. Perang antara Laskar Rakyat dengan Belanda ini terjadi di Dusun Pojok pada tanggal 2 April 1949.

 Fasilitas Umum

Fasilitas umum warga Desa Sendangagung yang berada di wilayah Dusun Pojok adalah lapangan Kebonagung yang merupakan lapangan yang digunakan untuk olah raga dan kegiatan lain yang digunakan secara massal. Fasilitas yang lain adalah fasilitas komersial berupa kolam renang dan tempat pemancingan yang dikenal dengan nama Sendang Kreo,. Tempat ini  letaknya tidak jauh dari jembatan Kebonagung.

Kolam Renang

Kolam Renang

Sarung

Ibu-ibu di sebuah komplek perumahan parajurit sedang mengadakan acara arisan. Mereka berbicara ngalor ngidul tentang kehidupan keseharian mereka. Sampai-sampai mereka membicarakan suami masing-masing yang berprofesi sebagai seorang parajurit. Mereka heran kepada Bu Kepet yang suaminya selalu betah di rumah dan tidak keluyuran seperti suami-suami yang lain.
Bu Tepas : “Jeng Kepet, apa sih rahasianya. Kok, suaminya betah di rumah.”
Bu Kepet : “Nggak ada rahasianya, kok!”
Bu Tepas : “Ayolah. Tolong kasih tahu rahasianya.”
Bu Kepet : “Itu bu, setiap pulang dinas, semua celana panjangnya saya simpan sehingga dia tak bisa pergi ke manapun dengan celana pendek.”
Bu Tepas : “Oo… itu to rahasianya.”
Tiba-tiba Bu Kipas yang sudah menjanda selama tiga tahun nyeletuk : “Ooo.. pantes suami ibu selalu pakai sarung kalau datang malam-malam ke rumah saya.”
Bu Kepet : “What ……….. Tak krues-krues kamu.”
Bu Tepas : “Wkwkwkwk… sudah di sembunyiin celana panjangnya, eee,,,, perginya malem-malem pakai sarung.”

Sepak Bola

Saat latihan sepak bola di kampung Jemek, terjadi perbincangan antara pelatih dan anak didiknya. Keduanya berselisih pendapat tentang sepak bola. Si Ledrek sang pelatih sangat kwalahan menghadapi Si Lonyot anak didiknya.
Lonyot : “Pak, yang terpenting dalam permainan sepak bola itu apa?”
Ledrek : “Teknik permainannya”
Lonyot : “Salah”
Ledrek : “Strategi pelatih”
Lonyot : “Salah”
Ledrek : “Kekompakannya”
Lonyot : “Salah”
Ledrek : “Lalu yang betul apa Lonyot?”
Lonyot : “Yang terpenting adalah kolor celana pemainnya?”
Ledrek : “Lho, kok kolor celananya”
Lonyot : “Coba kolor pemainnya putus semuanya, apa semua nggak sibuk memegangi celananya, jadi gimana mainnya bisa bagus kalau sibuk dengan celananya”
Ledrek : “Ooooooo…….. Modus”

kolor melorot

Hukuman Mencukur Rambut

Guru kelas 12 SMA Kimpulgendruk menemukan 4 anak laki-laki yang mencuri di kelas. Pak guru akan menghukum keempat anak tersebut sesuai dengan barang yang dicuri. Keempat anak tersebut dijejer di depan kelas supaya teman-temannya melihat hukuman apa yang akan dikenakan.
Pak Guru : “Murid ke-1, kamu mencuri apa?”
Murid 1 : “Saya mencuri topi, Pak!”
Pak Guru : “Sebagai hukuman kamu harus mencukur rambut kepalamu karena kamu mencuri topi sebagai penutup rambut”
Pak Guru : “Murid ke-2, kamu mencuri apa?”
Murid 2 : “Saya mencuri masker, Pak!”
Pak Guru : “Hukumannya kamu harus mencukur kumismu karena kamu mencuri masker yang juga menutupi kumis
Pak Guru : “Murid ke-3, kamu mencuri apa?”
Murid 3 : “Saya mencuri Kalung, Pak!”
Pak Guru : “Hukuman untukmu, kamu harus mencukur bulu dadamu karena kamu mencuri kalung yang biasanya sampai di dada.”
Pak Guru : “Murid ke-4, kamu mencuri apa?”
Murid 4 : “Saya mencuri celana, Pak!”
Murid-murid perempuan : “Takuuuuuut ………………….”

Acara

Mas Tambir adalah seorang bujangan yang mempunyai hoby jalan-jalan. Minggu depan, Mas Tambir membuat jadwal yang suku kata terakhirnya disesuaikan dengan suku terakhir pada nama hari.
Hari Senen : Acaranya ke gunung untuk makan duren (senen = duren)
Hari Selasa : Pergi Museum purbakala (Selasa = purbakala)
Hari Rabu : Keliling desa untuk memotret pembuatan sagu. (Rabu = sagu)
Hari Kamis : Menerbangkan layang-layang di pantai Parang Tritis (Kamis = Parang Tritis)
Hari Jumat : Shooting di kuburan keramat (Jumat = keramat)
Hari Sabtu : Memesan perhiasan dari batu (sabtu = batu)
Hari Minggu : Mengarungi laut dengan perahu (Minggu = perahu)
Acara dari Senen sampai Sabtu berjalan sesuai dengan rencana. Pada hari Minggu ia gusar karena perahu wisata yang ia sewa membatalkan karena ada kerusakan. Karena acara gagal padahal tinggal satu hari Tambir sangat sedih. Di tengah kesedian, kakinya terantuk batu dan kecebur ke laut. Tak lama kemudian ikan hiu segara mencaploknya. Sebelum ditelan hiu, Tambir berucap : “Yes…Yes…..Yes…. Acaraku sempurna lengkap satu minggu. Hari Minggu dicaplok ikan hiu. (Minggu = Hiu).”
Setelah selesai berucap tubuhnya langsung masuk ke perut ikan.

(Wkwkwkwkwk…. Kesuksesan acara lebih bergharga dibanding nyawanya)

Anak Sendiri

Pak Pulut dan istrinya yang bernama Bu Getah mempunyai 4 orang anak perempuan. Tiga anak semuanya cantik-cantik, tetapi anak yang keempat tidak cantik seperti kakaknya. Bisa dikatakan antara bumi dengan langit. Suatu saat, Bu Getah sakit keras.Ternyata Pak Pulut menyimpan pertanyaan besar selama ini tentang anak keempat yang berbeda sendiri. Untuk menjawab penasaran selama ini, Pak Pulut bertanya kepada istrinya yang tidak lama lagi meninggal dunia karena menurut medis tidak dapat ditolong lagi.
Pak Pulut : “Bu, sebelum Ibu pergi selamanya. Saya mau bertanya agar saya tidak penasaran.”
Bu Getah : “Silahkan Pak, saya akan menjawab dengan sejujur-jujurnya agar jiwaku kelak menjadi tenang.”
Pak Pulut : “Sebenarnya, anak kita yang keempat itu anak siapa, Bu? Dia lain dengan ketiga kakaknya.”
Bu Getah : “Anak itu anak kita berdua Pak?”
Pak Pulut : “Syukur….. Maafkan aku, Bu. Aku sudah menduga yang tidak-tidak kepadamu.”
Bu Getah : ” Tetapi Pak, Ketiga anak yang cantik-cantik adalah bukan anak Bapak. Tetapi anakku dengan orang lain.”
Pak Pulut : ” Haaaa………. Ternyata anakku yang sebenarnya yang paling jelek. Ooo …. Keronto-ronto…. “

Previous Older Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.